Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Minggu, 22 April 2012

SEJARAH PEREMPUAN DI JAZIRAH ARAB


Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.
Di Jazirah Arab jahiliah[1], perempuan menjadi standard untuk mengukur keberanian dan kedermawanan seorang laki-laki. Seseorang dianggap memiliki keberanian dan kedermawanan manakala dia menjadi bahan pembicaraan para perempuan. Tidak hanya itu, para perempuan juga memiliki pengaruh yang besar yang bisa membuat dua kabilah melakukan peperangan atau perdamaian.[2] Pengaruh perempuan yang kuat ini tidak serta merta menggambarkan akan kekuasaan yang mereka miliki di tengah masyarakat Arab Jahiliah. Hal ini karena dalam masalah yang lain, mereka tidak dihargai. Dalam kehidupan keluarga, mereka tidak memiliki hak untuk mendapatkan harta waris, tidak mendapat hak memilih pasangan hidupnya, dan mereka bahkan diwariskan kepada anggota keluarga laki-laki ketika ditinggal mati oleh suami mereka.[3] Kondisi perempuan Arab sebelum Islam datang bisa dilihat dalam beberapa hal sebagai berikut:

1.      Masalah Pernikahan
Institusi keluarga dalam tradisi Arab Jahiliah juga diikat dengan tali pernikahan sebagaimana kondisi masyarakat hari ini. Di posisi ini, perempuan berada di pihak yang tidak diuntungkan. Mereka tidak memiliki hak untuk memilih ataupun menolak calon suami yang ditentukan walinya.[4] Hanya beberapa perempuan yang bisa menentukan calon suaminya. Salah satu dari mereka adalah Khadijah[5] yang memilih Muhammad SAW sebelum diutus menjadi Nabi dan Rasul.[6] Sedangkan perempuan secara umum berada dalam kontrol kaum laki-laki. Dalam masyarakat Arab jahiliah, mereka mengenal empat macam pernikahan. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh A’isyah yang diriwayatkan oleh Bukhari.[7]
a.       Pernikahan yang pertama adalah pernikahan seperti yang terjadi hari ini. Yaitu, seorang calon suami melamar calon istri lewat walinya dan memberinya mahar kemudian keduanya dinikahkan oleh wali. Dalam pernikahan ini, tidak ada unsur kezaliman kecuali seorang perempuan tetap tidak memiliki pilihan untuk menolak atau menerima calon suami mereka. Kejadian ini terus berlanjut secara turun-temurun sampai Islam mampu menguasai Arab. Maka salah satu kebebasan yang diberikan Islam kepada perempuan dalam masalah pernikahan adalah kebebasan memilih calon suami. Hal ini sebagaimana kisah seorang gadis yang dipaksa nikah oleh ayahnya. Gadis itu kemudian mendatangi Nabi SAW dan menceritakan masalahnya. Mendengar cerita gadis itu, Nabi SAW memberinya pilihan, apakah melanjutkan pernikahannya atau membatalkannya. [8]
b.      Pernikahan kedua adalah pernikahan Istibdha’. Yaitu, seorang suami meminta istrinya yang dalam keadaan suci[9] untuk berhubungan badan dengan laki-laki lain. Setelah itu dia tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya sampai nampak jelas bahwa istrinya hamil dengan laki-laki tersebut. Setelah mengetahui istrinya hamil, dia kembali berhubungan badan dengan istrinya lagi. Hal ini dilakukan karena orang tersebut ingin memiliki keturunan seperti laki-laki yang meniduri istrinya. Tradisi ini berawal dari rasa tidak percaya dengan dirinya sendiri.
Setelah Islam datang, Islam mengharamkan setiap bentuk perzinaan dengan alasan apapun dan setiap perbuatan yang menjerumuskan orang berbuat zina.[10] Bahkan Islam menghukum para pelaku zina dengan hukuman yang sangat berat.[11] Selain mengharamkan dan menghukum berat pelaku zina, Islam juga mengajarkan bahwa Allah tidak melihat seseorang dari fisik melain keimanan. Hal ini sebagaimana hadist Nabi SAW:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian, dan Dia juga tidak melihat bentuk kalian akan tetapi Allah melihat hati-hati kalian.”[12]
c.       Model pernikahan ketiga adalah beberapa laki-laki berkumpul yang jumlahnya tidak sampai 10 orang, kemudian mereka berhubungan badan secara bergiliran dengan satu perempuan. Ketika perempuan itu hamil dan melahirkan seorang anak, maka dia memanggil orang-orang yang pernah menidurinya dan mengatakan pada mereka “kalian telah mengetahui akibat yang kalian lakukan. Saya telah melahirkan seorang anak dan ini anakmu fulan”[13]. Salah seorang yang ditunjuk oleh perempuan itu tidak bisa menolak.
Penentuan ayah bagi anak dari beberapa orang yang pernah tidur dengan seorang wanita telah merusak ikatan nasab yang sebenarnya. Dalam masalah ini, ikatan kasih sayang antara ayah dan anak akan dipertaruhkan dalam menjalani kehidupan. Hal ini karena seorang ayah tidak yakin bahwa anak yang akan diasuhnya adalah anak kandungnya. Dalam Islam, menjaga nasab merupakan salah satu dari lima tujuan syari’at Islam.[14] Salah satu jalan penjagaan nasab adalah pengharaman zina dan memerintahkan umat untuk menikah.[15]
d.      Beberapa orang melakukan jima’[16] dengan satu perempuan dan dia adalah seorang pelacur. Pelacur itu memberi tanda berupa bendera di depan rumahnya, bagi siapa saja yang menginginkannya maka dia bisa menidurinya. Ketika dia hamil dan melahirkan anak, dia mengumpulkan orang yang pernah menidurinya. Kemudia mereka berkumpul dan dia mengadakan undian. Nama yang keluar dalam undian itu berhak mengambil anak itu dan orang tersebut tidak bisa menolaknya. Pernikahan pada nomor 3 dan 4 ini sering menimbulkan peperangan. Hal ini karena orang-orang yang meniduri perempuan itu berebut untuk menjadi ayah bagi anak yang dilahirkan, ketika melihat perkembangan anak itu bagus.
Ketika Allah mengutus Muhammad SAW dengan membawa Islam maka dia menghapus pernikahan-pernikahan jahiliyah dan menetapkan pernikahan yang Islami.[17]
Selain tidak memiliki hak untuk memilih calon pasangan hidupnya, perempuan juga tidak memiliki hak untuk cerai dengan suaminya.[18] Bahkan dalam sejarah Arab, para suami menceraikan istri-istri mereka berkali-kali. Para suami menceraikan istri-istri mereka kemudian mereka ruju’ supaya para istri mereka tidak menikah dengan orang lain. Setelah ruju’, mereka menceraikan lagi dan ketika masa i’dah mau habis mereka ruju’ lagi. Hal ini bertujuan supaya istrinya menderita. Keadaan ini berjalan dalam sejarah bangsa Arab sebelum Islam datang.[19]
2.         Poligami dalam tradisi Arab
Penduduk di negara-negara Arab termasuk orang yang lekat dengan tradisi poligami. Seorang laki-laki bisa mengawini perempuan dengan jumlah yang tak terbatas tergantung pada kekuatan jasmani dan kekuatan kekayaan mereka untuk memberi nafkah para istri dan anak-anak mereka. Sebagian faktor yang mempengaruhi berjalannya tradisi poligami di negara-negara Arab adalah terjadinya permusuhan dan perperangan antar qabilah. Perperangan telah menbunuh para lelaki dan menyisakan janda-janda selain perempuan yang masih lajang. Keadaan ini telah menimbulkan permasalahan sosial yaitu tidak seimbangnya jumlah perempuan dibanding laki-laki. Pertumbuhan jumlah perempuan yang tidak sebanding dengan laki-laki ini yang mendorong laki-laki yang memiliki kekuatan fisik dan keuangan melakukan poligami.[20]
Contoh poligami dalam tradisi Arab adalah cerita tentang seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Ghailan. Ketika masuk Islam, ia masih memiliki sepuluh istri, maka Nabi SAW memerintahkannya untuk memilih empat orang dan menceraikan yang lain. Contoh yang lain adalah cerita yang terjadi pada sahabat Nabi SAW yang bernama Qais bin Harits al-Asadi ketika masuk Islam, dia memiliki delapan istri, maka Nabi SAW memerintahkannya untuk memilih empat dan menceraikan yang lain.[21] Pola kehidupan poligami seakan-akan telah menyatu dengan kehidupan arab dan merupakan realitas yang tak tergantikan. 
3.         Perempuan dan Hak Waris
Perempuan dalam sejarah hidup bangsa Arab sebelum Islam tidak mendapat hak waris ketika anggota keluarga mereka meninggal. Meskipun dia adalah seorang anak atau anggota keluarga orang kaya, dan pada saat yang sama, anggota keluarga laki-laki mendapatnya. Dalam tradisi bangsa arab sebelum Islam, warisan akan jatuh pada anggota keluarga laki-laki yang telah dewasa. Hak kepemilikan perempuan saat itu dibatasi karena mereka terlahir dengan jenis kelamin perempuan. Masalah pewarisan ini sebagaimana perkataan sa’id bin Jubair dan Qatadah yang dinukil Ibnu Katsir, “Dulu orang-orang yang musyrik memberikan warisan kepada anak laki-laki mereka yang telah dewasa dan mereka tidak memberi warisan kepada perempuan dan anak-anak laki-laki yang masih kecil.”[22]
Tidak hanya itu, kedudukan perempuan sebagai istri seperti barang perhiasan atau perabotan yang bisa diwariskan kepada orang lain ketika suami mereka meninggal dunia. Dalam tradisi Arab Jahiliah, seorang anak laki-laki adalah orang yang paing berhak menikahi ibu tirinya. Hal ini terjadi secara turun-temurun di kalangan bangsa Arab bahkan ada sahabat yang bernama Mihshan yang menikahi istri bapaknya Abu Qais bin Aslat. Perempuan itu mengadu kepada Rasulullah karena tidak mendapatkan nafkah dan warisan,[23] sehingga turunlah ayat:
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22)
“Janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).[24] (Q.S. An-Nisa’: 22).
Tradisi bangsa Arab Jahiliah ini sebagaimana diceritakan Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa bangsa Arab biasa mengharamkan sesuatu yang diharamkan kepada mereka kecuali menikahi bekas istri ayah mereka dan menikahi dua saudara kandung dalam satu waktu. Untuk itu ia berpendapat bahwa setiap perempuan yang telah dinikahi oleh ayah haram hukumnya dinikahi anaknya, baik perempuan itu sudah berhubungan badan dengan ayahnya ataupun belum.[25]
4.         Bayi Perempuan dan Hak Hidup
Penderitaan perempuan juga nampak pada cara pandang atau tindakan orang Arab terhadap mereka. Rasa bangga mereka pada anak perempuan sangat kecil, hal ini bisa diketahui dari tradisi sebagian orang Arab jahiliyah dimana sebagian mereka mengukur anak atau bayi perempuan mereka hidup-hidup. Tradisi ini sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam surat An-Nahl ayat 58-59. Allah berfirman:
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)
“Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. (58) Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan.[26]
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
 وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9)
“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hiudp-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh”[27] At-Takwir 8-9
Ibnu katsir berkata bahwa bayi-bayi perempuan itu dikubur hidup-hidup karena orang Arab tidak suka bayi perempuan.[28] Sebenarnya tidak semua suku Arab mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup, di antara suku yang mengubur anak mereka hidup-hidup adalah suku Bani Tamim dan Bani Asad. Ada dua alasan kenapa orang Arab melakukan itu. Pertama adalah faktor ekonomi. Sejak bendungan Ma’arib yang berada di Yaman hancur, penduduk di sekitar bendungan pindah ke tempat yang aman dan salah satu tempat yang dituju adalah Mekah. Urbanisasi besar-besaran ini mempengaruhi ekonomi dengan serius, sehingga muncul gagasan untuk membunuh anak supaya beban mereka ringan.[29]
Alasan Kedua, masyarakat Arab jahiliyah membunuh anak perempuan karena faktor gengsi dan malu. Dalam tradisi Arab, istri dan anak perempuan dari suku yang kalah perang diperkosa oleh suku yang menang. Bahkan pemerkosaan dilakukan di hadapan anggota keluarga yang menjadi tahanan.[30]
Apapun alasan yang menyebabkan orang Arab Membunuh anak mereka, Islam tetap menyalahkannya. Islam sangat menjaga hak hidup orang, baik laki-laki maupun perempuan, hal ini sebagaimana firman Allah:
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Artinya:
“oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain”, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia”.[31] Al-Maidah: 32
Ibnu Katsir menjelaskan tentang maksud ayat ini adalah, orang yang membunuh orang lain tanpa alasan syar’i yaitu qisas[32] atau karena orang itu berbuat kerusakan dan dia menghalalkan darah orang lain. Maka seolah-olah orang itu membunuh semua orang. Dan barang siapa yang mengharamkan pembunuhan tanpa sebab syar’i dan dengan itu orang merasa aman, maka seolah-olah dia memelihara kehidupan semua manusia.[33] Dalam ayat di atas, Allah menggunakan kata “nafs” atau jiwa untuk menghancurkan pemisah antara lelaki dan perempuan. Dengan demikian, kesucian hak hidup merupakan hak kedua jenis kelamin tadi.[34]



[1] Istilah jahiliah pada penulisan ini digunakan untuk membedakan arab sebelum Islam.
[2] Shofiyur Rohman Mubarokfuri, Ar-Rakhiq Al-Maktum, Kwait: Dar al-Wafa’, 2005, Cet ke-17, hal. 48.
[3] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam wa al-Qowanin al-Alamiyah, Kuawit: Daru al-Wafa’, 2003, hal.  22.
[4] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina… hal. 48.
[5] Khadijah adalah seorang janda dan pedagang yang mulia serta kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Dia merupakan perempuan terbaik di zamannya. Dr. Said Romadhon Al-Buthy, sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press, 1999, hal. 40
[6]Ketika mendengar dari pembantunya yang bernama Maisaroh tentang akhlak Nabi SAW, Khadijah menyatakan keinginannya untuk menikah dengan beliau. Dia mengirim sahabatnya yang bernama Nafisah binti Muniyah untuk menyatakan keinginannya kepada Nabi SAW kemudian beliau menyetujuinya.
[7] Muhammad bin Ismail al-Bukhori, Al-Jami’ As-Shohih Lilbukhori, Kairo: Maktabah Salafiah, bab nikah tanpa wali, hadist no 5127, hal. 329.

[8] Dari Ibnu Abbas dia menjelaskan bahwa anak Khidam mendatangi Nabi SAW dan menceritakan kepadanya bahwa ayahnya menikahkan dia dengan seorang laki-laki yang tidak dia sukai, maka Nabi SAW memberinya pilihan. Diriwayatkan oleh imam Ahmad. Hadist no 2469
[9] Keadaan suci maksudnya tidak dalam keadaan haid.
[10] “dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah sesuatu perbuatan yang krji dan suatu jalan yang buruk” Al-Isra’: 32
[11] Hukuman zina bagi seseorang yang belum menikah adalah dicampuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun sedangkan bagi orang yang telah menikah adalah dirajam sampai mati. Hal ini sebaimana khutbah Umar bin Khatab: “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad SAW dengan kebenaran dan menurunkan Al-Kitab kepadanya. Di antara wahyu yang diturunkan adalah ayat rajam. Kami membaca dan menghafalnya. Rasulullah SAW pernah merajam dan kami pun merajam…. HR. Bukhari dan Muslim dalam Sayyid Sabiq. Fiqih Sunah. Jakarta: Al-I’tisham, 2010, jilid ke-dua, hal. 608 
[12] Muslim, bab, Tahrim Zulmi Muslim wa Khadlihi wa Ihtiqarihi, hadist nomor 6707.
[13] Fulan untuk menunjuk orang yang disembunyikan namanya.
[14] 5 tujuan yang utama (Dhoruriyatu Khomsah). Yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
[15] Dr. Muhammad al-Yubi, dia mendefinisikan maqasid adalah kandungan/makna dan hikmah-hikmah atau yang semisal dengannya, yang dijaga oleh Allah dalam bentuk mensyari’atkan ajaran baik yang umum maupun yang khusus dengan tujuan kemaslahatan manusia. Yusuf Ahmad Muhammad al-Badawi, Maqasid al-Syari’ah ‘inda Ibnu Taimiyah, Daru an-Nafais, 2000, hal 45
[16] Jima’ hubungan badan antara laki-laki dan perempuan
[17] Shofiyur Rohman Mubarokfuri, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010,  hal. 32.
[18] Salim Bahnasawi, op. cit., hal 22
[19] Mujahid, Qotadah, Hasan, mujahid dalam Ibnu Katsir,Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, Berut: Daru al-Fikr, 1997, Cet Pertama. Jilid pertama, hal. 368.
[20] Karam Hilmi Farhat, Poligami Dalam Pandangan Islam, Nasrani & Yahudi, Jakarta: Darul Haq, 2007, Cet pertama, hal. 17.
[21] Karam Hilmi Farhat, Poligami Dalam… hal 17
[22] ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an..., hal 500
[23] Ibid hal. 407. Lihat juga di Sayyid Sabiq. Fiqih…. Hal. 235
[24] Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1995. Departemen Agama RI. Hal 22
[25] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thobari, Juz 6, hal 549
[26] Al-Qur’an Terjemahan Per-kata. 2007. Syamil Al-Qur’an. Hal 273
[27] ibnu Katsir, op. cit., hal 1028.
[28] Ibid hal. 263.
[29] M. Abdul Karim. 2009. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Pustaka Book Publisher. Yogyakarta. Cet ke-2. Hal 51
[30] M. Abdul Karim, op. cit., hal 51
[31] Al-Qur’an Terjemahan Per-kata, op. cit., hal. 113.
[32] Team penerjemah depag menjelaskan Qisas adalah hukuman mati karena orang itu membunuh orang lain. Al-Qur’an Terjemahan Per-kata, op. cit., hal. 27
[33] ‘Imadudin Abi Fida’ Ismail Ibnu Katsir,Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, Ditahqiq oleh Mustafa Syaid Muhammad, Muhammad Syaid Rosyad, Muhammad Fadlu Mijmar, ‘Ali Ahmad Abdul Baqi, Hasan ‘Abas Qutb, Kairo: Madrasah Qurtubah, 2000, hal. 180.
[34] M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, op. cit., hal. 39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS