Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Rabu, 25 April 2012

Eropa Krisis Generasi dan Maraknya Aborsi


Eropa Krisis Generasi dan Maraknya Aborsi
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.
Pola kehidupan Barat menyebabkan sebagian perempuan tidak mau memiliki anak. Artikel tulisan Katara yang berjudul Why Some Women Don’t Want Children menyebutkan beberapa alasan kenapa sebagian perempuan Barat tidak mau memiliki anak.[1] Pertama, perempuan tidak menyukai anak-anak. Disamping pekerjaan yang banyak, perempuan menginginkan ketenangan tetapi dengan memiliki anak beban pekerjaan mereka bertambah. Mereka tidak mau membersihkan mainan anak-anak, menatanya kembali atau membersihkan dinding yang digambar, bahkan dalam artikel yang berjudul Married no Kids dinyatakan bahwa perempuan tidak mau dibebani tanggung jawab pekerjaan, keuangan apalagi jika mereka harus berhenti bekerja.[2]
Kedua, perempuan merasa tidak siap secara emosional dan finansial. Selain tidak siap secara emosional dan finansial, perempuan Barat tidak yakin partnernya akan membantunya ketika mereka memiliki anak. Kondisi keluarga yang dibangun di atas sex bebas ini menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya tidak ada tanggung jawab dari partner untuk membantu. Ketiga, perempuan ingin fokus mengejar karir. Perempuan-perempuan Barat merasa sudah berjuang untuk meraih kesetaraan di masyarakat yang didominasi laki-laki dan mereka merasa dengan memiliki anak akan menghambat karir mereka. Proses mengandung dan merawat bayi akan menyita waktu mereka, sehingga kesempatan dalam bekerja akan digunakan oleh kaum laki-laki. Ajaran gender begitu kuat mempengaruhi pola berfikir perempuan di sana sementara pemerintahan takut akan ancaman ekonomi dan berkurangnya ras mereka.[3]
Akibat maraknya aborsi[4] dan sebagian perempuan lagi tidak mau menikah atau memiliki anak,[5] Barat mengalami krisis generasi. Hari ini Barat menghadapi masalah serius yang mereka sebut dengan istilah Ageing in Uerope. Salah satu tokoh yang membahas masalah ini adalah George M. Barrow. Dia menulis buku yang berjudul Aging the Individual and Society. Dalam buku itu dia menyebutkan ada dua faktor utama meningkatnya jumlah penduduk yang tua, yaitu meningkatnya angka harapan hidup dan berkurangnya angka kelahiran.[6] Tingginya angka harapan hidup di Barat disebabkan beberapa faktor antara lain, berkurangnya angka kematian bayi, meningkatnya pelayanan kesehatan, dan tingginya nutrisi.[7]
Bahkan dalam sebuah artikel yang berjudul Urope Paying for Ageing Population, digambarkan bahwa anggaran negara-negara Barat mengalami defisit. Hal ini karena bertambahnya jutaan orang yang sudah tua. Mereka menyatakan bahwa defisit anggaran untuk membiayai pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan di rumah (Nursing homes) sedangkan angka kelahiran turun dan begitu pendapatan dari pajak. Sebagai gambaran adalah negara Jerman. Pada tahun 2030, diperkirakan bahwa mereka akan kehilangan 7 juta tenaga kerja dan harus menanggung biaya 8.5 juta orang yang pensiun. Sedang di negara-negara yang lain juga mengalami masalah yang sama. Berdasarkan laporan PBB, tahun 2050, penduduk Itali akan mengalami penurunan dari 57.5 juta menjadi 45 juta, Hungaria dari 10 juta menjadi 7.5 juta, Polandia dari 39 juta menjadi 33 juta, sedang Rusia mengalami pengurangan yang dratis yaitu 145 juta menjadi 100 jua.[8]
Pada tanggal 30 Juli 2010, Menteri Luar Negeri Austria dari People’s Party (VPO), Michael Spindelegger, membuat pernyataan yang menggegerkan berkaitan dengan kebijakan imigrasi aktif. Ia menyatakan bahwa Austria harus memberikan kesempatan kepada 100,000 warga asing (imigran) yang berkualitas untuk tinggal di Austria pada tahun 2030. Jika tidak, dikhawatirkan sistem sosial dan sistem kesehatan akan kolaps karena begitu sedikit tenaga kerja yang berkontribusi di kedua sistem tersebut saat ini, akibat penuaan sosial.[9]


                [4] Jumlah aborsi menurut data Centers for Disease Control (CDC) antara tahun 2000-2005 sekitar 850.000 setiap tahun. Data ini merupakan aborsi yang dilakukan secara legal padahal aborsi yang dilakukan secara illegal juga berjumlah besar. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Abortion_in_the_United_States
[5] Pada akhir-akhir ini muncul berbagai artikel yang menggambarkan penyebab angka kelahiran di Barat menurun. Artikel tulisan Katara yang berjudul Why Some Women Don’t want Children menyebutkan beberapa alasan kenapa sebagian perempuan Barat tidak mau memiliki anak. Pertama, perempuan tidak menyukai anak-anak. Disamping pekerjaan yang banyak perempuan menginginkan ketenangan tetapi dengan memiliki anak beban pekerjaan mereka bertambah. Mereka tidak mau membersihkan mainan anak-anak, menatanya kembali atau membersihkan dinding yang digambar. Bahkan dalam artikel yang berjudul Married no Kids dinyatakan bahwa perempuan tidak mau dibebani tanggung jawab pekerjaan, keuangan atau bahkan mereka harus berhenti bekerja. Kedua, perempuan merasa tidak siap secara emosional dan finansial. Selain itu, perempuan Barat tidak yakin partnernya akan membantunya ketika mereka memiliki anak. Kondisi keluarga yang dibangun di atas sex bebas ini menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya tidak tanggung jawab dari partner untuk membantu. Ketiga, perempuan ingin fokus mengejar karir. http://www.divinecaroline.com/22126/84463-some-don tchildren # ixzz1Gqay05pJAndrew
[6] Georgia M. Barrow, Aging the Individual and Society, Amerika: West Publishing Company, tt, hal. 15.
[7] Ibid, hal. 16.
[8] http://www.theage.com.au/articles/2004/04/09/1081326922168.html
[9] http://corpusalienum.multiply.com/reviews/item/68

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS