Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Sabtu, 28 April 2012

Perempuan dalam Peradaban Barat


Perempuan dalam Peradaban Barat
Oleh, Warsito, S.P.d, M.P.I.
Pembahasan mengenai peradaban Barat tidak bisa dipisahkan dengan pembahasan bangsa-bangsa besar di Barat seperti, Yunani, Romawi, Inggris dan negara-negara besar yang lain. Di puncak peradaban Yunani, perempuan dipuja karena kecantikan dan daya tarik tubuhnya. Mereka merupakan alat pemenuhan naluri seks laki-laki dan perempuan diberi kebebasan untuk melakukan itu. Perempuan menjadi barang komoditi, mereka dihargai dan dipuja karena faktor bawaan sejak lahir yaitu kecantikan bukan karena sesuatu hasil yang mereka usahakan.[1] Ketika tradisi seperti ini berjalan terus menerus, maka yang berjalan adalah faktor hewani sedangkan akal yang menjadi barang berharga milik manusia di nomor duakan.
Di Yunani, nasib perempuan tidak jauh berbeda dengan perempuan di belahan bumi yang lain. Perempuan tetap terbelenggu hak dan kewajibannya. Bentuk pengingkaran terhadap hak-hak perempuan mencapai titik klimaknya dalam undang-undang perbudakan. Dampak undang-undang perbudakan ini lebih menghancurkan kaum perempuan daripada lainnya. Hal ini terjadi di Sparta. Di sana, seorang ayah membunuh tujuh dari 10 anak perempuannya yang lahir ke dunia.[2]
Pada awal imperium Romawi, perempuan telah mengukir lembaran emas dalam peradaban itu. Mereka dapat meraih kemerdekaan dan kekuasaan, serta prestasi luar biasa sebagaimana laki-laki. Tetapi pada abad pertengahan orang Romawi melakukan kebiadaban terhadap perempuan sampai mati, tanpa kesalahan apapun. Bentuk-bentuk kebiadaban tersebut antara lain:
1.      Mengikat kaki dan tangan perempuan dengan beberapa utas tali atau tambang dan ditarik beberapa penjuru sampai tubuhnya tercabik-cabik menjadi beberapa bagian.
2.      Mengikat sekelompok perempuan dan digantung pada sebuah tiang. Di bawahnya menyala api panas membakar, sehingga daging dan lemak tubuh para perempuan tadi berjatuhan sedikit demi sedikit ke tanah. Mereka mati dalam keadaan mengenaskan.[3]
Masih banyak kebiadaban Imperium Romawi terhadap perempuan. Ketika kerajaan Romawi bertambah besar dari hari ke hari. Tangga kejayaan dan kebesaran berhasil mereka gapai, sehingga tidak ada satu negara pun yang menjadi rivalnya. Dalam kondisi semacam itu, lahirlah keinginan untuk berfoya-foya dan bermewah-mewahan. Keinginan itu hanya terwujud dengan percampuran dua jenis manusia yaitu lelaki dan perempuan. Keinginan mereka lebih terinspirasi oleh kebiasaan-kebiasaan di Yunani dan pengikiut-pengikutnya di Romawi. Untuk itu, mulailah para lelaki menyingkap rahasia kaum perempuan. Mereka mulai berhasil mendapatkan apa yang mereka harapkan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya kaum perempuan menjadi decision maker dalam lapangan politik.[4]
Gaya hidup berfoya-foya dan bermewah-mewahan telah melahirkan kehancuran bagi imperium Romawi. Cita-cita kaum lelaki mati, kemauan mereka melemah, dan jiwa mereka menjadi kerdil dan hina. Akhirnya imperium Romawi mundur. Mereka menghadapi rival. Banyak pihak berlomba-lomba merebut kekuasaan. Pertumbahan darah terjadi di mana-mana dan kerusakan sudah melewati ambang normal sehingga Romawi hancur. Dalam kondisi seperti itu, terjadi perubahan pandangan kaum lelaki terhadap perempuan. Mereka mulai membenci perempuan bahkan kebencian itu bertambah dari hari ke hari. Akhirnya, mereka melakukan kebiadaban terhadap keum perempuan.[5]  
Berikut pembahasan yang lebih sistematik tentang perempuan dalam peradaban Barat sebelum masa Barat modern.
1.         Kedudukan Perempuan dalam pandangan Barat.
Orang Yunani berpendapat bahwa perempuan merupakan hak milik wali dan setelah nikah menjadi hak milik suami. Bahkan mereka mengatakan “kita memiliki istri supaya memiliki anak banyak”.[6] Bagi tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles di zaman pra-Kristen, diikuti oleh St. Clement dari Alexandria, St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas pada abad pertengahan, hingga John Locke, Rousseau di awal abad Modern, melihat citra dan kedudukan perempuan memang tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Wanita disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya[7].
Dalam padangan St. Jerome, wanita adalah akar segala kejahatan. Penilaian serupa juga dinyatakan oleh St. John Cryssostom, “tidak ada gunanya laki-laki menikah. Toh, perempuan tidak lain dan tidak lebih merupakan lawan dari persahabatan, hukum yang tak terelakkan, kejahatan yang diperlukan, godaan alami, musuh dalam selimut, ganguan yang menyenangkan, ketimpangan tabiat yang dipoles dengan warna-warna indah.”[8] Pada tahun 586 M, di perancis di adakan muktamar yang membahas apakah wanita itu manusia atau tidak? Kemudian ditetapkan bahwa wanita adalah manusia yang di ciptakan untuk melayani laki-laki saja.[9]
Pandangan Barat yang kurang menghargai perempuan ini juga terjadi pada abad modern sekarang ini. Mereka meletakkan perempuan sebagai kelas kedua setelah laki-laki, meskipun mereka juga menyuarakan gender ke negara lain. Sebagai contoh tentang perlakukan yang menomor-duakan perempuan adalah pelayanan kesehatan Amerika yang kurang peduli terhadap kesehatan perempuan. Penyakit Kardiovaskuler adalah penyakit yang membunuh setengah juta wanita di Amerika. Meskipun memakan korban wanita yang banyak, hampir seluruh studi mengenai penyebab dan pengobatan penyakit Kardiovaskuler dilakukan hanya pada pria. Sebagai contoh adalah, studi physician aspirin dosis rendah harian dalam pencegahannya melibatkan 22.071 pria dan tak seorang pun wanita.[10]
Contoh yang lain tentang sikap diskriminasi terhadap perempuan adalah Studi Multiple Risk Factor Intervention Trials yang mengevaluasi faktor gaya hidup dalam kaitannya dengan kolesterol dan perkembangan penyakit jantung, melibatkan 15.000 pria tanpa seorang pun wanita. Selain masalah penelitian yang mengabaikan perempuan sebagai object penelitian, dalam tataran pengobatan praktis pun juga terjadi perbedaan pelayaan antara laki-laki dan perempuan. Studi pada tahun 1981 hingga 1985 menunjukkan bahwa wanita yang melaksanakan dialisis ginjal (30%) lebih rendah kemungkinannya untuk menerima transplantasi kadaver dibanding pria. Perbedaan ini tetap ada meskipun faktor usia telah dikendalikan. Pada kelompok usia 46-60 tahun, wanita hanya separoh kemungkinan menerima transplantasi.[11] 
Perlakuan deskriminatif juga terjadi pada dunia olahraga golf jika arti persamaan antara laki-laki dan perampuan adalah persamaan dalam semua bidang.[12] Dalam olahraga golf, seorang perempuan di Amerika tidak mungkin bisa mengikuti tournament tertinggi (the Master). Hal ini karena the Augusta National Golf Club menolak keikutsertaan perempuan  dalam klub ini, padahal perhelatan turnamen golf tertinggi berada di tempat ini. Kebijakan yang menurut Martha Burk (ketua dewan nasional organisasi perempuan) diskriminatif ini sebenarnya sudah diprotes tetapi pihak klub tetap menolak keanggotaan perempuan. Bahkan ketua klub,  Hottie Johnson menolak klaim Burk dengan bahasa yang kasar dan mengatakan bahwa kebijakan itu bukanlah dirkriminatif.[13]
Menurut Julia T. Wood, diskriminasi terhadap perempuan juga terjadi di dunia kerja. Dia berargumen dengan tingginya angka pelecehan seksual baik secara verbal atau tindakan dalam dunia kerja khususnya di dunia militer. Sebagai contoh adalah skandal Thailhook dan Aberdeen dimana anggota militer laki-laki melakukan kekerasan terhadap anggota perempuan. Selain itu, sikap merendahkan perempuan (menurut feminis) juga bisa dilihat dari kebijakkan sebuah perusahaan yang memberi perlindungan kepada perempuan lebih banyak daripada pekerja laki-laki. Sikap deskriminatif yang lain adalah pemberian gaji yang lebih rendah dan lapangan pekerjaan yang kurang prestige (wibawa atau martabat) untuk perempuan. Dan yang terakhir adalah penolakan penampilan yang kurang feminim atau yang terkenal dengan sebutan Iron Maiden dalam dunia kerja.[14]
2.         Hak yang Terampas
Karena pandangan-pandangan yang miring itu, kaum lelaki melakukan banyak kedholiman terhadap perempuan. Dalam sejarah bangsa Romawi, seorang suami boleh menjual istri, menyiksanya bahkan membunuh.[15] Dalam kehidupan rumah tangga, seorang istri tidak boleh mengikuti urusan laki-laki. Pekerjaan mereka sebatas apa yang dilakukan di dalam rumah.[16] Di England, sampai dengan tahun 1805 M, pemerintahan membolehkan seorang suami menjual istrinya. Pemerintahan Inggris ketika itu hanya mengatur berapa harga seorang istri yang dijual. Pada tahun 1805 M. pengadilan melarang seorang suami menjual istri dan menetapkan 15 bulan bagi suami yang melanggar aturan.
Ketika terjadi revolusi perancis yang menuntut kebebasan dan kesamaan. Hal itu belum mampu memperbaiki nasib wanita. Undang-undang modern perancis sebelum tahun 1942  M masih menganggap wanita sebagai makluk yang kurang, mereka tidak boleh melakukan transaksi kecuali dengan izin walinya. Bahkan setelah itu, izin melakukan transaksi dan menggunakan harta hanya boleh bagi wanita yang belum bersuami, bagi mereka yang bersuami maka harus mendapatkan izin suami untuk melakukan transaksi.[17] Di Itali perempun di anggap seperti seorang pembantu, ketika suami duduk di kursi mereka duduk di lantai dan ketika suami pergi naik kuda istri berjalan kaki dibelakang.
Hak-hak perempuan yang hilang adalah hak kepemilikan. Ketika perempuan dan laki-laki menikah, mereka dianggap melebur menjadi satu, yaitu laki-laki. Dan seluruh harta istri dengan otomatis menjadi milik suami. Di Amerika, pada pertengahan abad 20, pemerintah baru mengatur hak kepemilikan seorang perempuan setelah menikah.[18]


[1] M. Quraish Shihab dalam Nasarrudin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2001, hal. Xxvvii.
[2] Ibid hal. 48.
[3] M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, Perempuan antara kezaliman Sistem Barat dan Keadilan Islam, Solo: Era Intermedia, 2002, cet pertama, hal. 44.
[4] M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, Perempuan antara …, hal. 45.
[5] Ibid hal. 46.
[6] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam wa al-Qowanin al-Alamiyah, Kuawit: Dar al-Wafa’. 2003 hal. 12.
[7] Syamsyuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008, cet pertama, hal. 104.
[8] Ibid hal. 105.
[9] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam..., hal 12
[10] Marge Koblinsky (edit), Kesehatan Wanita sebuah Perspektif Global, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1997, cet pertama, hal. 252.
[11] ibid
[12] Hal ini sebagaimana pandangan Beauvoir berargumen bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan berakar dari biologi, tetapi memang sengaja diciptakan untuk memperkuat penindasan terhadap kaum perempuan. Dia menuntut persamaan dalam semua bidang kehidupan. Dinar Dewi Kania. Op. cit., hal. 32.
[13]  Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 231
[14] Julia T. Wood, Gendered Lives (Communication, Gender, and Culture), United State of America: Wadsworth 2009, hal. 235.
[15] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam… hal. 12.
[16]Syamsyuddin Arif, Orientalis & Diabolisme…., hal. 105.
[17] Ibid  21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS