Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Selasa, 24 April 2012

PENDIDIKAN BERBASIS GENDER

Istilah gender sebenarnya mengacu pada pembagian kerja atau peran antara laki-laki dan perempuan. Tetapi istilah ini sekarang menjadi sebuah jorgan pergerakan kaum feminis yang menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan disemua lini kehidupan. Tuntutan feminis berawal dari penindasan yang dilakukan Barat klasik kepada perempuan. Kaum perempuan sebelum abad dua puluh tidak boleh melakukan transaksi jual beli, pendidikan mereka terbatas pada hal-hal yang biasa dilakukan perempuan di rumah dan mereka tidak mendapatkan hak waris. Salah satu agama yang berkembang di Barat ketika itu membolehkan perempuan bekerja tetapi hasilnya harus diserahkan kepada suami karena istri adalah milik suami. Suasana yang sama juga terjadi belahan bumi yang lain, di jazirah Arab sebelum Islam datang, sebagian suku mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka dan di India seorang istri harus dibakar hidup-hidup bersama jasad suami mereka (tradisi sati).
Feminisme yang muncul di tahun 1800 an ini menuntut sebuah perbaikan kondisi perempuan. Mereka menuntut pengakuan kepemilikan harta, hak suara dan hak pendidikan. Memasuki abad kedua puluh, upaya gerakan ini membuahkan hasil. Negara-negara Barat seperti Inggris, Perancis, Jerman dan Negara lain mengamandemen tuntutan feminis, bahkan tuntutan ini direstui Perserikatan Bangsa-bangsa dengan dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Eliminating of All Farms of Discriminating Against Women). Setelah itu, gerakan ini mendunia dan masuk di lingkungan pendidikan di hampir setiap Negara dengan progam mereka ‘women studies’. Semangat kemanusiaan ini sebenarya sejalan dengan prinsip ajaran Islam yang memiliki lima tujuan mulia yaitu menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Sejak abad ke-tujuh Islam telah mewajiban umatnya untuk belajar sebagai implikasi dari tujuan menjaga akal. Islam juga mengakui kepemilikan harta perempuan baik kegita masih bujang maupun telah menikah.
Kesamaan tujuan antara Islam dan Barat Modern untuk menjunjung martabat perempuan tidak dikuti kesamaan treatment. Islam dengan segala aturannya memiliki cara sendiri begitu juga Barat. Perjuangan Barat untuk mengangkat derajat perempuan telah menjatuhkan perempuan ke penderitaan juga. Persamaan dalam pelayanan, sikap dan tempat pendidikan telah mendorong sex bebas di kalangan pelajar. Tulisan Dr. Shahid Athar, seorang pakar Endokrinologi & Profesor di fakultas Kedokteran Universitas Indiana, AS, bisa dijadikan gambaran. Pendidikan seks sudah dikenalkan sejak kelas 2 hingga kelas 12 di sekolah negeri maupun swasta. Anggaran belanja yang diproyeksikan untuk progam ini sebesar US$ 2 milyar pertahun. Pendidikan hanya berputar pada pengenalan anotomi tubuh, sistem reproduksi pria dan wanita, pencegahan penyakit kelamin, dan pencegahan kehamilan remaja. Untuk pencegahan kehamilan dan penyakit ketika berhubungan seks, sekitar 76 sekolah membagikan kondom dan alat kontrasepsi gratis kepada murid, bahkan penyediaan kondom dibuat gampang dengan tersedianya mesin penyedia kondom (vending machines) yang beroperasi disekolah.
Semangat Barat untuk memuliakan perempuan tanpa bimbingan agama telah menjadikan pendidikan mereka gersang akan nilai dan norma. Berdasarkan pengalaman beragama mereka, mereka bahkan menuduh agama sebagai institusi yang telah menelantarkan mereka, apapun agama itu. Pergaulan bebas berkembang begitu liar dan pendidikan memfasilitasinya. Danelle dalam bukunya Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern mengatakan bahwa banyak universitas yang tidak lagi memisahkan asmara dan kamar mandi untuk mahasiswa dan mahasiswinya. Seorang mahasiswi bisa saja keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk lalu bertabrakan dengan mahasiswa yang sudah antri untuk masuk kamar mandi. Selain pendidikan yang gersang akan norma, semangat pendidikan yang bercorak Barat menjadikan laki-laki sebagai pesaing yang harus dikalahkan. Hal ini berdampak pada kurang harmonisnya hubungan laki-laki dan perempuan ketika menikah sehingga meningkatkan angka perceraian di Negara-negara Barat.
Sekarang pergaulan bebas mengancam peserta pendidikan di Indonesia. Laporan anak sekolah hamil dan pemerkosaan hampir setiap hari menghiasi surat kabar. Keadaan ini mendorong para pemerhati pendidikan untuk melakukan evaluasi tentang sistematika pendidikan yang tepat tanpa harus kehilangan tujuan mencerdaskan anak bangsa. Meskipun bukan yang pertama, sekolah Muhammadiyah 8 Surakarta Khusus Putri menjadi salah satu lembaga pendidikan yang bertujuan meningkatkan kemampuan kaum hawa dengan tetap menjaga identitas sebagai muslimah. Lembaga ini mengajarkan pelajaran berdasarkan kurikulum nasional dengan tambahan agama yang mampu mengarahkan moral mereka menjadi muslimah yang handal dalam keilmuan dan ruh agamanya. Lembaga ini menempatkan peserta didik yang steril dari murid laki-laki. Interaksi dengan laki-laki terbatas pada guru laki-laki dan keluarga mereka, sehingga mereka bisa focus dalam kegiatan belajar mengajar.
Selain komplek yang steril dari murid laki-laki, pengajaran agama yang mengarah pada pembentukan seorang muslimah yang kuat, sekolah ini juga menyediakan beasiswa bagi siswi yang kurang mampu. Beasiswa bervariasi mulai dari beasiswa pendidikan 50% - 100%. Untuk itu, kami menggandeng para A’niya (orang-orang kaya) untuk bergabung dengan lembaga ini menciptakan muslimah yang lepas dari kedholiman tetapi tetap dalam koridor ibadah kepada Allah.


Hub     : Warsito (085 229 803 176)                   

SMP Muhammadiyah 8 Khusus Putri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS