Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Minggu, 29 April 2012

Perempuan dalam Peradaban India


Perempuan dalam Peradaban India
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.
India merupakan negara yang besar dengan peradaban yang bersejarah baik sebelum Islam datang apalagi setelah Islam datang. Tradisi keilmuan India berkembang sangat maju pada zamannya. Seorang ilmuan muslim yang bernama Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M) dalam bukunya al-Jabar Wa al-Muqabilah mengenalkan angka nol (0) diambil dari India dalam ilmu al-Jabar dan sekarang berkembang menjadi ilmu Matematika.[1]
Peradaban India sebelum Islam datang lebih banyak di pengaruhi oleh ajaran hindu. Menurut Ajaran Hindu, supaya masyarakat menjadi baik mereka membagi komunitas menjadi 4 golongan, yaitu Brahma, ksatria, Waisya, dan Sudra. Setiap golongan memiliki fungsi yang berbeda antara satu dengan yang lain, hal ini sebagaimana dalam tubuh terdapat fungsi mulut, tangan, dada dan kaki. Keyakinan ini berkembang berdasarkan ajaran mereka dalam Weda.
“Sesungguhnya untuk tujuan kesejahteraan loka (masyarakat), ia tetapkan fungsi Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Serupa fungsi mulut, dada, dan kakinya”.[2]
Analogi yang dipakai ini sebenarnya tidak bisa dibenarkan karena kemulian dan kedudukan di masyarakat itu sesuatu yang bisa capai oleh siapa saja dan bukan sesuatu yang sudah di booking oleh suatu golongan. Tetapi dalam ajaran Hindu yang berkembang di India, kemulian itu milik kaum brahma dan akan diwariskan kepada anaknya. Untuk itu, kaum brahma yang menikah dan memiliki anak secara otomatis anak itu juga brahma. Begitu sebaliknya, anak sudra yang menjadi kasta terendah akan melahirkan anak yang berkasta sudra juga.  
Berikut aspek-aspek kehidupan perempuan yang penuh kesengsaraan dan kepedihan dalam sejarah India bahkan dalam peradaban Modern masih berjalan.
1.    Kedudukan Perempuan di India
Dalam peradaban India, perempuan juga menjadi makhluk yang kedua di bawah laki-laki. Hidup mereka menderita apalagi mereka yang berkasta sudra. Kehidupan mereka tidak lebih baik dari pada perempuan dalam peradaban yang lain atau bahkan lebih menderita. Kehidupan perempuan India ini yang di bahas oleh Babita and Sanjay Tewari dalam  buku mereka The History of Indian Woman: Hinduism at Crossroad with Gendr[3].
Kondisi perempuan yang dianggap sebagai makhluk kedua juga terjadi pada abad modern ini. Para ibu lebih menyukai memiliki anak laki-laki dari pada anak perempuan. Mereka menyusui anak-anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan, anak laki-laki lebih sering dirawat oleh dokter daripada saudaranya perempuan, selain itu anak laki-laki dididik lebih serius. Pandangan seperti ini bisa dilihat pada pertumbuhan klinik yang menawarkan amniocentesis untuk tes jenis kelamin. Pada awal 1980an penggunaan aamniocentesis untuk menentukan jenis kelamin janin begitu populer di pusat-pusat urban India. Dengan diiklankan sebagai sebagai “pelayanan kemanusiaan bagi perempuan yang tidak menginginkan anak perempuan lagi”. Diperkirakan 78.000 janin perempuan digugurkan antara tahun 1978 dan 1982.[4]  

2.    Perempuan dan Pernikahan
Perempuan dalam sejarah peradaban India menikah pada umur 8-10 tahun. Mereka (kaum laki-laki) membandingkan perempuan dengan hewan dan berada pada kasta yang rendah. Karena pernikahan dini ini, angka kelahiran meningkat begitu juga angka kematian ibu dan bayi.[5] Selain pernikahan dini, masalah maskawin menjadi permasalahan keluarga hindu India. Berdasarkan tradisi mereka, memiliki anak perempuan membutuhkan modal yang besar, karena mereka harus menyiapkan maskawin ketika anak perempuan menikah. Kondisi ini yang memunculkan pepatah di India “Membesarkan seorang anak perempuan sama saja seperti mengairi pohon rindang di halaman rumah orang lain”[6]
Masalah yang lebih mengerikan tentang mahar yang harus ditanggung pihak keluarga perempuan adalah “kematian mahar”. Pelecehan maskawin yang berakhir dengan pembunuhan atau usaha bunuh diri. Pembunuhan dilakukan suami dengan cara membakar istri. Maskawin dipandang oleh para calon suami sebagai cara untuk “menjadi cepat kaya”, sementara itu pengantin wanita semakin menderita jika permintaan uang serta barang tidak terpenuhi.[7]
Kematian wanita akibat kebakaran meningkat sajak tahun 1979, seiring dengan dimulainya komersialisasi maskawin. Kematian mahar biasanya tak terhitung. Hal itu dikarenakan suami dan keluarganya seringkali berusaha menutupi pembunuhan tersebut dengan menyebutnya sebagai usaha bunuh diri atau kecelakaan. Pembunuhan yang sering terjadi adalah membakar wanita dengan kerosin dan kemudian menyatakan bahwa ia meninggal karena kecelakaan di dapur. Maka dari itu, kematian seperti ini sering disebut sebagai “pemakaran istri”. Pada tahun 1990, polisi mencatat 4835 kasus kematian mahar di India, tetapi Ahmedabad Women’s Action Groub memperkirakan bahwa di Gujarat saja 1000 wanita dibakar hidup-hidup setiap tahunnya. Jelasnya, pembunuhan dan usaha bunuh diri dicatat sebagai “kecelakaan” meskipun ada yang disengaja.[8] 
3.    Janda dalam tradisi Hindu di India 
Kondisi janda pada peradaban India begitu memilukan, hak-hak mereka dibatasi, rambut mereka digundul bahkan mereka tidak diperkenankan menghadiri sebuah perayaan. Hak asasi yang menjadi kebutuhan biologis sebagai manusia juga dirampas. Sebagai janda, mereka tidak diperkenankan menikah lagi. Kekajaman ini yang menjadi pemicu para janda melakukan bunuh diri dengan mengikuti tradisi SATI.[9]
4.    Sati
Tradisi pembakaran seorang janda hidup-hidup dengan jasad suami mereka dikenal dengan tradisi Sati atau Sahagaman. Berdasarkan ajaran Hindu, seorang janda yang dibakar dengan  jasad suaminya akan masuk surga bersama. Sati diyakini lebih baik dari hidup dalam keadaan janda. Beberapa ajaran hindu seperti Medhatiti memiliki pandangan yang lain, mereka berpendapat bahwa Sati adalah sarana bunuh diri.[10] Hal ini sebagaimana dijelaskan pada pembahasan Janda dalam tradisi Hindu di India.
5.    Jauhar
Tradisi Jauhar memiliki kesamaan dengan Sati tetapi tradisi ini merupakan bunuh diri para istri secara masal ketika suami mereka masih hidup. Jauhar adalah tradisi masyarakat Rajput. Para istri mengorbankan diri mereka dengan cara membakar diri ketika para suami akan berperang. Hal ini diyakini menjadi pelindung kesucian perempuan dan seluruh kaum.[11]
6.    Pendidikan
Dalam peradaban India terutama India Utara, perempuan tidak mendapatkan akses pendidikan formal. Perempuan hanya mendapatkan pengajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga.[12]
7.    Kepemilikan
Sebagaimana perempuan pada peradaban yang lain, perempuan di India tidak memiliki hak kepemilikan benda. Bahkan hal ini berlalu sangat lama. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh pensiunan hakim kepala kantor pengadilan Delhi, Rajindar Sachar:
“Dari sudut sejarah, Islam sangat liberal dan progresif di dalam memberikan hak kepemilikan harta kepada perempuan. Adalah fakta bahwa tidak ada hak kepemilikan harta yang diberikan kepada perempuan Hindu sampai tahun 1956, yaitu ketika rancangan Undang-Undang Hindu disahkan, padahal Islam telah menganugerahkan hak ini kepada perempuan muslim lebih dari 1400 tahun yang lalu”.[13]
Gambaran-gambaran di atas merupakan realitas penderitaan perempuan di berbagai belahan dunia di mana kehidupan mereka yang sebenarnya mungkin lebih menderita. Hal-hal di atas tentu tidak bisa dibandingkan dengan perempuan dalam peradaban Islam.


[1] M. Abdul Karim. 2009. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Pustaka Book Publisher. Yogyakarta. Cet ke-2.
[2] Weda SMRTI Compendium Hukum Hindu, Direktoral Jenderal Bimas Hindu & Budha, Jakarta, Nitra Kencana Buana, 2003, Hal. 36.
[3] Babita and Sanjay Tewari, The History of Indian Women: Hinduism ar Crosroads With Gender, 2009
[4] Ibid hal. 68.
[5] Ibid hal. 37.
[6] Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, cet pertama, hal. 67.
[7] Marge Koblinsky, op. cit., hal. 266.
[8] Ibid
[9] Babita and Sanjay Tewari,  THE HISTORY OF INDIAN WOMEN, 2009, hal. 38.
[10] Ibid hal. 37.
[11] Ibid
[12] Ibid hal. 38.
[13] Wahiduddin khan, Antara Islam dan Barat perempuan di tengah Pergumulan, Jakarta: Serambi, 2001, cet pertama, hal. 53. 

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Wa'alaikum. Syukran kunjungannya

      Hapus
  2. Informasi yg sgt berguna.bagus dan membuka mata.

    BalasHapus
  3. Informasi yg sgt berguna.bagus dan membuka mata.

    BalasHapus

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS