Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Sabtu, 07 April 2012

Dakwah Islamiyah


Dakwah Islamiyah
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.
A.    Pendahuluan
Sejak Adam diciptakan dan Iblis menolak untuk sujud kepadanya, permusuhan dan perseteruan antara kebaikan dan kejahatan dimulai. Iblis dengan seluruh potensi yang dimiliki telah berjanji untuk menjauhkan manusia dari beribadah kepada Allah. Karena deklarasi perang terhadap kebaikan yang disampaikan Iblis ini, Allah mengutus para Nabi dan Rasul pada setiap umat serta menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia supaya tetap beribadah kepada Allah.
Bagian dari program untuk menyelamatkan manusia, Allah mewajibkan dakwah kepada umat Islam. Para da’i menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang manusia berbuat kedurhakaan. Dakwah merupakan bagian elemen agama Islam yang sangat fital. Ia merupakan pondasi bagi perkembangan agama Islam. Tanpa dakwah, agama tidak berkembang, umat dalam kesesatan, kemaksiatan merajala dan proses transfer ilmu dari satu generasi ke generasi yang lain akan terhenti.
Tantangan dakwah dari satu zaman ke zaman yang lain semakin bertambah. Umat terbawa arus perubahan sosial yang dipicu perkembangan ilmu dan teknologi yang tanpa kontrol. Hilangnya rasa hormat anak kepada yang lebih tua, rasa kasih sayang kepada yag lebih muda, rasa malu berbuat kejahatan dan kaburnya batasan kebaikan dan kejelekan sehingga banyak orang yang melihat suatu kejahatan sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kejahatan. Tantangan yang paling berat dalam jalan dakwah adalah hilangnya jati diri seorang da’i. Sebagian mereka berbicara tanpa landasan ilmu yang benar, sebagian yang lain berilmu tanpa mengamalkan, sebagian mereka melakukan dakwah untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan sebagian yang lain menyelisihi kebaikan yang telah diketahui.
Kondisi kerusakan umat ini tidak mungkin bisa diatasi kecuali kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dibangun di atas dakwah Islamiyah. Dakwah yang diseru para da’I yang memiliki jati diri Islami, aqidah yang shohih dan ilmu yang kuat. Pada makalah ini akan dibahas tentang dakwah Islamiyah dan sifat-sifat da’I yang harus dimiliki.
B.     Perngertian Dakwah
Dakwah secara bahasa memiliki banyak pengertian yaitu jeritan, seruan dan permohonan.[1] Selain ketiga makna ini, Jum’ah menjelaskan beberapa makna Dakwah secara bahasa yaitu: memanggil, menyeru, meminta.[2]  
Dakwah secara istilahi mengajak manusia untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan mereka masuk surga, yaitu berpegang teguh kepada Agamanya. Dengan agama itulah Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya.[3] Dr. Sayyid dalam bukunya dakwah fardiyah[4] mengutik pendapat beberapa ulama dalam menjelaskan pengertian dakwah secara istilahi antara lain. Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa oleh Rasul-Nya dengan cara membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yng diperintahkan.
Syaikh Muhammad Ash-Shawwaf mengatakan bahwa dakwah adalah risalah langit yang diturunkan ke bumi berupa hadiyah sang Khalik kepada makhluk, yakni dien dan jalan-Nya yang lurus  yang sengaja dipilih-Nya dan dijadikan sebagai jalan satu-satunya untuk selamat kembali kepada –Nya. Dr. Taufiq Al-Wa’I menjelaskan makna yang terkandung dalam dakwah islamiyah yaitu, “mengumpulkan manusia dalam kebaikan, menunjukkan mereka jalan yang benar dengan cara merealisasikan manhaj Allah di bumi dalam ucapan dan amalan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, membimbing mereka kepada shirathal mustaqim dan bersabar menghadapi ujian yang menghadang perjalannya.”
Makna dakwah yang lain juga dijelaskan seorang aktivis dakwah Abu Bakar Zakari. Ia mengatakan bahwa dakwah adalah kegiatan ulama dan para da’I dalam agama yaitu dengan mengajarkan ilmu kepada masyarakat umum tentang masalah agama dan dunia mereka sesuai dengan kemampuan mereka.[5]
Dari pengertian-pengertian dakwah yang dijelaskan oleh para ulama dan para aktivis dakwah, penulis meyimpulkan bahwa inti dakwah adalah menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka berbuat kejahatan dengan cara mengajari mereka ajaran Islam.

C.    Dalil Syar’I Tentang Perintah Dakwah
Allah dan Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berdakwah dan menyeru manusia dari peribadatan hamba kepada hamba menuju peribadatan hamba kepada Allah. Allah telah menegaskan perintah ini dalam Al-Qur’an. Allah berfirman
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)
“serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. An Nahl 125[6]
Ayat ini turun sebagai perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyeru manusia supaya berada dalam jalan Allah.[7] Meskipun ayat ini turun kepada Nabi Muhammad SAW tetapi perintah dakwah ini umum untuk umatnya. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka orang-orang yang beruntung. Ali Imron 104[8]
Ayat ini menunjukkan perintah dakwah kepada umat Islam dan kata minkum (liltab’id/ menunjukan sebagian) dalam ayat ini menjadi landasan hukum berdakwah dalam Islam adalah Fardhu Kifayah.[9] Selain menunjukkan hukum, kata minkum pada ayat di atas menunjukkan siapa yang berhak untuk memerintahkan amar ma’ruf yaitu para ulama. Sedang makna yang lain adalah lilbayan jinsi (merangkan jenis yang diperintah) yaitu seluruh umat Islam. Sehingga hukum dakwah adalah fardhu ain (setiap muslim terkena beban ini)[10]. Pedapat tentang hukum dakwah Fardhu ‘Ain dikuatkan dengan hadist Rasulullah SAW yang mendorong setiap muslim untuk menegakkan dakwah. Rasul SAW bersabda:
عن أبي كبشة عن عبد الله بن عمرو أن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال بلغوا عني ولو آية
 Dari Abi Kabsyab dari Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi SAW bersabda: “sampaikan dariku walaupun satu ayat.”[11]
Hadist ini menjadi landasan penting untuk mendakwahkan dan menyampaikan ilmu baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal dan perintah ini tidak dikhususkan pada satu golongan tertentu melainkan setiap muslim yang memiliki ilmu. Perbedaan tentang hukum dakwah ini bisa penulis kompromikan sebagai berikut, hukum dakwah fardhu ‘ain ketika seseorang sudah memiliki kemampuan baik ilmu maupun kekuatan sedangkan hukum dakwah fardhu kifayah ketika seseorang tidak memiliki kemampuan.

D.    Keutamaan Dakwah
Dakwah Islam membutuhkan seluruh keseriusan dan kesungguhan umat Islam. Karena begitu besar pengorbanan yang dibutuhkan dalam dawah Islam, Allah telah mengutamakan amal ini dari amal-amal Islam yang lain. Keutamaan-keutamaan dakwah antara lain:
1.      Dakwah adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul alaihimussalam)
Para rasul alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah swt untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah kepada Allah. Keutamaan dakwah terletak  pada disandarkannya kerja dakwah ini kepada manusia yang paling utama dan mulia yakni Rasulullah saw dan saudara-saudara beliau para nabi & rasul alaihimussalam.
Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu)  kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf (12): 108).
Ayat di atas menjelaskan jalan Rasulullah saw dan para pengikut beliau yakni jalan dakwah. Maka barangsiapa mengaku menjadi pengikut beliau saw, ia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.
2.      Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal Terbaik)
Dakwah adalah amal terbaik. Dakwah memelihara amal Islami dalam pribadi dan masyarakat muslim. Membangun potensi dan memelihara amal shalih adalah amal dakwah, sehingga dakwah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Keutamaan dakwah sebagai amal yang terbaik dijelaskan Allah dalam firmannya
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).
3.      Dakwah memiliki keutamaan yang besar karena para da’i akan memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda (al-hushulu ‘ala al-ajri al-‘azhim).
Tentang pahala yang berlimpah pada seorang da’i, diberitakan Rasul SAW ketika terjadi perang Khoibar. Rasul SAW bersabda kepada imam ‘Ali ra bahwa pahala seorang da’i lebih baik dari kendaraan terbaik. 
لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم
Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (Bukhari)[12]
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله وملائكته وأهل السموات والأرضين حتى النملة في حجرها وحتى الحوت ليصلون على معلم الناس الخير
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi).[13]
4.      Dakwah adalah Jalan Menuju Khairu Ummah
Umat Islam adalah umat yang terbaik manakala mereka menjaga dakwah & amar ma’ruf nahi munkar dalam semua keadaannya, baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu ummah maupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah swt berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran (3): 110).

E.     Sifat-sifat Da’i
Jum’ah Amin Abduh dalam bukunya fiqih Dakwah telah menjelaskan tentang sifat-sifat para da’i.[14]
1.         Amanah, sifat amanah atau terpercaya untuk menjaga atau menyampaikan sesuatu. Ini merupakan sifat dasar yang harus dimiliki para da’i. sifat amanah merupakan sifat para nabi dan rasul. Bahkan musuhpun mengakui sifat amanah mereka. Perintah seorang muslim untuk memiliki sifat amanah ini berdasarkan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.[15] An-Nisa’ 58
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa amanah ada dua. Amanah Allah yang harus disampaikan kepada hamba yang berupa seluruh perintah seperti perintah shalat, zakat haji dan perintah-perintah Allah yang lain. Yang kedua adalah, amanah seorang hamba untuk hamba yang lain. Seperti barang titipan.[16]
2.      Shidq
Bagian sifat terpenting lain yang harus dimiliki seorang da’I adalah sidq atau kejujuran. Kejujuran para da’I adalah bagian dari sarana untuk menjaga keimanan dan keilmuan dalam Islam. Kejujuran juga membawa kebaikan kepada para da’I dan manusia secara umum. Rasul SAW menjelaskan kebaikan kejujuran dan keburukan dusta dalam sabda beliau:
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا »
“sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang bersikap jujur sehingga dia ditetapkan sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta itu mengantarkan kepada kepada perbuatan dosa dan dosa itu mengantarkan ke neraka. Seseorang bersikap dusta sehingga dia ditetapkan sebagai pendusta. [17]  
Kejujuran harus dilakukan seorang muslim apalagi da’I dalam segala hal antara lain.
a.       Sidq dalam perkataan, jujur dalam berkata dan menyampaikan ilmu merupakan sifat da’i. karena kebohongan da’I dalam berkata akan membawa dampak yang luas dalam kehidupan masyarakat muslim.
b.      Sidq dalam tekad, jujur dalam bertekad nampak dalam kuatnya keinginan untuk beramal dan kemampuan da’I dalam menjaga diri dari sifat futur.
c.       Sidq dalam menepati janji. Jujur dalam berjanji kepada diri sendiri atau orang lain bahkan jujur dalam menepati janji kepada Allah merupakan hal Allah perintahkan kepada orang-orang yang beriman. Hal ini sebagaimana firman Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah aqad-aqad (janji-janji) itu.”[18] Al-Maidah 1
d.      Sidq dalam bekerja, seorang da’I hendaknya bersungguh-sungguh dalam bekerja sehingga apa yang nampak dalam amal merupakan cermin hati.
3.      Ikhlas. Perintah Allah kepada Allah kepada orang-orang mukmin untuk ikhlas dalam setiap niat dalam pekerjaan sangat banyak. Antara lain firman.
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء
“Padalah mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan(mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus. Al-Bayyinah 5[19]
4.      Rahmah, Rifq, dan Hilm. Rasa kasih sayang seorang da’I dalam berdakwah dan bersikap merupakan salah satu rahasia dakwah kepada Islam diterima oleh manusia baik pada awal umat Islam maupun pada zaman sekarang ini. Sikap ini yang dulu Allah perintahkan kepada nabi SAW.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107)
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta alam.” Al-Anbiya 107
5.      Sabar. Sabar merupakan akhlak qur’ani yang paling menonjol dan sangat diperhatikan oleh kitab Allah yang paling mulia. Ia merupakan akhlak yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an. Sabar juga menjadi sarana untuk bertawasul meminta pertolongan kepada Allah. Allah berfirman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين
“Hai, orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar.” Al-Baqarah 153[20]
6.      Hirsh (perhatian kepada object dakwah).  Sikap perhatian seorang da’I kepada object dakwahnya, sampai yang bersangkutan merasakan adanya perhatian tersebut. Perasaan ini mampu menggugah hati orang yang didakwahi sehingga mereka mau mendengar dakwah dan ajaran Islam. Gambaran sifat hirsh ini diabadikan Allah ketika menggambarkan sifat Nabi SAW. Allah berfirman
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.[21] At-Taubah 128
7.      Tsiqah, yang dimaksud tsiqah adalah keimanan seorang da’I akan kemenangan agama ini. Ia percaya bahwwa sesungguhnya Islam akan menang, merdeka daulahnya, dan berkibar tinggi panji-panjinya, dan ajarannya akan terbesar ke seleuruh penjuru bumi. Hal ini yang Allah janjinya kepada Rasulullah SAW:
كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.[22] Al-Mujadillah 21
8.      Wa’iy, yang dimaksud Wa’iy disini adalah seorang da’I harus memiliki ilmu yang luas, sehingga dia mengetahui perubahan sosial dan menetahui bagaimana strategi dakwahnya. Hal ini untuk mengatasi kebingunan seorang da’I di medan dakwah.
Seorang da’i ketika mampu merealisasikan sifat-sifat di atas maka ia akan mampu menjadi seorang da’i yang militan. Selain menjadi da’i yang militan, dia juga menjadi pribadi yang berakhlak islami dan menjadi qudwah hasanah bagi object dakwah. Qudwah hasanah dalam masalah pribadi bahkan masyarakat menjadi sesuatu yang penting karena dia akan menjadi tempat kembalinya masalah mad’u (object dakwah) dan sebagai model pribadi muslim.   
F.     Tahapan Dakwah
Syaikh Mustahafa Masyhur menjelaskan tahapan atau marhalah ada 3. Yaitu:
1.      Tahap penerangan (ta’rif) atau tahap propanda, memperkenalkan, menggambarkan ide (fikrah) dan menyampaikannya kepada khalayak ramai dan setiap lapisan masyarakat. Hal yang penting pada tahap ini yang pertama adalah kemurnian dakwah. Islam harus diajarkan dan disampaikan kepada masyarakat sebagaimana Islam yang dibawa Rasulullah. Dalam sejarah dakwah Islamiyah, musuh-musuh Islam berusaha memasukkan paham-paham yang merusak paham Islam, maka untuk itu dakwah harus disampaikan secara murni dan totalitas atau menyeluruh. Yang kedua adalah uslub dakwah. Seorang da’I ketika menyampaikan dakwah harus berpegang pada uslub dakwah atau cara yang benar.
2.       Tahap Pembinaan dan Pembentukan (takwin), yaitu tahapan pembentukan, memilih pendukung, menyiapkan pasukan, mujahid, dan mujahid dakwah serta mendidiknya. Mereka dipilih dari orang-orang yang telah menyambut seruan dakwah.  
3.      Tahap Pelaksanaan (Tanfidz), yaitu tahap beramal, berusaha, dan bergerak mencapai tujuan.[23]
Syaikh Musthafa Masyur dalam bukunya yang berjudul “7 tahapan Fardiyah” menjelaskan bahwa tahapan dakwah fardiyah ada 7 yaitu:
1.      Marhalah pertama ialah mewujudkan hubungan dan perkenalan dengan mad’u (taaruf).
2.      Marhalah kedua ialah marhalah membangunkan iman yang lesu pada jiwa mad’u (orang yang didakwahi).
3.      Marhalah ketiga di dalam dakwah adalah bermulalah. Di marhalah ini da’i membantu untuk memperbaiki diri mad’u dengan cara mengajarnya perkara-perkara ketaatan kepada Allah dan ibadat-ibadat fardhu, membiasakan dirinya melakukannya secara berdisplin, menjauhi maksiat dan berakhlak dengan akhlak Islam.
4.      Marhalah keempat ialah menjelaskan pengertian ibadah yang syumul (mencakup seluruh aspek kehidupan) tanpa membatasinya pada sholat, puasa, zakat dan haji saja. Pengertian yang sempit akan ibadah dalam Islam akan menjadikan gerakan Islam ini juga sempit, sehingga perlu dijelaskan bahwa ibadah dalam Islam mencakup seluruh aspek kehidupan.
5.      Marhalah kelima adalah menjelaskan kepada mad’u bahwa dakwah ini tidak untuk diri sendiri tetapi dakwah ini untuk masyarakat luas.
6.      Marhalah keenam adalah menjelaskan kepada mad’u bahwa untuk memperjuangkan Islam tidak bisa sendirian tetapi perlu sebuah jama’ah atau organisasi.
7.      Marhalah ketujuh adalah marhalah perekutan. Pada marhalah ini memerlukan kebijaksanaan dan hikmah sehingga anggota tidak keluar.[24]
Dari kedua tulisan beliau ini, penulis menyimpulkan bahwa pada buku beliau yang berjudul “7 tahapan dakwah fardiayah”, Syaikh Masyhur menjelaskan sistem perekutan anggota jamaah sedangkan dalam buku beliau yang berjudul “Fiqih Dakwah”, Syaikh Masyhur menjelaskan secara umum tahapan dakwah.     



DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahan. 1995. Jakarta.
Muslim bin Al-Khajaj. Aj-Jami’ As-Shohih. Bab Qabkhu kadib wa khusnu sidq wa fadhluhu.
Ibnu Katsiir. 1997. Tafsir Al-Qur’an Al-A’dhim. Daru Al-Fikr. Beirut. Lebanon. Cet pertama
Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurtubi. 2006. Al-Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an. Al-Resalah. Beirut. Lebanon.
Kholid Romadhon Hasan. 1998.  Mu’jam Ushul Fiqih. Daru Raudhah. Cet pertama.
Abu Bakar Zakari. 1962. Dakwah ila Islam. Maktabah Daru al-Urulah. Kairo. Mesir.
Sayid Muhammad Nuh. 2000. Dakwah Fardiyah. Era Intermedia. Solo. Cet Pertama.
Jum’ah Amin Abdul Aziz. 2000. Fiqih Dakwah. Era Intermedia. Solo. Cet ketiga
Al-Jam’u baina as-Shahihaini Bukhori wa Muslim.
Musthafa Masyur. 2001. Fiqih Dakwah. Al-I’tishom Cahaya Umat. Jakarta. Jilid 1. Cet-2.
Musthafa Masyhur. 2001. 7 Tahapan Dakwah Fardiyah. Al-I’tishom Cahaya Umat. Jakarta.
Abu ‘Isa. 1975. Jami’ As-Shahih huwa Sunan At-Tirmidzi.
Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori. Al-Jami’ As-Shohih. As-Salafiyah. Kairo.



[1] Sayid Muhammad Nuh. 2000. Dakwah Fardiyah. Era Intermedia. Solo. Cet Pertama. Hal 13
[2] Jum’ah Amin Abdul Aziz. 2000. Fiqih Dakwah. Era Intermedia. Solo. Cet ketiga. Hal 24
[3] Ibid hal 25
[4] Sayid Muhammad Nuh. Hal 14-15
[5] Abu Bakar Zakari. 1962. Dakwah ila Islam. Maktabah Daru al-Urulah. Kairo. Mesir. Hal 8
[6] Al-Qur’an dan Terjemahan. 1995. Departemen Agama RI. Jakarta. Hal 421
[7] Inbu Katsir. Tafsir Al-Qur’an Al-A’dhim. Maktabah Walad Syaikh Lilturast. Jedah. Saudi Arabia. Hal 368
[8] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahan. 1995. Jakarta. Hal 93
[9] Fardhu kifayah adalah tuntutan atau kewajiban yang harus dikerjakan suatu komunitas, apabila sebagian dari komunitas itu telah mengerjakan maka gugurlah kewajiban itu dan apabila tidak ada yang mengerjakan maka seluruh penduduk dalam komunitas itu berdosa semua. Kholid Romadhon Hasan. 1998.  Mu’jam Ushul Fiqih. Daru Raudhah. Cet pertama. Hal 212
[10] Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurtubi. 2006. Al-Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an. Al-Resalah. Beirut. Lebanon. Juz Ke-lima. Hal 253
[11] Hadist riwayat imam Muslim. Al-Jam’u baina as-Shahihaini Bukhori wa Muslim. No 2948
[12] Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori. As-Salafiyah. Kairo. Juz 3 bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib. Hal 22. Hadist 3701.
[13] Abu ‘Isa. 1975. Jami’ As-Shahih huwa Sunan At-Tirmidzi. Juz 5. Hal 50. Hadits 2685
[14] Jum’ah Amin Abduh. Hal 80-137
[15] Al-Qur’an Terjemahan. Hal 128
[16] Ibnu Katsir. 1997. Tafsir Al-Qur’an Al-A’dhim. Daru Al-Fikr. Beirut. Lebanon. Cet pertama. Hal 568
[17] Muslim bin Al-Khajaj. Aj-Jami’ As-Shohih. Bab Qabkhu kadib wa khusnu sidq wa fadhluhu. No 6803. Juz 8. Hal 29.
[18] Al-Qur’an dan Terjemahan. 1995. Departemen Agama RI. Jakarta. Hal 156
[19] Ibid. hal 1084
[20] Ibid. hal 38
[21] Ibid. hal 303
[22] Ibid. hal 912
[23] Musthafa Masyur. 2001. Fiqih Dakwah. Al-I’tishom Cahaya Umat. Jakarta. Jilid 1. Cet-2. Hal 13-14
[24] Musthafa Masyhur. 2001. 7 Tahapan Dakwah Fardiyah. Al-I’tishom Cahaya Umat. Jakarta. Hal 5-10  (Berhahasa Malaysia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS