Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Selasa, 17 April 2012

SEJARAH MUNCUL DAB BERKEMBANGNYA FEMINISME DAN GENDER


SEJARAH MUNCUL DAB BERKEMBANGNYA
FEMINISME DAN GENDER
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
1.      Pengertian Gender
Gender merupakan istilah baru yang muncul dalam dunia pendidikan termasuk pendidikan tinggi di Indonesia. Isu ini berkembang cukup cepat, para akademisi mendiskusikan istilah ini dalam workshop dan seminar-seminar. Istilah gender belum lama masuk dalam tatanan bahasa Indonesia, hal ini terbukti ketika penulis tidak menemukan istilah ini dalam kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan departemen pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia tahun 1988 atau dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminto yang diterbitkan balai pustaka edisi ketiga tahun 2006.
Meskipun kata gender belum masuk dalam perbendaraan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi istilah ini lazim digunakan dalam dunia pendidikan dan pemerintahan khususnya kantor kementerian Negara urusan peranan wanita dengan ejaan “jender”. Gender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.[1] Meskipun kantor kementerian menggunakan ejaan “jender”, tetapi dalam tesis ini, penulis menggunakan ejaan “gender”. Hal ini karena mayoritas buku-buku yang dijadikan rujukan baik berbahasa Indonesia maupun Inggris menggunakan ejaan “gender”. 
Istilah ini memiliki kandungan yang sangat besar, karena isu ini memaksa suatu komunitas untuk mengganti tradisi yang sudah berjalan berabad-abad bahkan para pejuang gender tidak segan-segan untuk memaksa suatu agama mengubah ajarannya yang tidak sesuai dengan tuntutan gender. Para penganut paham ini meletakkan gender sebagai standar kebenaran, sebagai contoh para feminis menuduh banyak ajaran Islam yang memandang perempuan sebagai mahkluk yang harganya separoh dari laki-laki. Ajaran-ajaran tersebut antara lain, hukum aqiqah dimana bayi laki-laki disunahkan menyembelih dua ekor kambing sedang bayi perempuan satu kambing, diyat laki-laki dua kali lipat diyat perempuan, perempuan disunahkan sholat di rumah sedang laki-laki di masjid.[2] 
Menurut para ahli, gender didefinisikan sebagai isu perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa Inggris istilah ini berkembang dengan beberapa variasi. Gender Bender adalah seseorang yang melakukan sesuatu seperti perbuatan lawan jenis. Tindakan laki-laki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya, perempuan yang melakukan tindakan seperti tindakan laki-laki. Gender Dysphora (dalam dunia kedokteran) adalah seseorang yang merasa bahwa ketika lahir dia memiliki organ kemaluan yang salah. Jadi seseorang merasa bahwa dia harusnya laki-laki tetapi memiliki kemaluan perempuan. Istilah lain yang berkembang adalah Gender Reas’signment. Gender Reas’signment adalah tindakan merubah anggota tubuh dengan cara operasi sehingga memiliki anggota tubuh lawan jenis dan nampak seperti lawan jenis.[3]
Nasaruddin Umar, seorang tokoh yang menulis disertasi doktoral tentang gender menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya.[4] Hilary M. Lips dalam Sex and Gender an Introduction menerangkan bahwa gender adalah harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Linda l. Lindsey menjelaskan bahwa gender adalah semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan. H.T Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka laki-laki dan perempuan.[5] 
Julia Cleves Mosse menjelaskan dalam bukunya “Half The World, Half a Change an Introduction to Gender and Development” bahwa gender adalah seperangkat peran, seperti halnya kostum dan topeng teather, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita perempuan atau laki-laki. Perangkat perilaku khusus ini mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles “peran gender”.[6] Definisi lain, gender berkaitan dengan konstruk sosial yang diberikan masyarakat tentang peran, sikap, aktivitas, dan attribut/perlengkapan yang dianggap sesuai bagi laki-laki dan perempuan.[7]
Perbedaan redaksi para ilmuan dan feminis dalam mendefinisikan gender, menurut penulis tetap mengacu pada persamaan meaning atau maksud yang mereka kehendaki, yaitu adanya perbedaan tugas, peran dan hak antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat. Perbedaan tugas, peran dan hak ini, kadang merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak yang lain, tetapi secara umum perempuan sering dirugikan. Sebagai contoh kasus maskawin menjadi permasalahan keluarga Hindu India. Berdasarkan tradisi mereka, memiliki anak perempuan membutuhkan modal yang besar, karena mereka harus menyiapkan maskawin ketika anak perempuan menikah. Kondisi ini yang memunculkan pepatah di India “Membesarkan seorang anak perempuan sama saja seperti mengairi pohon rindang di halaman rumah orang lain.”[8]
Perbedaan antara perempuan dan laki-laki ini ditentang oleh sebagian kelompok feminisme tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa perbedaan ini sesuatu yang alami. Hal ini yang menyebabkan timbulnya perbedaan antara dua kelompok feminisme atau gender yang bertolak belakang.
a.        Kelompok gender yang berpendapat bahwa perbedaan gender merupakan konstruk sosial sehingga perbedaan jenis kelamin tidak perlu mengakibatkan perbedaan peran dan perilaku gender dalam tatanan sosial.
b.      Kelompok gender yang berpendapat bahwa perbedaan jenis kelamin akan selalu berdampak terhadap konstruksi konsep gender dalam kehidupan sosial, sehingga akan selalu ada  jenis-jenis pekerjaan berstereotrip gender.[9]
2.      Sejarah dan Perkembangan Gender:
Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan gender tidak bisa terlepas dari sejarah pergerakan kaum feminisme di Barat. Maka pada pembahasan ini, penulis akan memulai dari pergerakan feminisme sampai akhirnya muncul istilah gender.
a.      Sejarah Muncul dan Perkembangan Feminisme
Kata feminis pertama kali ditemukan pada awal ke-19 oleh seorang sosialis berkebangsaan Perancis, yaitu Charles Fourier.[10] Terdapat perbedaan pendapat antara ilmuan tentang sejarah munculnya istilah feminisme.
Pendapat pertama menyatakan bahwa Istilah Feminisme berasal dari bahasa Latin Femina (perempuan). Hamid Fahmy Zarkasi mengutip pendapat Ruth Tucker dan Walter l. Liefeld dalam buku mereka yang Daughter of the Church yang menyatakan bahwa kata istilah feminis berasal dari kata fe atau fides dan minus yang artinya kurang iman (less in faith).[11]
Pendapat kedua disampaikan Jane Pilcher dan Imelda Whelehan dalam buku mereka yang berjudul Fifty Key Concepts in Gender Studies. Mereka menyatakan bahwa istilah feminism berasal dari bahasa Perancis yang muncul pada abad ke Sembilan belas. Feminisme merupakan istilah kedokteran yang menggambarkan unsur kewanitaan dalam tubuh laki-laki atau unsur kelaki-lakian dalam tubuh wanita. Setelah istilah ini masuk dalam kebendaharaan bahasa Amerika pada awal abad keduapuluh, istilah ini hanya mengacu pada nama sebuah kolompok pergerakan wanita.[12] 
Pendapat ketiga juga memiliki kesamaan dengan pendapat kedua dalam masalah asal kata. Julia T. Wood seorang professor humanity di Universitas North Carolina mengatakan bahwa kata feminism ditemukan di Perancis pada akhir tahun 1800. Istilah ini merupakan gabungan antara kata femme yang berarti perempuan dan suffix ism yang berarti posisi politik. Untuk itu, makna feminism yang asli adalah sebuah posisi politik tentang perempuan. Dalam perkembangannya, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, yaitu sebuah gerakan yang menuntut persamaan sosial, politik, dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan.[13]  
Istilah feminis sebagai nama suatu pergerakan aktivis perempuan dalam memperjuangkan hak mereka bukanlah yang pertama dalam tatanan bahasa. Sebelum istilah ini muncul, kata-kata seperti womanism, the woman movement, atau woman question telah digunakan terlebih dahulu.[14] Seiring berkembangnya gerakan kelompok feminisme ini, istilah-istilah di atas berubah menjadi feminisme hingga sekarang.
Gerakan feminisme berkembang dengan baik tidak hanya di Barat tetapi juga di Negara-negara timur. Salah satu faktor yang mendorong cepatnya gerakan femenisme adalah gerakan ini menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, melalui progam women studies. Bahkan gerakan ini mampu menyentuh bidang politik dimana gerakan perempuan ini telah mendapat “restu” dari perserikatan Bangsa-bangsa dengan dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Eliminating of All Farms of Discriminating Against Women).[15]
Setelah munculnya rekomendasi dari PBB, gerakan ini berkembang sangat pesat. Perkembangan gerakan ini bisa dilihat dari kebijakkan PBB yang menunjukkan keberhasilan mereka. Sejak 1990, UNDP (United Nations Development Program) melalui laporan berkalanya (Human Development Report) telah menyiapkan indikator untuk mengukur kemajuan suatu negara. Selain pertumbuhan GDP (Growth Domestic Product) mereka menambah (Human Development Index) HDI. HDI digunakan untuk mengukur kemajuan suatu negara dengan melihat usia harapan hidup (life expectancy), angka kematian bayi (infant mortality rate), dan kecukupan pangan (food security). Sehingga inti kemajuan suatu negara adalah meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Setelah lima tahun, UNDP menambah konsep HDI dengan kesetaraan gender (Gender Equality).[16]
Sejak UNDP memasukkan kesetaraan gender dalam HDI, maka faktor kesetaraan gender harus selalu diikutsertakan dalam mengevaluasi keberhasilkan pembangunan nasional. Perhitungan yang dipakai adalah GDI (Gender Development Index) dan GEM (Gender Empowerment Measure). Perhitungan GDI mencakup kesetaraan antara pria dan wanita dalam usia harapan hidup, pendidikan, dan jumlah pendapatan. Sedangkan perhitungan GEM mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik dan dalam beberapa sektor yang lainnya. Ukuran ini bertitik tolak pada konsep kesetaraan sama rata.[17]
Perkembangan gerakan feminisme juga terasa di Indonesia dengan diratifikasinya isi CEDAW sehingga keluarlah UU no. 7 tahun 1984. Setelah itu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan undang-undang perlindungan anak. Selain itu, mereka juga berusaha melakukan legalisasi aborsi melalui amandemen UU kesehatan. Dalam bidang politik, feminis berada di belakang keluarnya UU pemilu tahun 2008 tentang kuota caleg perempuan sebanyak 30 persen.[18] 
Sejarah muncul dan perkembangannya Feminisme secara umum dibagi menjadi 3 gelombang yaitu:
1)      Gelombang pertama
Gerakan feminisme gelombang pertama secara luas diketahui terjadi antara tahun 1880 dan 1920. Gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran Mary Wollstonecraft lewat bukunya yang berjudul ‘Vindication of the Rights of Women’. Buku ini dipublikasikan di Inggris pada tahun 1792.[19] Buku ini memberi pengaruh sangat besar dalam pergerakan feminisme di dunia, bahkan Winifred Holtby menganggap buku ini sebagai “Bible-nya gerakan perempuan di Inggris”.[20] Wollstonecraft seorang pioner feminisme yang berusaha membongkar batasan-batasan pandangan subjektif tentang gender yang melebihkan laki-laki dan merendahkan perempuan. Dia pernah menulis artikel tentang hal itu yang berjudul ‘the Fictionality of Both Femininity and Masculinity.’[21]
Perhatian feminis gelombang pertama adalah memperoleh hak-hak politik dimana mereka menuntut hak suara dalam pemilihan umum. Selain itu, mereka juga menuntut akses pendidikan, kesempatan ekonomi yang setara bagi kaum perempuan, miliki hak pernikahan dan cerai. Feminis berargumentasi bahwa perempuan memiliki kapasitas rasio yang sama dengan laki-laki.[22]
Aksi politik feminisme yang dimotori oleh kaum feminis liberal telah membawa perubahan pada kondisi perempuan saat itu. Mereka berhasil mendapat hak pilihnya dalam pemilu pada tahun 1920, dan mereka juga berhasil memenangkan hak kepemilikan bagi perempuan, kebebasan reproduksi dan akses yang lebih dalam bidang pendidikan dan profesionalan.[23]
2)      Femenisme Gelombang Kedua.
Gerakan feminisme sempat melemah ketika terjadi perang dunia pertama dan kedua. Gerakan ini menguat kembali pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an.[24] Meskipun menguat kembali pada akhir tahun 1960an, gelombang kedua sudah muncul pada tahun 1949, hal ini ditandai dengan munculnya publikasi Simone de Beauvoir yang berjudul ‘Second Sex’. Buku ini dipublikasikan lima tahun setelah wanita Perancis mendapat hak kebebasan mereka yang pertama kalinya. Buku ini merupakan dokumen yang penting bagi feminis modern sebagimana buku Betty Friedan yang berjudul ‘The Feminine Mistique’.[25] Beauvoir berargumen bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan berakar dari faktor biologis, tetapi sengaja diciptakan untuk memperkuat penindasan terhadap kaum perempuan.[26]
Pada gelombang kedua, tuntutan kaum feminis tidak hanya pada bidang politik dan hukum, tetapi mereka menuntut hak mereka yang lebih luas. Pada gelombang kedua, para feminis mengangkat isu liberation atau kebebasan ditengah-tengah tekanan masyarakat patriakhy. Para feminis menilai isu (equality) persamaan tidak dapat dicapai dengan pemberian hak memilih sehingga mereka merasa gelombang kedua sebagai waktu yang tepat untuk muncul di ranah publik.[27] Mereka menuntut persamaan dalam lapangan pekerjaan, baik dalam mendapatkan upah maupun mendapatkan kedudukan dalam tempat kerja, tuntutan dalam pendidikan, dan masalah pekerjaan rumah tangga.[28] 
3)      Feminisme Gelombang Ketiga,
Gerakan feminisme berlanjut sampai muncul gelombang ketiga pada awal tahun 1990an. Pada gelombang ketiga, gerakan ini memfokuskan sesuatu yang tidak terdapat pada tuntutan gelombang kedua. Gerakan ini masih melihat adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam ras, etnik atau bangsa tertentu.[29] Mereka menuntut keseragaman dalam mendapatkan hak antara orang kulit putih dan hitam, karena dalam sejarah, perempuan kulit hitam lebih menderita daripada perempuan kulit putih.[30]
Aktivis feminis pada gelombang ketiga sering mengkritik feminis pada gelombang kedua yang kurang memperhatikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi ras, eknik atau bangsa.[31] Kritik feminis gelombang ketiga kepada feminis gelombang kedua secara jelas disampaikan Lesley Heywood dan Jennifer Drake yang mendeklarasikan diri sebagai ‘post-feminist’ dan menyatakan bahwa mereka bersebrangan dan mengkritik feminis gelombang kedua.[32]
b.      Sejarah Munculnya Gerakan Gender:
Gerakan gender adalah salah satu hasil kreasi gerakan feminisme. Feminisme sebagaimana telah dibahas pada pembahasan sebelumnya adalah sebuah kelompok gerakan wanita yang protes terhadap pandangan dan sikap Barat terhadap perempuan. Pandangan  Barat terhadap perempuan yang dipengaruhi oleh ajaran gereja menganggap perempuan sebagai penyebab Adam keluar dari surga, dan wanita sebagai sumber dosa.[33] Ajaran-ajaran gereja inilah yang mendorong laki-laki berlaku semena-mena, baik dalam aspek ekonomi, pendidikan, sosial, maupun politik, sehingga wanita selalu tertindas. Tidak hanya itu, ketika gereja mendirikan institusi Inquisisi untuk menghukum umat kristiani yang menyeleweng dari ajaran gereja, perempuan menjadi korban paling banyak.[34]
Gender merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi biologis dan perbedaan dari segi peran serta sikap. Gerakan ini muncul pada awal 1970an.[35] Dalam hal ini, Hamid berpendapat bahwa kondisi perempuan dalam tradisi Barat kuno merupakan faktor penting dalam melahirkan wacana dan bahkan teori feminisme dan gender. Untuk itu, ia menyimpulkan bahwa kedua gerakan itu (feminisme dan gender) merupakan konstruk sosial masyarakat Barat post-modern yang misi utamanya adalah mengembangkan kesetaraan (equality).[36]  
c.       Kenapa Gender dan Bukan Perempuan
Masalah gender adalah masalah pemberdayaan perempuan sehingga mereka bisa bersaing dengan laki-laki di ranah publik. Para feminis menginginkan perempuan bisa menjabat posisi strategis dalam pemerintahan, organisasi, maupun perusahaan meskipun harus keluar rumah. Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka menggunakan istilah gender dan bukan perempuan?
Penggunaan istilah perempuan sebagai jargon pergerakan akan menghambat pergerakan itu sendiri. Kata perempuan telah menempati posisi tertentu dalam masyarakat secara global. Sebagai contoh adalah perempuan berposisi sebagai ibu dalam keluarga. Padahal gerakan ini ingin membangun sebuah gambaran baru bahwa perempuan itu seorang yang mandiri, pemimpin dan gambaran lain yang jauh dari tugas tradisionalnya. Istilah gender adalah istilah yang menggambarkan peran laki-laki dan perempuan. Dengan menggunakan istilah ini, mereka ingin membangun gambaran baru tentang pembagian tugas yang seimbang (menurut feminis) antara laki-laki dan perempuan. Dengan nama baru ini, mereka ingin masyarakat bisa menerima peran baru yang usung aktivis feminis.[37]  
d.      Landasan Teoritis dan Ideologis Kesetaraan Gender
Teori-teori dan ideologis kesetaraan gender semua bermuara pada teori sosial besar yaitu:
1)      Teori Struktural-Fungsional.
Pendekatan teori ini adalah pendekatan teori sosiologi yang diterapkan dalam institusi keluarga. Keluarga sebagai sebuah institusi dalam masyarakat mempunyai prinsip-prinsip yang serupa dengan prinsip-prinsip yang ada dalam masyarakat. William F. Ogburn dan Talcott Parsons adalah para sosiolog ternama yang mengembangkan pendekatan struktural-fungsional dalam kehidupan keluarga pada abad ke-20. Pendekatan ini mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Pengakuan keragaman ini merupakan sumber utama adanya struktur masyarakat dan pengakuan akan adanya perbedaan fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem.[38]
2)      Teori Konflik
Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori Konflik menfokuskan pada perubahan sosial dan situasi konflik. Hal ini disebabkan terbatasnya sumber daya sedang setiap individu atau kelompok membutuhkannya.[39]
Secara teoritis, teori ini merupakan pengembangan dari paham materialisme yang memiliki pengaruh kuat pada abad ke-17. Thomas Hobbes (1588-1679) adalah orang yang paling berpengaruh dalam mengembangkan paham materialisme. Menurut Hobbes, manusia memiliki sifat dasar, yaitu sifat rakus yang tidak pernah terpuaskan, penipu, dan tidak ada rasa belas kasih. Sifat-sifat ini yang akan membuat kondisi masyarakat penuh dengan konflik.[40]
Pendapat Karl Marx yang kemudian dilengkapi oleh Friedrich Engels mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga.[41] 
3)      Teori Psikoanalisa/Identitas
Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh seksualitas. Freud menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego.
Pertama id, id merupakan pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung selalu agresif. Ia mendorong seseorang untuk mencari kesenangan dan kepuasan. Yang kedua ego, ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Yang ketiga superego, superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan.[42]
Perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh lima tahapan psikoseksual. Freud menghubungkan kepuasaan insting seksual dengan anggota badan tertentu. 5 tahap itu
a)      Oral stage, masa ini terjadi pada bayi yang mengisap susu dari mulut (pada tahun pertama)
b)      Anal stage, masa ini terjadi pada tahun kedua, ketika seorang bayi mengeluarkan kotoran dari dubur.
c)      Phallic stage, masa phallic terjadi ketika anak mulai mengidentifikasi kemaluannya, seorang anak laki-laki mendapatkan kesenangan erotis dari penis sedang perempuan dari clitoris.
d)     Talency stage, Talency stage merupakan kelanjutan tingkat sebelumnya, pada masa ini, kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa pubertas.
e)      Genital stage, saat kematangan seksualitas seseorang.[43]
Teori ini menyatakan bahwa pada masa Phallic yaitu sekitar umur 3-6 tahun, seorang anak bisa mendapatkan kesenangan ketika memainkan alat kelaminnya. Ketika masa ini mereka bisa mengidentifasi diri mereka. Anak laki-laki merasa mirip ayah dan anak perempuan mirip ibu. Anak laki-laki merasa superior karena memiliki penis sedang perempuan merasa inferior karena tidak memiliki penis. Sejak saat itu terjadi sifat cemburu perempuan kepada laki-laki.[44]
4)      Teori  Feminism
a)      Feminism Liberal
Tokoh aliran ini antara lain Margaret Fuller (1810-1850), Harriet Martineu (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan Susan Anthony (1820-1906). Dasar pemikiran kelompok ini adalah semua manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan seimbang dan serasi. Oleh karena itu, tidak terjadi penindasan antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Meskipun dikatakan sebagai feminis liberal, kelompok ini tetap menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa hal, terutama fungsi reproduksi, aliran ini tetap memandang perlu perbedaan. Bagaimanapun juga perbedaan organ membawa kosekuensi logis di dalam kehidupan masyarakat. Kelompok ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Sehingga tidak suatu kelompok yang lebih dominan.[45]
Untuk merealisasikan tujuan mereka, aktivis feminis liberal melakukan dua hal penting. Pertama adalah dengan melakukan pendekatan psikologis. Mereka mengadakan diskusi-diskusi, tanya jawab dan sharing seputar buruknya kondisi perempuan di masyarakat yang dikuasai laki-laki. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran individu untuk melawan dominasi laki-laki. Kedua adalah dengan menuntut pembaharuan hukum yang dianggap tidak menguntungkan perempuan. Pembaharuan itu mencakup penghapusan hukum yang lama dan membuat hukum baru yang memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki.[46]
b)      Feminism Marxis-Sosialis
Tokoh aliran ini adalah Clara Zetlin (1857-1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919). Aliran ini berupaya menghilangkan stuktur kelas dalam masyarakat yang berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara dua jenis kelamin lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Kelompok ini berpendapat bahwa ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan di dalam lingkungan rumah tangga.[47]
Menurut feminisme Marxis, sebelum kapilatisme berkembang, kebutuhan keluarga untuk bertahan ditanggung seluruh anggota keluarga termasuk perempuan. Mereka merupakan kesatuan produksi. Tetapi setelah kapitalisme berkembang, institusi keluarga bukan lagi sebuah kesatuan produksi. Semua kebutuhan manusia berpindah dari rumah ke pabrik. Saat itu terjadi pembagian kerja berdasarkan seksual. Para suami bekerja di sektor publik dan mendapatkan upah sedang perempuan bekerja mengurus rumah tanpa mendapat upah. Karena nilai eksistensi manusia dinilai dari kepemilikan materi maka perempuan dinilai lebih rendah dari laki-laki. Untuk mengangkat derajat perempuan sejajar dengan laki-laki maka mereka harus ikut dalam kegiatan produksi dan kegiatan di sektor publik dan meninggalkan sektor domestik.[48]  
c)      Femenisme Radikal
Kelompok ini muncul pada permulaan awal abad ke-19. Feminisme Radikal menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Selain iu, kelompok ini menuntut persamaan seks. Menurut mereka, kepuasan seksual juga bisa diperoleh dari sesama perempuan sehingga mereka mentolerir lesbian.[49]
Menurut penulis, inti perjuangan semua aliran femisme ialah mereka berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan persamaan status serta peran sosial antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak ada lagi terjadi ketimpangan gender di dalam masyarakat.
5)      Teori Sosio-Biologis.
Teori ini dikembangkan oleh Pierre van den Berghe, Lionel Tiger dan Robin Fox. Teori ini melibatkan faktor biologis dan sosial dalam menjelaskan relasi gender. Laki-laki dominan secara politis dalam semua masyarakat karena predisposisi biologis bawaan mereka. Dalam dunia hewan pun, jenis jantan memperlihatkan perilaku lebih kasar, mengancam, dan unggul dari pada betina. Kenyataan lain bahwa laki-laki umumnya lebih besar dan kuat fisiknya secara konstan dibanding perempuan yang sewaktu-waktu mengandung dan menjalani menstruasi. Kenyataan ini memainkan peran penting dalam aspek pembagian kerja menurut jenis kelamin. Masyarakat akan lebih diuntungkan kalau laki-laki yang bertugas sebagai pemburu dari pada perempuan, sedang mengandung, melahirkan dan menyusui adalah tugas perempuan yang tidak mungkin diganti oleh laki-laki. [50]
e.       Konsep Gender: Nature vs Nurture
Teori Nature atau Biological Essensialism adalah sebuah teori umum yang beranggapan perbedaan fungsi serta peran antara laki-laki dan perempuan disebabkan karena adanya perbedaan alamiah sebagaimana tercemin di dalam perbedaan anatomi biologis kedua makhluk tersebut. Teori ini meyakini ada hubungan yang kuat antara biologis (sex) dengan sifat atau karakter lekaki dan perempuan.[51]
Teori Nurture adalah sebuah teori yang berpendapat bahwa perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki serta perempuan disebabkan oleh faktor budaya dalam suatu masyarakat. Teori Nuture menolak teori Biological Essensialism, mereka meyakini bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminim bukan pengaruh biologi melainkan kulturisasi.[52]


[1] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 35.
[2] Sri Suhandjati Sukri (edit), Pemahaman Islam…, hal 90
[3] A S Horby, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English, New York: Oxford University Press,  2005, Edisi ke-7, hal. 644.
[4] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 35.
[5] Ibid, hal. 33-34.
[6] Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembanguan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, hal. 3.
[7] http://www.who.int/gender/whatisgender/en/index.html. Gender refers to the socially constructed roles, behaviours, activities, and attributes that a given society considers appropriate for men and women.
[8] Julia Cleves Mosse, Gender .., hal. 67.
[9] Ratna Megawangi,  Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan,  1999, Cet pertama, hal. 20.
[10] Ibid
[11] Hamid Fahmy Zarkasyi “Problem Kesetaraan Gender dalam Studi Islam,”  Islamia, Vol III No.5,2010.  Hal 3. Edisi tulisan dalam bahasa Inggris sebagai berikut. “The very  word to describe woman, femina, according to the authors (of Witches hammer) is derived form fe and minus or fides and minus, interpreted as less in faith.”
[12] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, Fifty Key Concepts in Gender Studies, London: Sage Publication, 2004, Hal. 48.
                [13] The word feminism was coined in France in the late 1800s. it combined the French word for “woman” femme, with the suffix ism, meaning “political position.” Thus feminism originally meant “a political position about women”. ---- feminism is defined as “a movement for social, political, and economic equality of women and men.” Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 3.
[14] Sheila dalam Dinar Dewi Kania, “Isu Gender: Sejarah dan Perkembangannya” Islamia voll No. 5,2010, Hal. 29.
[15] Ibid hal. 26.
[16] Ratna Megawangi, Membiarkan..., Hal. 24.
[17] Ibid
[18] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...,  hal. 27.
[19] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 52.
[20] Gill Plain and Susan Sellers, A HISTORY OF FEMINIST LITERARY CRITICISM, Cambridge University Press, 2007, hal. 9.
[21] Ibid hal. 8.
[22] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 53.
[23]Ann Cudd E dan O Robin Andreasen dalam Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 31.
[24] Shilpi Gole, “Feminist Literary Critism”, Language in India. Vol 10, (4 april 2010), hal. 404.
[25] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 145.
[26] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 32.
[27] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 144.
[28] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[29] Ibid
[30] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah..., hal. 33.
[31] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[32] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal 170
[33] Alkitab, Kejadian 3:1-7, Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, 2008, Hal. 3.
[34] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat …, Jakarta: Gema Insani, 2005, hal. 16.
[35] Ibid hal. 56.
[36] Hamid Fahmy Zarkasyi, Problem Kesetaraan…, hal. 4.
[37] Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, Hal.  8.
[38] Ratna Megawangi, Membiarkan…, hal. 56.
[39] Bernard Raho, http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik#cite_note-0
[40] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 76-77.
[41] Nasarrudin, Argumen Kesetaraan…., hal. 61.
[42] Ibid hal. 46.
[43] Ibid hal. 47.
[44] Sigmund freud dalam Nasarrudin, Argumen Kesetaraan., hal. l 49.
[45] Ibid hal. 65.
[46] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian..., hal. 47.
[47] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 66.
[48] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian…, hal. 49.
[49]  Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 67.
[50] Ibid hal. 68.
[51] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 94.
[52] Ibid 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS