Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Jumat, 27 April 2012

Perempuan dalam Ajaran Kristen


Perempuan dalam  Ajaran Kristen
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.
Umat kristiani merupakan komunitas agama terbesar di dunia dengan populasi mereka mencapai 1.965.993.000.[1] Dengan jumlah pemeluk terbesar, sebenarnya agama kristen memiliki kesempatan untuk mengatur ataupun mewarnai peradaban dunia. Tetapi bangsa Eropa yang mayoritas penduduknya memeluk agama ini sudah mulai meninggalkan ajaran Kristen sejak akhir abad ke-14. Perasaan trauma di bawah kekuasaan gereja telah membawa Barat menjadi masyarakat anti agama atau paling tidak, mendorong mereka menerapkan sistem sekuler yang memisahkan agama dengan kekuasaan.[2]
Pembahasan perempuan menurut ajaran Kristen akan selalu bersinggungan dengan Barat Klasik. Hal ini karena gambaran ajaran ini bisa dilihat pada peradaban Barat Klasik. Kristen sebagai sebuah agama baru berkembang begitu pesat ketika kaisar Konstantin mendeklarasikan Kristen sebagai agama resmi Negara. Sejak deklarasi itu, Kristen berkembang begitu pesat sampai ketika Romawi runtuh gereja mengambil alih kekuasaan di dataran Eropa.[3] Keadaan perempuan di bawah kekuasaan gereja ini menjadi salah satu sumber kajian ini.
Saat ini, nilai sepiritual dalam jiwa umat manusia tergantikan dengan nilai-nilai materialistik. Sebenarnya bagaimana Kristen memandang perempuan, apakah mereka memberi kebebasan sebagaimana gaya hidup Barat saat ini? Realitas kehidupan yang menampakkan bagaimana perempuan Barat yang identik beragama Kristen disajikan dalam beberapa pembahasan berikut ini.
1.    Kedudukan Perempuan dalam Bible/Ajaran Kristen.
Kedudukan perempuan dalam ajaran Kristen terlihat pada cara kitab itu menggambarkan perempuan dalam ajarannya. Menurut ajaran Kristen, perempuan merupakan sumber segala dosa. Pandangan ini bermula pada kisah Hawa yang membujuk Adam untuk mengambil dan memakan buah terlarang di surga. Karena bujukan Hawa itu, Adam melanggar Perintah Allah dan membuat-Nya murka serta mengusir mereka dari surga. Setelah Adam dan Hawa diusir dari surga dan tinggal di dunia, kedurhakaan anak keturunan mereka kepada Allah semakin merajela. Menurut ajaran Kristen, dosa-dosa manusia di dunia hanya disebabkan oleh kesalahan Hawa. Mereka berpendapat jika Adam dan istrinya tidak diusir dari Surga, niscaya manusia akan tinggal penuh kedamaian di Surga.[4] Kisah itu menjadi dasar ajaran Kristen dalam melihat perempuan. Hal ini sebagaimana ajaran mereka dalam Genesis 3:1-16.[5]
Menurut ajaran Kristen, perempuan hari ini adalah makhluk pendosa sebagaimana Hawa, dan mereka harus diperlakukan sama seperti Hawa. Hal ini sebagaimana suara keras St. Paul dalam Perjanjian Baru: 
“Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengijinkan seorang perempuan untuk mengajar atau memerintah seorang laki-laki. Hendaklah ia berdiam diri karena Adam diciptakan pertama, kemudian barulah Hawa. Dan bukan Adam yang menggoda, melainkan perempuan itu yang tergoda jatuh ke dalam dosa.”
Pandangan Kristen yang merendahkan perempuan juga bisa dilihat dalam Bible eccelesiates 7 : 26-28 :
(26) Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya. (27) Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhotbah: Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan, (28) yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuan di antara mereka.
Pandangan ini menimbulkan sikap dan aturan dalam masyarakat kristiani yang merugikan dan menzalimi perempuan. Hal ini bisa dilihat pada hilangnya hak-hak kaum perempuan, seperti hak kebebasan, hak dalam kepemilikan masyarakat Barat sebelum abad ke 19, hak dalam perkawinan, dan hukuman yang tidak imbang atau adil antara laki-laki dan perempuan.
2.        Perempuan dan Kebebasan
Sebagian perempuan pada zaman Bible tidak mendapatkan kebebasan sebagaimana laki-laki. Orang tua bisa menjual anak perempuan menjadi budak. Kejadian ini berlangsung pada masyarakat kristiani sedang Bible tidak melarang kegiatan itu, sehingga ada kesan Bible mendiamkan atau membolehkan. Hal ini sebagaimana dalam Bible Keluaran 21:7
“Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak laki-laki keluar. Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus”.[6]
Sedangkan sebagian perempuan ada yang mendapat kemulian karena mereka adalah anak orang yang terpandang atau istri orang yang terpandang. Tetapi diamnya Bible terhadap kegiatan jual beli seorang wanita memberi gambaran bagaimana nilai seorang wanita ketika itu.
3.        Hak Perempuan dalam Pernikahan
Pengertian pernikahan, pernikahan adalah tahap kehidupan, yang di dalamnya laki-laki dan perempuan boleh hidup bersama-sama dan menikmati seksual secara sah.[7] Konsep pernikahan ini memiliki kesamaan dengan konsep pernikahan dalam Islam dimana keabsahan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan ditentukan dengan keabsahan proses pernikahan. Setelah menikah, seorang istri ikut suaminya dan tinggal dirumah sang suami.[8]
Dalam ajaran Kristen, pernikahan haruslah berlandasan perasaan cinta dua mempelai, maka mereka juga melarang praktek pemaksaan dalam pernikahan. Pernikahan dalam ajaran Kristen khususnya Katolik merupakan ikatan suci yang dipersatukan oleh Allah sehingga mereka mengharamkan perceraian[9] meskipun dalam keluarga sudah tidak ada keharmonisan antara pasangan istri.
Pernikahan umat kristiani memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat pernikahan itu adalah:
a.         Seiman / semadhab hal ini supaya dalam keluarga itu tidak terjadi perselisihan dalam keyakinan.
b.         2 saksi
c.         Hakim / Imam [10] 
Selain syarat pernikahan yang harus dipenuhi. Dalam tradisi agama kristen juga dikenalkan hal-hal yang menghalangi pernikahan mereka. Penghalang-penghalang dalam pernikahan mereka antara adalah:
a.         Beda agama atau madzab
b.         Menikahi yang sudah menikah (katolik)
c.         Hubungan darah[11]
Ajaran-ajaran dalam pernikahan ini yang hari banyak dilanggar sebagian penganut agama ini. Dimana pernikahan mereka tidak menganggap agama sebagai syarat sah suatu pernikahan. Selain itu, pernikahan sejenis yang dulu dikecam dan dianggap sebagai tindakan kotor sekarang menjadi legal di kalangan gereja.[12] Para pendukung homoseksual membuat tafsiran baru tentang ayat yang melarang sodomi. Kisah kaum Sodom dan Gomorah yang dibinasakan Allah karena melakukan sodomi ditafsirkan oleh John J. McNeill sebagai berita dari Allah tentang perilaku tidak baik kaum itu kepada tamu Lot dan bukan larangan sodomi.[13]
Masalah penyimpangan seksual dalam agama Kristen mengalami klimaknya ketika gereja Anglikan mengangkat Gene Robinson, seorang homoseksual, sebagai uskup. Sejak saat itu, gerakan homoseksual secara resmi mendapat legitimasi dari gereja.[14]   
4.         Hak perempuan dalam perceraian
Ajaran Katolik melarang setiap bentuk perceriaan, perempuan tidak memiliki hak untuk menceriakan suami sebagaimana laki-laki juga tidak memiliki hak menceriakan istri[15]. Pendapat ini berdasarkan Bibel Lukas. 16; 18: “Siapa yang menceraikan istrinya dan kawin dengan yang lain, berzina; dan siapa yang kawin dengan yang diceriakan suaminya, berzina”.
Pendapat katolik ini berbeda dengan pendapat protestan yang mengizinkan pemeluknya untuk bercerai ketika mereka mengetahui bahwa pasangan mereka melakukan perzinahan dengan orang lain. Pendapat ini berdasarkan Bible Matius 19;8. “barang siapa yang menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, kemudian kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah”.[16]
Posisi perempuan dalam ajaran protestan juga sulit jika para petinggi ajaran ini konsisten dengan Bible mereka. Dalam bible Lukas 16; 18 dinyatakan bahwa menikahi perempuan yang diceraikan suami adalah zina. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dalam Kristen protestan yang telah menikah tidak bisa menikah lagi ketika diceraikan oleh suami mereka.
Dalam protestan, seorang wanita boleh mengajukan cerai ke pengadilan dan pihak pengadilan yang meminta suami untuk menceraikan istrinya. Hal ini dijelaskan dalam Bible Markus 10;12 menggambarkan bolehnya perempuan mengajukan cerai di pengadilan dan pihak hakim yang akan meminta suami untuk menceraikan istrinya. Jadi hak istri hanya sebatas meminta atau mengajukan cerai dan pengadilan pun juga tidak bisa menceraikan mereka berdua karena hak menceraikan hanya ada pada laki-laki. 
Pendapat yang membolehkan cerai bukan merupakan kesepakatan para cendikiawan kristen. Dalam Bible Markus 10:12 terdapat perbedaan pendapat. Sebagian mereka tetap mengharamkan percerian karena pasal yang berbunyi. “suami yang menceriakan istrinya dan menikah dengan wanita lain, berzinah, dan seorang wanita yang menceriakan suami dan menikah lagi, berzinah”.
Kata berzinah dalam Bibel ini mengindikasi haramnya cerai, sedangkan yang lain berpendapat, boleh cerai tetapi tidak boleh nikah lagi, dan yang moderat tetap boleh cerai dan menikah.[17]
5.         Hukum Zinah bagi Perempuan
Perbuatan zinah dalam kitab Bible sangat di kecam. Tetapi dalam kitab suci mereka tidak dijelaskan definisi zinah secara jelas, sehingga tidak semua hubungan suami istri diluar nikah dihukumi zinah. Tapi dalam Kitab Yohanes 8;3 diterangkan hukum zinah.
“para ahli kitab Taurot dan orang-orang Farisi membawa kepadanya (yesus) seorang perempuan yang kedapatan berbuat Zinah. Mereka menempatkan perempuan itu ditengah-tengah lalu berkata kepada yesus : “rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sudah berbuat zinah. Musa dalam taurat memeintahkan kita untuk melempari perempuan yang demikian, apakah pendapatmu tentang hal itu?” mereka mengatakan hal itu untuk mencoba dia. ___ ia pun bangkit dan berkata : “barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Dari pembericaraan antara Isa as dan para pengikutnya ini, ada kesimpulan hukum bagi perempuan pelaku perbuatan zinah, yaitu mereka dilempari batu hal ini sebagaimana hukum nabi Musa yang disampaikan oleh orang yang paham Taurat, tetapi rincian pelaksanaan hukuman lempar batu bagi wanita yang berzinah tidak diterangkan dalam Bibel.
6.         Poligami dalam Ajaran Kristen
Poligami dalam ajaran Kristen hukumnya haram. Pengharaman poligami berdasarkan pendapat Paus Paulus. Dia mengaharam poligami bagi orang-orang gereja kalangan uskup, meskipun di antara mereka tidak setuju dan keluar dari pandangan-pandangan tersebut.[18] Sedangkan Bible yang menjadi kitab suci orang Kristen tidak mengharamkan poligami, hal ini didasarkan pada ayat yang menggambarkan tradisi poligami yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu orang Kristen seperti Ibrahim, Daud, dan Sulaiman dan Bible tidak mencela tindakan itu atau melarangnya.
Pendapat gereja yang mengharamkan poligami berdasar pada ayat yang tertera dalam injil Matius (19) yang multi tafsir:
“tidaklah kamu baca, bahwa Dia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firmannya, ‘sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.’

Sebagian pendiri aliran-aliran agama Masehi berbicara secara terbuka tentang poligami dan memujinya, misalnya Martin Luther, orang Jerman, pendiri aliran Protestan. Ia menganggap poligami sebagai sistem yang tidak terlepas dari syari’at agama Masehi. Pendeta ini berbicara dengan terang-terangan dalam setiap kesempatan tentang poligami dan memujinya. Dia pernah berkata, “Ya, sesungguhnya Allah telah mengizinkan poligami bagi tokoh-tokoh perjanjian lama (The Old Testament) dalam keadaaan-keadaan tertentu, akan tetapi orang Masehi yang ingin mencontoh mereka, maka dia berhak melakukannya kapan dia berkeyakinan bahwa keadaan dirinya mirip dengan keadaan mereka tadi. Tapi yang jelas poligami lebih baik daripada perceraian.” Dan aliran ini tersebar luas di Jerman dan negara-negara yang berdampingan dengannya.[19]
Pandangan lain yang setuju dengan poligami adalah pandangan pastur Eugene Hillman dalam bukunya “Polygamy reconsidered”. Dia menyatakan bahwa tidak ada satu tempat pun di perjanjian baru yang secara eksplisit menyatakan bahwa perkawinan harus monogamy atau ada ketentuan eksplisit yang melarang poligami. Pelarangan poligami oleh gereja Roma disebabkan mereka ingin menyesuaikan diri dengan kebudayaan Yunani-Romawi. Dia mengutip ucapan St. Augustine, “sekarang sungguh waktunya untuk memelihara adat istiadat Romawi, tidak diizinkan lagi beristri yang lain.”[20] Pendapat ini juga sesuai dengan pendapat Billy Garaham, seorang penginjil terkenal. Dia menyatakan bahwa ajaran Kristen tidak kompromi pada persoalan poligami, kalau ajaran Kristen tidak mampu menanganinya, maka akan membawa kerugian bagi dirinya. Islam telah mengijinkan poligami sebagai jalan keluar untuk mengatasi penyakit-penyakit masyarakat dan telah memperbolehkan sewajarnya pada naluri manusia dan diatur dalam kerangka hukum yang ketat. Negara-negara Kristen mempromosikan monogamy secara besar-besaran, tetapi kenyataannya mereka memprktekan poligami. Setiap orang tahu permainan “wanita simpanan” di dalam masyarakat Barat. Dalam hal ini Islam merupakan agama yang sangat jujur dan memperbolehkan seorang muslim untuk menikahi perempuan yang lain jika terpaksa, tetapi Islam melarang dengan ketat semua bentuk percintaan yang terselubung untuk menyelamatkan intergritas moral masyarakat.[21]
Pandangan gereja yang mengharamkan poligami ini juga bersebrangan dengan apa yang dilakukan para raja di Eropa. Raja Irlandia, De Tharmit memiliki dua orang istri, demikian juga dengan raja Perancis. Bahkan raja Perancis terkesan merubah dewan kerajaan mereka dengan banyak perempuan untuk bersenang-senamg dengan mereka. Raja Friedrich II juga memiliki dua orang istri dengan restu gereaja. Kaisar Ferdinand II pernah mengeluarkan keputusan kekaisaran, di mana menyebutkan dengan jelas kepada segenap rakyatnya agar mereka mengawini beberapa istri jika mereka menginginkannya. Dalam kasus ini, para uskup dan kepala-kepala gereja sama sekali tidak mengajukan keberatan terhadap undang-undang kekaisaran itu.[22]
Sebenarnya apa yang ditawarkan kepada kaum perempuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani mereka, sedang jumlah mereka terus bertambah melebihi jumlah laki-laki? Berikut hal-hal yang berkembang di masayarakat Kristen: Selibasi (tidak kawin) sebagian yang lain membunuh bayi perempuan, membolehkan seks bebas, termasuk di dalamnya prostitusi, seks tanpa nikah, homoseks, lesbian dan lain-lain. Permasalahan baru yang terjadi di masyarakat Amerika adalah man-sharing, yaitu satu orang laki-laki untuk beberapa perempuan. Hal banyak terjadi pada perempuan kulit hitam, mereka  melakukan hubungan gelap atau perselingkuhan dengan suami orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka. Untuk mengatasi permasalahan man-sharing pada masyarakat Afrika-Amerika, beberapa pengamat mengusulkan poligami dengan konsensus sampai ada reformasi hukum. Yang dimaksud poligami dengan konsensus adalah poligami yang disahkan oleh masyarakat sebagai lawan dari man-sharing.[23]
Philip Kilbridge, seorang antropolog Amerika yang ahli dalam bidang tradisi Katolik Roma, dalam bukunya yang berjudul, Plural Marriage for Our Time, mengusulkan poligami sebagai solusi untuk mengatasi berbagai penyakit masyarakat Amerika. Dia berargumen bahwa perkawinan yang plural mungkin dapat menjadi alternatif untuk mengatasi berbagai kasus perceraian yang berdampak pada rusaknya anak-anak. Dia berpendapat bahwa banyak perceraian yang disebabkan oleh hubungan seksual di luar nikah yang berkembang tidak terkontrol dalam masyarakat Amerika. Dia menegaskan bahwa poligami lebih baik daripada perceraian.[24]   
7.         Sejarah Kelam Perempuan dalam Peradaban Kristen
Ketika kekaisaran Romawi runtuh pada tahun 476 M, gereja tetap mempertahankan sistem administrasi Romawi dan memilihara elemen-elemen peradaban Yunani-Romawi.[25] Masa ini merupakan awal hegemoni kekuasaan gereja dan pada masa ini lahir sebuah institusi gereja yang sangat terkenal kejahatan dan kekejamannya yang dikenal sebagai “INQUISISI”. Institusi ini dibuat untuk menghukum kaum “Heretics” (kaum yang dicap menyimpang dari doktrin resmi Gereja) dan sejenis pelaku magic dan kekuatan yang dianggap berbahaya. Institusi kepausan ini dibentuk oleh Paus Gregory IX, pada tahun 1231.[26]
Kejahatan institusi Inquisisi Kristen dalam sejarah umat manusia digambarkan oleh Karen Armstrong, ‘mantan biarawati dan penulis terkenal’. Dia menyatakan bahwa kejahatan inquisisi merupakan tindakan kejahatan yang paling sadis. Inquisisi merupakan instrumen teror dalam Gereja Katolik sampai dengan akhir abad ke-17. Inquisisi menjadi pengawal suara gereja, dimana orang yang menyelisinya bakal mendapat hukuman yang sangat berat. Metode Inquisisi ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.[27]
Institusi inquisisi memiliki lebih dari 50 jenis dan model alat-alat penyiksa yang sangat brutal, seperti alat pembakar hidup-hidup, pencukilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85% korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita. Antara tahun 1450-1800 diperkirakan sekitar 2 sampai 4 juta wanita dibakar hidup-hidup di dataran Katolik maupun Protestan Eropa[28].
Kekerasan yang terjadi pada perempuan dan dilegitimasi ajaran gereja juga bisa lihat dari perkataan seorang pemimpin gereja dikepulauan Cook. Dia mengatakan “setiap kali saya memukul istri saya, dia harus berterima kasih pada saya, karena dengan begitu dia selangkah lebih dekat pada keselamatan.” [29] Kritik feminis terhadap kekerasan pada perempuan juga disampaikan dalam pesan paskah. Mereka mengatakan “kita memberdayakan perempuan agar dapat menentang penindasan dalam masyarakat global, dalam Negara kita, dalam dalam gereja kita.[30]


[1] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam, Jakarta: Gema Insani, 2004, cet pertama, hal. Xiv.
[2] Bentu-bentuk penentangan masyarakat Barat terhadap ke-pausan antara lain, di Italia, arakan-arakan dan kebaktian di ruang terbuka dilarang, komunitas-komunitas agama tercerai berai. Property gereja disita dan para pastor harus mengikuti wajib militer. Undang-undang yang bertentangan dengan kepausan diterbitkan, antara lain: undang-undang perceraian, sekularisasi sekolah-sekolah, dengan penghapusan terhadap sejumlah hari-hari suci. Di Jerman, pemerintah mengeluarkan “Kulturkampf” (perlawanan budaya” sebuah kebijakkan yang menentang ajaran katolik. Perintah agama dibawah komite-komite yang berada dibawah control orang awam. Para uskup dan pastor yang menolak kulturkampf didenda, dipenjara, dan dibuang. Di Belgia orang-orang Katolik yang bekerja sebagai guru diberhentikan, di Swiss, ordo-ordo keagamaan dilarang, di Austria, yang secara tradisional sebuah Negara Katolik, Negara mengambil alih sekolah-sekolah dan memberlakukan undang-undang untuk mensekulerkan pernikahan; di Perancis, muncul gelombang baru anti gereja. John Cornwell, Hilter’s Pope Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hilter, Yogyakarta: Beranda Publishing, 2008, hal: 7.   
[3] Agama Kristen pertama kali hidup tertindah di wilayah Roma sampai kaisar Konstantin mengeluarkan Edict of Milan yang berisi larangan penindasan agama monotheism. Setelah itu Kristen berkembang pesat dan pada tahun 392 M kekaisaran mengeluarkan Edict of Theodosius yang menetapkan Katolik sebagai agama Negara. pada tahun 476 M, kekaisaran Romawi Barat runtuh dan sejak saat itu kekuasaan di Barat di bawah pemerintahan Gereja sampai abad 14 dimana orang Barat menyebut sebagai renaissance yang berarti rebirth “lahir kembali”. Adian Husaini, Tinjauan Historis…. Hal 30.
[4] Dalam ajaran Islam, tidak ada ayat maupun hadist yang secara jelas menerangkan bahwa pelanggaran yang dilakukan Adam disebabkan oleh Hawa, tetapi Al-Qur’an menerangkan bahwa mereka berdua terperdaya oleh gangguan setan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 36.   
[5] Bunyi Bible Genesis/Bilangan 3:1-16. Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, (5) tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." (6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" (10) Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." (11) Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" (12) Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (13) Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (14) Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (15) Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (16) Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Alkitab. 2008. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta. Hal 3
[6] Al Kitab Penuntun.Lembaga Alkitab Indonesia. Malang. 2005. Hal 132
[7] J.D Dooglas, Ensiklopedi Al Kitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995, Jilid II, hal. 154.
[8] J.D Dooglas, Ensiklopedi Al Kitab… hal. 155.
[9]Katekismus Jerman, Pengajaran Gereja Katolik, Jakarta: Imprimatur, 1957, hal. 246.
[10] Katekismus Jerman, Pengajaran Gereja…. hal. 245.
[11] Katekismus Jerman, Pengajaran Gereja… hal. 246.
[12] Tokoh-tokoh gereja pada awal Kristen, seperti Clemen of Alexandria, St. John Chrysoston, dan St. Agustine mengutuk perbuatan Homoseksual. Agustine menulis:”perilaku memalukan sebagaimana yang dilakukan di Sodom haruslah tetap dibenci dan dihukum dimanapun, selamanya. Seandainya semua bangsa hendak melakukan hal itu, mereka sama bersalahnya di mata hokum Tuhan dan sekaligus tetap melarang kaum lelaki untuk melakukan hal itu.” Lihat Adian Husaini, Wajah Peradaban….. hal 4
[13] Adian Husaini, Wajah Peradaban….. hal 5. Dalam Leviticus 20:13 Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
[14] Adian Husaini, Wajah Peradaban….. hal 7
[15] Katekismus Jerman, Pengajaran Gereja... Hal 244
[16] Al kitab op. cit., hal. 26.
[17] J.D Dooglas, Ensiklopedi Al Kitab…, hal. 157.
[18] Karam Hilmi Farhat, op. cit., hal. 12.
[19] Ibid hal. 14.
[20] Hilman dalam Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit Perempuan dalam Tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, Yogyakarta, Gama Media, 2001, hal
[21] Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit…, hal. 73.
[22] Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit…, hal. 13.
[23] Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit…, hal. 70.
[24] Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit…, hal. 71.
[25] Adian Husaini, Wajah Peradaban…, hal. 31.
[26] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam, Jakarta: Gema Insani 2004, hal. 146.
[27] Adian Husaini, Wajah Peradaban…, hal. 34.
[28] Adian Husaini, Wajah Peradaban…, hal. 16.
[29] Zakiyatun Baidhawy, ed, Wacana Teologi Feminis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997, hal 41
[30]  Zakiyatun Baidhawy, ed, Wacana Teologi …, Hal 49

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS