Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Sabtu, 07 April 2012

Ekonomi Kerakyatan dalam Pemerintahan Sultan Alaudin


A.    Pendahuluan
India merupakan salah satu Negara yang memiliki sejarah yang berhubungan dengan Islam. Negara ini pernah berdasarkan syariat Islam selama berabad-abad. Islam sudah mulai masuk wilayah India sejak khulafaur Rosyidin, khilafah umayah, abasiyah, dynasty mongol dan dinasti khalji. Dinasti khalji didirikan Jalauddin dan dia merupakan sultan yang pertama. Jalauddin memiliki keponakkan yang bernama Alauddin yang menjadi gubenur diwilayah Awadh dan Kara. Alauddin adalah seorang gubenur yang memiliki ambisi kekuasaan sehingga dia membunuh paman sekaligus mertua dan mendeklarasikan diri menjadi sultan.
India memiliki sejarah yang sangat menarik karena Negara ini identik dengan agama Hindu yang seratus persen berbeda dengan Islam. Tetapi di Negara ini pernah diterapkan nilai-nilai dan syari’at Islam selama berabad-abad. Kekuasaan Usman bin Affan sudah mencapai wilayah India kemudian setelah itu kekuasaan berganti dari satu dinasti ke dinasti yang lain. Salah satu kesultanan yang pernah menguasai India adalah dinasti Al Khalji. Meskipun dinasti ini tidak berumur panjang, tetapi dinasti ini pernah mencapai masa kejayaan ketika dipimpin Sultan Alaudin. Sultan Alaudin merupakan pemimpin yang jenius, dia mampu merumuskan suatu konsep ekonomi yang membuat rakyat merasa kecukupan.
Alaudin merupakan seorang ekonom yang handal. Selain sebagai seorang ekonom dia juga pemimpin militer yang cerdik. Dia mampu menahan dan mengalahkan pasukkan Mongol yang beberapa kali menyerang India. Dia juga mengembangkan daerah kekuasaannya dengan menyerang India bagian selatan. Sebagai seorang pemimpin dan administrator, dia sempat melakukan kesalahan yang fatal, yaitu dengan membatasi otoritas ulama dalam kepemimpinannya. Padahal dalam literature Islam, Ulama merupakan orang yang pendapatnya didengar dan menjadi rujukkan untuk menyelesaikan masalah.


B.     Sejarah kesultanan Dehli (1206-1526M) sebelum Bedirinya Dinasti Khalji
Sejarah kesultanan Dehli di awali ekspansi Muhammad Ghuri ke India. Motif serangan ini adalah kegagalannya mendirikaan kerajaan di Asia Tengah, ancaman sisa-sisa dinasti Ghazni di Punjab dan tidak ada kesatuan  politik di India. Multan dan Sind berhasil dikuasai, tetapi dia mendapatkan kesulitan menyerang Hindustan dari dua daerah ini akhirnya dia menyerang Punjab. Punjab masuk wilayah kekuasaannya tetapi sejak saat itu dinasti Ghuri berakhir.
Aybek menantu Ghuri naik tahta menggantikan kekuasaannya di India dengan gelar Sultan pada tahun 1206 M. Sejak saat itu berdirilah kesultanan Dehli. Aybek mendirikan Masjid Raya Dehli dan memberi nama Quwat al-Islam dan membangun menara sebuah menara yang besar dan diberi nama Qutub Minar.[1]
Setelah Aybek wafat, kepemimpinan kesultanan Dehli silih berganti dan mengalami pasang surut. Pemimpin-pemimpin dinasti ini yang terkenal adalah Aybek, Iltutmish, Nasirrudin seorang sultan yang saleh, dan Ghiasuddin Balban. Dinasti ini berakhir ketika dipimpin seorang sultan yang masih balita Kaimus 1289 M dan berdirilah dinasti Khalji.[2]
   
C.    Sejarah Singkat Dinasti Khalji dan Sultan Alaudin
Berdirinya. Istilah Al Khalji berasal dari kata khal, sebuah daerah kaki gunung di Afghanistan. Dari daerah ini istilah khalji lahir dan menjadi satu pemerintahan yang memimpin India. Jalauddin adalah sultan pertama sekaligus pendiri dinasti ini dan dia memimpin pada tahun 1920-1926.[3] Ketika memimpin dinasti al khalji, Jalauddin berumur 75 tahun, sehingg kekuatannya tidak cukup bagus untuk menjadi seorang sultan. Awalnya, para bangsawan dan rakyat berbeda pendapat untuk merimanya sebagai sultan, tetapi karena keadilan dan kedermawanannya akhirnya mereka menerima dengan lapang dada.[4]
Jalaludin menunjuk keponakkannya Alaudin untuk menjadi gubenur di daerah Awadh dan Kara. Aludin seorang yang kuat dan memiliki kepemimpinan yang bagus dan dia juga memiliki ambisi memimpin dunia. Ketika menjadi gubenur dia izin kepada sultan untuk menyerang Bhilsa dan dia menang. Setelah itu, tanpa izin sultan dia menyerang Deogir sebuah kawasan yang memiliki kekayaan yang melimpah sehingga dia pulang membawa harta rampasan yang banyak. Ketika sultan mendengar kemenangan Alaudin dia bangga dan mendatanginya untuk menyampaikan ucapan selamat. Ketika sultan dating, Alaudin membunuhnya dan mendeklarasi diri menjadi sultan yang baru.[5]
Mula-mula kedudukan Alaudin sangat sukar, karena dari utara ia mengahadapi serangan orang-orang  Mongol, sedangkan dari India sendiri ia harus berhadapan dengan beberapa orang bangsawan Islam yang belum tunduk dan raja-raja India lainnya. Sekalipun demikian, berkat ketabahan Alaudin khalji kerajaannya dapat diluaskan keselatan. Yaitu Dekhan. Serangan besar-besaran ke India Selatan diadakan pada tahun 1310 M  dan dipimpin oleh seorang panglima Islam yang terkenal Malik Kafur. Dalam serangan itu, pasukan dinasti khalji menang dan mendapat harta rampasan perang yang banyak. Sehingga dengan demikian agama Islam lebih mendalam pengaruhnya.
Kebanyakan raja-raja Hindu di India Selatan mengakui kekusaan Alaudin. Dia terkenal sebagai sultan yang kaya, terkenal dalam bangunan sejarah India karena banyak mendirikan bangunan  besar. Masjid-masjid yag ada di dekat Qutb Minar diperbesar (1311M) dan diusahakan pula mendirikan menara kedua yang ukurannya dua kali lebih besar dari pada Qutb Minar yang telah ada.[6]
Alaudin memiliki ambisi memimpin dunia seperti Alexandria dan dia juga ingin menjadi seorang Nabi karena dia memiliki 4 sahabat yang setia (Ulugh Khan, Ja’far khan, nusrat Khan dan alap Khan) sebagaimana Nabi SAW memiliki 4 sahabat (Abu Bakar, Umar bin Khotob, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib). Tetapi penasehat kerajaan yang bernama Alaul Mulk menasehatinya untuk lebih memperhatikan India dan tidak mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Nabi karena hal itu akan menyebabkan Ulama serta umat Islam menarik dukungan kepadanya. Sultan Alauddin akhirnya menerima nasehat Alaul Malik.
Alaudin seorang pemimpin sekaligus panglima yang hebat, dia sanggup mengalahkan setiap serangan yang dilakukan oleh pasukan Mongol. Pada tahun 1299 Mongol menyerang Dehli dan hendak menguasai Negara tetapi Alaudin mampu mengalahan mereka, dan pada tahun 1307 M Mongol menyerang Dehli lagi tetapi Alaudin mengalahkan mereka dan menimbulkan kerugian yang besar pada pihak musuh dan setelah kekalahan ini, (selama kekuasaan Alaudin) Mongol tidak pernah menyerang Dehli lagi.[7]
Akhir masa pemerintahan Alaudin tidak membahagiakan, kesehatan Alaudin menurun sehingga pemerintahnya dipengaruhi oleh menteri kesayangannya Malik Kafur. Sebagian daerah kekuasaannya direbut orang dan pemberontakan terjadi dibeberapa tempat. Alaudin menutup usia pada tahun 1316 setelah memimpin selama 20 tahun.[8]  

D.    Pengaturan Administrasi Sultan Alaudin
Selain terkenal sebagai penguasai yang kuat, Sultan Alaudin juga terkenal pemimpin yang rapi dalam kerja dan administrasi. Berikut beberapa contoh:  
1.      Kebijakkan Administrasi Sultan Alaudin
Sultan Alaudin memiliki jumlah militer yang besar dan untuk mengatur mereka dan mengatasi kemungkinan adanya pemberontakan maka dia membuat beberapa aturan. Antara lain:
§  Melarang para pejabat sipil maupun militer memiliki harta yang banyak. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya aksi pemberontakan.
§  Menyebarkan mata-mata di setiap kota maupun desa. Implikasi program ini adalah rakyat merasa terawasi, sehingga tidak ada pembicaraan rahasia mengenai pemerintahan karena ada prakata “Mungkin diiding mendengar”.
§  Pemerintah melarang rakyatnya mengadakan perayaan pesta apapun tanpa seizin sultan.
§  Selain melarang pesta, sultan melarang meminum anggur dalam pesta atau kesempatan yang lain.[9]
2.      Reformasi Ekonomi sultan Alaudin
Meskipun Negara mendapat rampasan perang yang melimpah dari daerah Dakhan, Alaudin juga membutuhkan biaya yang besar untuk menggaji dan membiayai tentaranya. Setelah beberapa kali mendapat serangan dari Mongol, Alaudin membuat system perekrutan tentara dengan jumlah yang besar dan mereka mendapat gaji dari pemerintah, sehingga Negara membutuhkan banyak dana. Untuk mengatasi masalah ini, Alaudin melakukan reformasi ekonomi. Program-program Alaudin sebagai berikut:
§  Untuk meningkatkan pendapat Negara, Sultan Alaudin memperbarui system perpajakan dengan menarik pajak rumah, pertanian dll.
§  Mengontrol harga kebutuhan pokok seperti beras atau gandum dan kebutuhan sekunder. Motif Alaudin melakukan hal ini untuk menekan angka inflasi dan untuk mengendalikan harga supaya tidak turun dibawah level serta memiliki tujuan politik, supaya dia mampu mempertahankan keberadaan militer dengan jumlah yang besar. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa tujuan alaudin melakukan kebijakkan ekonomi seperti ini berdasarkan nilai kemanusian. Supaya setiap orang mampu membeli kebutuhannya dipasar. Tetapi menurut para pakar tujuan utama kebijakkan ini bersifat potik yaitu mempertahankan tentara dengan jumlah besar dan supaya mereka tetap merasa nyaman dengan gaji yang mereka dapatkan.[10]
§  Mengontrol suplai bahan kebutuhan masyarakat. Kebijakkan menetapkan harga kebutuhan masyarakat tentunya tidak banyak memiliki faedah ketika keberadaan langka atau berlebihan. Untuk mengatasi permasalahan ini, Alaudin membuat program tentang pengontrolan kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh, Alaudin menunjuk beberapa daerah untuk ditanami biji-bijian, seperti daerah Khalsa atau daerah-daerah pedesaan di Dehli.
§  Sultan tidak hanya mengontrol harga dan suplai kebutuhan, tetapi dia juga mengontrol tranportasi yang membawa dan mengirim barang. Setiap pedagang yang membawa barang dari satu daerah ke daerah yang lain harus mendaftarkan diri dan sebagai konpensasinya adalah segala kebutuhan untuk pengiriman atau pengambilan barang difasilitasi oleh Negara.
§  Rationing system. Untuk mengatur antara barang dan kebutuhan, Alaudin mengatur rasio penjualan. Rasio penjualan untuk mengatasi penjualan barang yang langka dan melimpah. Sebagai contoh, sultan melarang dealer yang terdaftar untuk menjual gandum atau beras dari stok pemerintah melebihi setengah Maund kepada setiap orang.[11]
§  Menghukum pedagang yang tidak jujur. Salah satu program ekonomi yang diketahui dilakukan Alaudin adalah menghukum pedagang yang melakukan kecurangan dalam timbangan. Ketika seorang pedagang mencuri timbangan dan tertangkap maka pemerintah memotong daging orang itu seberat timbangan yang dicuri. Implikasi dari aturan ini, para pedagang melebihkan timbangan ketika mereka menjual sesuatu.[12]
Untuk menjalankan program diatas, Alaudin membuat dua lembaga pemerintahan yaitu Shahana-i-Mandi yang dipimpin oleh Malik Qabul dan Diwan-i-Riyasat yang dipimpin oleh Yaqub. Shahana-i-Mandi bertanggung jawab pada masalah logistic makanan dan mengurus penjual yang lansung dipasar dan menangani masalah penetapan harga, sedang Diwan-i-Riyasat bertanggung jawab pada masalah pakaian dan kebutuhan yang lain selain pangan dan menangani masalah yang lebih general.[13]
3.      Faktor-faktor yang Mendorong Alaudin Melakukan Reformasi Ekonomi
Ketika Negara menjadi besar dan beban keuangan Negara meningkat sultan Alaudin melakukan reformasi ekonomi. Beberapa faktor yang memdorongnya melakukan hal itu antara lain:
1.      Negara membutuhkan militer yang kuat sehingga mampu menahan serangan bangsa Mongol, untuk membangun militer yang kuat Negara membuat banyak dana. Hal ini memaksa Alaudin untuk membuat kebijakan penarikan pajak, seperti pajak rumah atau pertanian.[14]
2.       Negara membutuhkan tentara yang banyak, sebagai konsekuensinya Negara harus memberikan kwalitas hidup layak sehingga Negara membutuhkan anggaran dana yang besar, maka Alaudin mereformasi sistem ekonomi Negara.[15]
3.      Sebagian pakar sejarah mengatakan bahwa reformasi ekonomi Alaudin berdasarkan nilai kemanusian, sehingga dia membuat kebijakan ekonomi rakyat.[16]
4.      Faktor-faktor yang Mensukseskan Program Reformasi Ekonomi.
Program reformasi ekonomi yang dicanangkan sultan Alaudin berjalan sangat baik. Rakyat India merasa bahagia. Ada beberapa factor yang ikut menjadi sebab kesuksesan program sultan Alaudin.
§  System yang dicanangkan memiliki kekuatan untuk memaksa dan adanya hukuman bagi mereka yang melanggar aturan.
§  Kepentingan individu dan pengawasan yang dilakukan terus menerus oleh sultan. Beliau meminta laporan dari berbagai sumber secara rutin, kadang beliau mengutus budaknya atau berangkat sendiri dengan menyamar untuk mengetahui keadaan pasar.
§  Kesabaran dan keuletan pegawai dalam menjalankan program ini. sultan tidak segan menghukum mereka ketika mereka secara terbukti melakukan kesalahan.
§  Yang paling utama adalah program itu sendiri yang dirancang dengan secara berurutan dan matang.[17]



E.     Dampak Reformasi Sultan Alaudin
Reformasi ekonomi yang dilakukan Sultan Alaudin memiliki beberapa dampak yang positif, meskipun ada beberapa kelompok orang yang merasa dirugikan. Beberapa dampak itu antara lain.
§  Rakyat tidak mengalami kenaikan harga meskipun dalam keadaan paceklik (sedikitnya barang yang dibutuhkan)
§  Tidak adanya pemberontakan
§  Meningkatnya ketaatan rakyat
§  Rakyat bahagia dan sejahtera[18]
§  Pemilik modal besar dan kaum bangsawan merasa dirugikan karena tidak bisa menetukan harga, sehingga keuntungan mereka turun drastis.[19]

F.     Beberapa kritik
Selain prestasi yang dilakukan oleh Alaudin, pemakalah juga mencantum beberapa kritik kepada Alaudin.
§  Administrasi Alaudin dibangun diatas kekuatan militer dan system yang dibangun lemah sehingga mudah dipatahkan.
§  Kebijakkan ekonomi lebih memihak rakyat miskin dan merugikan kaum bangsawan dan pedagang besar karena keuntungan mereka berkurang.
§  Mata-mata yang disebarkan Alaudin membuat rakyat tidak nyaman.
§  Sikap repressive membuat perasaan tidak puas dikalangan pemimpin, bangsawan, dll.[20]




G.    Penutup
Sultan Alaudin merupakan salah satu sultan terbaik di India. Dia pemimpin yang lebih memihak kerakyat kecil sehingga beberapa bangsawan dan bawahannya merasa ada yang dirugikan. Kebijakkannya yang monumental adalah kebijakkan ekonomi.





Referensi
Ali, K.  History of India Pakistan & Bangladesh. Dhaka 1980. Ali Publications.
Karim, M.  khilafah umayah, abasiyah, lam selama berabad-abad. Islam sudah mulai wilayah India sejak khulafaur Rosyidin A. Sejarah pemikiran dan peradaban Islam.. Yogyakarta. Pustaka Book Publiser. 2009
Ensiklopedi umum.  Jajasan kanisius, tahun 1973, hal 38
http://www.indianetzone.com/46/economic_policy_ala_ud_din_khilji.htm


[1] Hamka dalam M. Abdul Karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.. Yogyakarta. Pustaka Book Publiser. 2009. Hal 262
[2] Ibid, hal 265
[3] Ibid
[4] K. Ali, History of India Pakistan & Bangladesh. Dhaka. Ali Publications. 1980. Hal 68
[5] Ibid 69
[6] ensiklopedi umum.  Jajasan kanisius, 1973, hal 38
[8] K. Ali, M.A. History of India Pakistan & Bangladesh. Dakha 1980. Ali Publications. Hal 84
[9] K. Ali, M.A. History of India Pakistan & Bangladesh. Dakha 1980. Ali Publications. Hal 77-78

[11] K. Ali,  History of India Pakistan & Bangladesh. Dakha. Ali Publications. 1980. Hal 82-83
[12]  M. Abdul Karim. Sejarah pemikiran dan peradaban Islam. Yogyakarta. Pustaka Book Publiser. 2009. Hal 265
[13] K. Ali, History of India Pakistan & Bangladesh. Dakha. Ali Publications. Hal 83
[14] Ibid, hal 72           
[15] ibid
[17] K. Ali, History of India Pakistan & Bangladesh. Dhaka. Ali Publications. 1980. Hal 83
[18] Ibid
[19] Ibid. hal 86
[20]Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS