Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Minggu, 08 April 2012

SISTEM KELUARGA ISLAM: LEBIH UNGGUL


SISTEM KELUARGA ISLAM: LEBIH UNGGUL
Oleh Warsito, S.Pd., M.P.I.
Hari ini, ketika orang berbicara mengenai sebuah tatanan hidup yang ideal dan maju, hampir semua mata langsung tertuju kearah Barat. Ya, hari ini Barat menguasai setiap lini kehidupan, mulai bidang ekonomi, senjata, ilmu pengetahuan, politik, maupun olahraga. Hal ini yang menjadikan mereka menjadi peradaban pilihan manusia serta menjadi acuan bagi bangsa-bangsa lain.[1] Sesuatu yang alami, sebuah peradaban yang maju dan menang akan diikuti oleh peradaban yang kalah. Sikap taqlid atau mem-beo seperti ini bahkan juga dilakukan oleh mereka yang terkenal akan kebajikannya. Sebagai contoh adalah kisah ‘Amr bin Luhay yang diangkat Salim A. Fillah dalam bukunya Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. ‘Amr adalah orang yang kuat memegang ajaran Ibrahim dan dianggap sebagai wali. Ketika dia pergi ke Syam, ia melihat penduduk Syam menyembah berhala. Kondisi daerah yang terkenal sebagai langganan turunnya para nabi dan dianggap lebih maju dari Makkah menjadikan ‘Amr buta. Dengan satu keyakinan bahwa penduduk Syam lebih baik, ‘Amr kembali ke kaumnya Qurasy dengan membawa berhala untuk disembah.[2]
Sikap shock serta merasa ketinggalan ketika melihat perkembangan Barat juga terjadi di dunia Islam, sehingga muncul keturunan ‘Amr bin Luhay dalam rahim Islam. Sebut saja nama Ummu Baroroh yang menuntut kepemimpinan perempuan dalam keluarga lewat tulisannya perempuan Sebagai Kepela Keluarga[3], kritik tentang larangan kepemimpinan perempuan ketika suami masih ada juga disampaikan Asghar Ali. Ia menuntut rekrontruksi penafsiran suarat An-Nisa’ ayat 34 supaya selaras dengan keinginan feminism.[4] Hakim Junaidi menuntut persamaan hak waris laki-laki dan perempuan lewat tulisannya Hak Waris Perempuan Separo Laki. Suhadi dengan menggunakan teori desakralisasi Al-Qur’an menghalalkan nikah lintas agama.[5] Nur Khoirin yang mengkrtitisi pelarangan seorang perempuan menjadi imam sholat bagi laki-laki yang telah baligh dan bahkan dia juga menanyakan kenapa batasan aurat laki-laki lebih sempit daripada perempuan.[6]
Pemikiran-pemikiran yang keluar dari kaidah pemikiran Islam muncul karena dipengaruhi pemikiran feminisme dengan produknya gender. Feminism adalah sebuah pergerakkan yang menuntut persamaan secara totalitas antara laki-laki dalam keluarga maupun diluar keluarga.[7] Saat ini, sikap taqlid terhadap Barat sudah mengarah pada tuntutan supaya setiap sisi kehidupan muslim diatur dengan cara Barat, baik urusan dalam keluarga maupun urusan diluar keluarga. Pembahasan ini akan mengupas secara teoritis sistem keluarga Islam dan Barat Modern.
Landasan Berfikir Islam dan Barat
 Dalam Islam, sumber hak dan kewajiban perempuan adalah realitas penghambaan mereka kepada Allah SWT.[8] Kepatuhan manusia terhadap Allah SWT merupakan substansi ajaran yang paling tinggi dan merupakan wujud pengakuan akan kekuasaan dan hak Allah, bahkan Islam menyebut pengingkaran akan hal ini sebagai kedurhakaan terbesar kepada-Nya.[9] Maka, konsep persamaan antara laki-laki dan perempuan serta perbedaan hak dan kewajiban mereka sesuai dengan apa yang diwahyukan Allah. Dr. Lamya’ telah merinci empat persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. Pertama, dalam hal penciptaan. Al-Qur’an menggambarkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari jiwa yang tunggal.[10] Kedua, kewajiban-kewajiban dan balasan-balasan keagamaan. Seorang laki-laki maupun perempuan muslim mendapatkan pahala berdasarkan kadar amalnya dan bukan karena jenis kelaminnya.[11] Ketiga, Pendidikan, Islam mewajiban laki-laki dan perempuan untuk mencari Ilmu.[12] Keempat, hak-hak hukum, sebagai contoh: hak waris,[13] hak kepemilikan harta,[14] hak mendapatkan mahar, dan hak menceraikan.[15]   
Berbeda dengan Islam yang menyandarkan ajarannya pada wahyu, Barat modern menerapkan sistem sekuler-liberal yang menolak agama masuk dalam wilayah publik.[16] Penerapan sekuler-liberal di peradaban Barat dimulai sejak runtuhnya hegemoni kekuasaan gereja pada abad ke-17.[17] Sejak saat itu, standar kebaikan adalah sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat atau sebaliknya.[18] Selain pemikiran sekuler yang memisahkan urusan agama dengan wilayah publik, Dr. Said Romadhan berpendapat bahwa filsafat yang menjadi landasan pemikiran Barat adalah materislik.[19] Hal ini sebagaimana pandangan feminisme Marxis yang mengkritisi pembagian kerja laki-laki yang bekerja di sektor publik yang mendapatkan upah sementara perempuan mengurusi rumah tanpa mendapatkan upah. Karena nilai eksistensi manusia dinilai dari kepemilikan materi, perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki.[20]
Konsep persamaan dan perbedaan dalam Islam mengakui masyarakat Dual sex. Yaitu suatu masyarakat dimana kedua jenis kelamin dibebani tanggung jawab yang berbeda. Perbedaan ini menjamin berfungsinya masyarakat secara sehat. Laki-laki dibebani tanggung jawab bersifat ekonomi sedang perempuan dibebani tanggung jawab untuk melahirkan dan merawat rumah. Sedangkan konsep Barat menciptakan masyarakat unisex. Yaitu masyarakat yang mendewakan peran laki-laki serta merendahkan peran perempuan, sehingga perempuan dipaksa untuk menyerupai laki-laki.[21]      
Konsep Keluarga Dalam Barat Dan Islam
Pandangan Barat dan Islam tentang keluarga
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, para tokoh feminis menyebarkan ajaran yang menyerang institusi keluarga dengan melontarkan pernyataan yang cukup bombastis. Hal ini sebagaimana yang ditulis Brigitte Berger dan Peter Berger dalam buku mereka yang berjudul ‘The War over of Family: Capturing the Midle Ground’. Pernyataan para tokoh feminis itu antara lain “ibu rumah tangga adalah perbudakan perempuan” (housewife is women’s slavery), liberalisasi sekarang, generasi mendatang akan hancur” (liberation now, the future generation be damned), “heteroseksual adalah perkosaan” (heterosexual is rape), “pro-choice”, “menentang pernikahan” (against marriage).[22]
Para feminis radikal, liberal, dan marxis telah merumuskan sebuah keluarga yang ideal. Sebuah keluarga tanpa kelas dan mengangkat semangat kesetaraan. Mereka juga mengusulkan penghapusan dua sumber penindasan yaitu, peran domestik dan sistem patriaki[23] yang menempatkan laki-laki pada posisi yang menguntungkan.[24] Untuk menguatkan opini mereka, buku pelajaran sekolah menampilkan gambaran perempuan yang menerbangkan pesawat sedang anak laki-laki mengepel lantai. Selain itu, gambaran perempuan yang mandiri dan tidak membutuhkan laki-laki disebarkan lewat rubik koran yang mendukung ibu tunggal.[25]
Pandangan-pandangan yang negatif tentang keluarga inilah yang menimbulkan penentangan terhadap feminis di Barat sendiri. Marabel Morgan membentuk gerakan yang bernama the Total Woman sedangkan Helen Andelin mendirikan gerakan yang bernama the Facinating Womanhood. Kedua gerakan ini menganjurkan supaya perempuan kembali ke peran, nilai, dan sikap tradisional. Meskipun pada zamannya, kedua gerakan ini menjadi bahan tertawaan namun keduanya telah berhasil mengadakan kursus atau pelatihan kepada 400.000 perempuan.[26] Penentang pandangan feminis yang lain adalah gerakan yang bernama Stop Era. Gerakan ini muncul sebagai respon diratifikasinya[27] undang-undang persamaan Equal Rights Amandemen (ERA). Kelompok ini memiliki misi untuk mengembalikan fitroh perempuan dan mengakui laki-laki sebagai kepala keluarga. Mereka secara aktif mempengaruhi perempuan untuk kembali ke peran tradisional mereka dan menyerang feminisme dengan mengatakan bahwa mereka adalah perusak keluarga.[28]
Sedang Islam memandang keluarga sebagai suatu yang positif. Bahkan Islam menganjurkan pemuda-pemuda Islam yang telah ba’ah (mampu) untuk bersegera membentuk keluarga. Rasul SAW bersabda:
“Nabi SAW berkata kepada kami, ‘wahai seluruh pemuda, barangsiapa di antara kalian sudah siap, hendaklah ia segera menikah, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya” H.R Bukhari hadist ke 1806.
Tidak hanya menganjurkan untuk segera menikah bagi mereka yang sudah siap, Nabi SAW juga mengancam orang yang membenci nikah. Ia menyamakan orang yang membenci nikah dengan orang yang membenci sunnahnya dan siapa yang membenci sunnahnya berarti dia bukan golongannya. Nabi SAW bersabda:
 “Barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku”[29]
Islam menjunjung tinggi kedudukan keluarga. Keluarga yang diawali pernikahan merupakan solusi untuk pergolakan syahwat laki-laki dan perempuan menjadi sebuah ibadah.[30] Selain itu, pernikahan merupakan sarana untuk mempersatukan pasangan, agar hubungan mereka menghasilkan ketenangan dan kenyamanan jiwa dan mental. Allah berfirman:
 “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Al-Rum: 21

Sedangkan hubungan seksual menurut feminis halal meskipun tanpa ikatan pernikahan. Tidak hanya itu, Russel bahkan mengatakan bahwa seorang istri bebas menentukan ayah bagi anaknya.
Mungkin akan mudah sekali bagi wanita di masa akan datang, tanpa mengorbankan kebahagiaan secara serius, untuk memilih ayah dari anak-anaknya dengan mempertimbangkan faktor keturunan yang sehat sambil tetap membiarkan perasaan pribadinya bebas merdeka dalam memilih hubungan seksualnya. Bagi pria, akan lebih mudah juga memilih ibu dari anak-anaknya atas pertimbangan apakah wanita yang bersangkutan baik untuk menjadi ibu atau tidak.[31]

Kepemimpinan Dalam Keluarga
Kepemimpinan keluarga menurut feminis tidak jelas, mereka menerapkan sistem keluarga sederajat dimana tidak ada pemimpin maupun yang dipimpin, yang ada adalah kemitraan,[32] sehingga konsep ini mengacaukan batasan kewajiban dan hak antara suami maupun istri. Seorang suami tidak boleh memerintah istri sedang istri juga tidak berhak menuntut nafaqah dari suami.[33]
Dalam Islam, seorang suami menjadi pemimpin keluarga.[34] Mereka memiliki kewajiban untuk mencari nafkah bagi semua anggota keluarga. Beban kewajiban suami ini sebanding lurus dengan hak mereka untuk ditaati istri dan anak mereka. Zamakhsyari menyebutkan dua alasan kenapa laki-laki menjadi pemimpin. Pertama, Allah telah melebihkan laki-laki atas perempuan. Hal-hal yang menjadi kelebihan laki-laki antara lain, kelebihan akal, keteguhan hati, kemauan yang keras, kekuatan fisik, kelebihan dalam hal militer (memanah, berperang). Kedua, karena laki-laki membayar mahar dan mengeluarkan nafkah keluarga.[35] Berkenaan dengan hal ini, Alusi menambahkan bahwa kelebihan laki-laki atas perempuan sudah jelas sehingga Allah tidak merinci kelebihan-kelebihan itu.[36] Sedang Said Hawa menambahkan pendapat dua mufasir di atas dengan menyatakan bahwa kelebihan laki-laki atas perempuan adalah, laki-laki bisa beribadah secara penuh sepanjang tahun sedangkan perempuan terhalangi haid, hamil, dan nifas.[37]
Ali Ash-Shabuni menyatakan bahwa kepemimpinan laki-laki atas perempuan dalam rumah tangga karena kelebihan intelektual dan kemampuan mereka mengelola rumah tangga serta bekerja dan memberi nafkah keluarga. Para suami mengatur urusan istri sebagaimana pemerintah mengatur urusan rakyat. Tanggung jawab itu mencakup menjaga, merawat/memenuhi kebutuhan, dan mengurus urusan mereka.[38] Maksud kelebihan intelektual yang dimiliki laki-laki lebih jelas diterangkan oleh Yunahar. Dia berpendapat bahwa kelebihan intelektual itu bukan potensi intelektual yang dimiliki, tapi lebih mengarah pada kemampuan mendahulukan nalar dari pada rasa ketika menghadapi masalah yang berat. Ketika menghadapi masalah, laki-laki lebih mendahulukan nalar daripada rasa sedang perempuan sebaliknya. Mereka mendahulukan rasa daripada akal.[39]
Konsep kewajiban suami serta haknya dalam Islam tentunya menjadi sesuatu yang tabu bagi para aktivis feminis ketika mereka melihat Islam dengan kaca mata sejarah Barat yang berlaku semena-mena kepada perempuan mereka. Sejarah telah mencatat bahwa perempuan dalam barat klasik merupakan makhluk yang dipandang rendah. Wanita disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya[40]. Sampai awal abad ke-20, mereka tidak memiliki hak kepemilikan harta dan setiap tranksaksi harus izin kepada suami[41]. Hal ini jelas berbeda dengan nilai ajaran Islam yang memberi beban kewajiban kepada suami dan istri serta hak mereka sebagai bentuk peribadahan mereka kepada Allah. Maka tidak ada ketaatan istri kepada suami dalam bermaksiat kepada Allah. [42]
At-Thobari menafsirkan surat at Tahrim ayat 11 dengan mengangkat sebuah kisah tentang siksaan yang dialami istri Fir’aun. Dia dihadapkan pada mahkamah Fir’aun dan ditanya tentang pendapatnya terhadap Musa dan Harun, dan secara tegas dia mengatakan bahwa dirinya beriman kepada Rabb Musa dan Harun. Mendengar jawaban istrinya, Fir’aun memerintahkan prajuritnya untuk melemparkan istrinya di padang pasir. Karena keimanannya, Allah mengambil ruhnya sebelum dilempar ke padang pasir.[43] Seorang istri berhak untuk menolak keinginan suami yang melanggar perintah Allah. Hal ini karena ketaatannya kepada suami bagian dari perintah Allah.
Istri dalam Barat dan Islam
Kedudukan Istri Dalam Barat Dan Islam
Menurut feminis, kedudukan istri dalam keluarga sejajar dengan suami, sehingga seorang istri tidak memiliki beban untuk taat kepada suami.[44] Hal ini karena keluarga  dibangun atas prinsip pernikahan sederajat. Dalam model keluarga seperti ini, tidak ada pemimpin maupun bawahan yang ada adalah kemitraan.[45] Pembagian kerja dalam keluarga ditetapkan berdasarkan kesepakatan sebelum nikah.[46] Untuk itu, feminis Liberal memperjuangkan kesetaraan istri dengan suami dengan berusaha mengubah undang-undang perkawinan di AS karena dianggap melestarikan institusi keluarga yang patriaki.[47] Mereka mengusulkan diberlakukannya marriage contract. Marriage contract adalah tuntutan untuk menghilangkan tiga aspek hukum perkawinan Negara yaitu; pertama, pandangan bahwa suami sebagai kepala keluarga; kedua, pandangan bahwa suami bertanggung jawab atas nafkah istri dan anak-anaknya; ketiga, pandangan bahwa istri bertanggungjawab atas pemeliharaan anak dan urusan domestik.[48]
Islam menetapkan istri sebagai pasangan suami dalam keluarga yang saling melengkapi. Tanpa perempuan, kehidupan manusia akan mengalami kerusakkan.[49] Islam juga memuliakan istri, dimana Allah menjadikan mereka sebagai tanda kekuasaan-Nya.[50] Selain itu, Allah menetapkan perempuan sebagai sarana bagi laki-laki untuk berlindung dari dorongan syahwat. Islam tidak menghalalkan penyaluran syahwat laki-laki kecuali kepada wanita yang diikat dengan pernikahan.[51] Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mu’minun ayat 5-7.
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka memiliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di baik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
Tugas dan Kewajiban Istri dalam Keluarga Barat modern dan Islam
Pada masyarakat Barat klasik sebelum feminisme lahir, para istri memiliki kewajiban untuk mentaati dan melayani suami mereka.[52] Tetapi setelah gerakan feminisme muncul, para istri diajari untuk mandiri dan tidak bergantung kepada suami, sehingga mereka melepas peran dan kewajiban untuk taat dan melayani.[53] Istri dalam keluarga merupakan mitra dan setara dengan suami. Mereka memiliki hak dan peran yang sama dengan para suami untuk bekerja dan aktif di luar rumah.[54] Untuk itu, para suami tidak memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri mereka sedang para istri juga tidak memiliki kewajiban untuk taat kepada para suami.[55]
Berikut ini adalah tugas istri dalam keluarga di Barat menrurut feminis; pertama, memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa harus bergantung pada suami;[56] kedua, berkolaborasi dengan suami dalam merawat anak dan mendidik anak;[57] ketiga, mengoptimalkan diri supaya bisa bersaing dengan laki-laki di sektor publik.[58]
Dalam Islam, tugas istri yang utama sebagaimana disampaikan Yunahar Ilyas berdasarkan Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34 yaitu, Pertama, melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk melayani suami.[59] Kedua, menjaga harga diri, rumah tangga dan harta suami ketika suami tidak berada di rumah. Ketiga, menjaga rahasia suami.[60] Divisi Keputrian Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah dalam buku mereka yang berjudul Panduan Wanita Shalihah menyebutkan tugas-tugas istri selain yang disebutkan Yunahar yaitu, seorang istri menjadi mitra seorang suami dan mendukung setiap amal kebaikannya. Selain itu, seorang istri berkewajiban memuliakan keluarga suami terutama berbakti kepada ibu.[61]
Hak-hak Istri dalam Keluarga Barat Modern dan Islam
Hak-hak istri menurut feminis antara lain, pertama, Istri memiliki hak untuk mengatur reproduksinya dan hak untuk melakukan aborsi yang dijamin oleh pemerintah tanpa harus izin suami. [62] kedua, para istri memiliki hak untuk menerima atau menolak ajakan suami untuk berhubungan seksual.[63] Bahkan para feminis lesbian menyerukan para perempuan untuk berhubungan seksual dan berpasangan dengan perempuan.[64] Triana dalam bukunya Gerakan Feminis Lesbian menyatakan bahwa lesbian sebagai sarana melepas penindasan laki-laki terhadap perempuan. Ketiga, Istri memiliki kebebasan untuk keluar dari rumah dan bekerja sebagaimana laki-laki.[65] Tidak hanya itu, feminis liberal juga menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam politik dan pendidikan.[66] Keempat, Para istri berhak mendapatkan kebebasan seksual. Kebebasan seksual setelah menikah ditunjang dengan penemuan alat kontrasepsi yang murah dan aman. Sehingga seorang perempuan tetap bisa memilih ayah dari anaknya tanpa harus membatasi keinginannya untuk berhubungan dengan orang lain.[67]
Abu Bakar Jabir Al-Jazair menyebutkan beberapa hak istri atas suami dalam Islam antara lain:[68]
Pertama, Mendapatkan nafkah dari suaminya berupa: makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal yang layak.[69] Kedua, Mendapatkan nafkah batin, yaitu berhubungan intim. Wajib bagi suami memberi nafkah batin (menggaulinya) walaupun hanya satu kali dalam empat bulan jika dia tidak mampu memenuhi sesuai dengan kebutuhannya.[70] Keempat, Suami bermalam dengan istri minimal satu kali dalam empat malam (bagi suami yang berhalangan untuk bermalam dirumah istrinya tiap malam), hal ini sebagaimana yang ditetapkan oleh khalifah Umar bin Khathab.[71] Kelima, Seorang istri berhak mendapatkan mahar/mas kawin. [72] Hak mengajukan cerai (Khulu’)[73]
Kedudukan Ibu dalam Keluarga Barat dan Islam
Menurut feminis, ibu rumah tangga merupakan penjara bagi seorang perempuan untuk mengembangkan diri. Mereka menggambarkan ibu rumah tangga sebagai perempuan yang tertinggal, menjadi makhluk inferior, dan menderita.[74]  Untuk itu para perempuan lebih suka melakukan aborsi daripada menjadi seorang ibu. Menurut data Centers for Disease Control (CDC), jumlah aborsi antara tahun 2000-2005 mencapai angka 850.000. Data ini merupakan aborsi yang dilakukan secara legal padahal aborsi yang dilakukan secara illegal juga berjumlah besar.[75] Daniel Bates mengutip pendapat Venker penulis buku yang kontroversial yang berjudul The Flipside of Feminism. Dalam buku itu, Vender juga memprovokasi supaya perempuan tidak memiliki anak sehingga ia terhindar dari tanggung jawab yang besar dan bisa fokus mengejar karir. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ibu dan dunia kerja tidak berjalan bersama-sama.[76]
Pendapat feminis ini bisa dibandingkan dengan Islam. Islam telah mendudukkan ibu dalam posisi yang mulia dalam struktur keluarga. Perintah untuk menghormati kedua orang tua, Allah kaitkan dengan perjuangan seorang ibu yang dengan segenap kasih sayang dan kekuatannya melahirkan dan mendidik anak.[77] Meskipun pemimpin dalam keluarga adalah seorang suami atau ayah, tetapi ibu adalah orang yang paling utama untuk dihormati dan disayangi.[78]
Tugas-tugas Ibu Menurut Barat dan Islam
Aida Fitalaya S. Hubies dalam tulisannya yang berjudul “Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan” mengutip pendapat kaum feminis Barat yang menilai bahwa pembagian kerja domestik dan publik hanya untuk menetapkan superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan.[79] Untuk menggambarkan bahwa tugas perempuan (ibu) tidak mengandung dan melahirkan, Naomi Wolf menunjukkan data kekerasaan pada anak di Amerika yang mencapai 49,5 persen dilakukan oleh ibu. Naomi ingin mengaburkan pandangan bahwa perempuan itu lemah lembut dan tidak bisa melakukan kekerasan.[80] Jadi, pekerjaan dan tugas ibu dalam rumah tangga harus berdasarkan kesepakatan bersama antara suami dan istri sebelum mereka menikah. Pernikahan sederajat telah menegaskan akan kesamaan kewajiban dan hak yang sama antara bapak (suami) dan ibu (istri).[81] Seorang ibu juga bekerja sebagaimana suami mereka, sehingga tugas menjaga dan merawat rumah, mereka lakukan bersama-sama.[82]
Menurut Islam, seorang ibu memiliki tugas yang mulia, yaitu menyiapkan generasi penerus yang berkwalitas. Syaikh Muhammad Abu Zuhrah mengatakan bahwa pekerjaan yang sesungguhnya bagi wanita adalah mengurus rumah tangganya. Pengaturan kerjasama antara pria dan wanita harus sejalan; pria mencari nafkah untuk penghidupan dan wanita berada di rumah untuk mengurus rumah tangga.[83] Dr. Lamya’ mengatakan bahwa orang yang berpendapat pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak memerlukan kecerdasan merupakan pendapat yang salah. Kedudukan pekerjaan seorang ibu seperti pekerjaan orang di perusahaan yang membutuhkan kecerdasan dan keterampilan.[84]
Hak-Hak Ibu dalam Keluarga Barat dan Islam
Pola kehidupan keluarga masyarakat Barat telah menyebabkan para ibu kehilangan hak mereka untuk disayangi dan dihargai oleh anak-anak mereka ketika usia tua.[85] Hal ini karena kaum perempuan yang mengejar karir telah mengabaikan keinginan anak-anak mereka untuk ditemani  ketika mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Akhirnya, anak-anak itu menjadi acuh tak acuh bahkan bersikap kejam ketika perempuan-perempuan itu menjadi tua.[86] Ketika perempuan sudah tua, ia ditinggal oleh suami atau pasangan  mereka yang mencari wanita yang lebih muda. Keadaan itu diperparah oleh anak yang tidak mau merawat mereka. Akhirnya panji jumbo menjadi alternatif para wanita tua menanti kematian mereka. [87]
Kondisi perempuan tua di Barat sangat kontras dengan kondisi perempuan tua di masyarakat muslim. Para ibu yang sudah tua memiliki beberapa hak atas anak mereka, antara lain; Pertama, hak untuk dihormati dan ditaati.[88] Bahkan Rasul SAW telah menetapkan bahwa durhaka kepada kedua orang tua termasuk akbaru kabair (dosa yang sangat besar)[89]. Ke-dua, hak untuk didahulukan kecintaan dan penghormatan anak dari pada ayah.[90] Ke-tiga, Hak untuk mendapat harta warisan dan nafkah ketika sudah tua.[91] Ke-empat adalah hak untuk dido’akan ketika masih hidup maupun setelah meninggal.[92]  
Kedudukan Anak Perempuan dalam Keluarga Barat dan Islam
Semangat Barat yang mengangkat derajat anak perempuan sebenarnya sejalan dengan semangat Islam yang tidak membedakan antara anak laki-laki dengan perempuan.[93] John Lock mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak asasi yaitu hak hidup, hak kebebasan, dan hak kebahagiaan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hal potensi rasionalitas.[94] Kesetaraan antara anak laki-laki dan perempuan menurut feminis adalah persamaan diseluruh bidang.[95] Para feminis menuntut persamaan kedudukan antara anak perempuan dan laki-laki di mata orang tua dalam bersikap, cara berkomunikasi, mendidik, memberi mainan, dan menata ruangan. Jika orang tua berbicara dengan anaknya laki-laki dengan suara agak keras begitu juga sikap yang harus ditunjukkan kepada anak perempuan. Para feminis berargumen bahwa perbedaan sikap ini akan mengabadikan perbedaan gender.[96]
Seorang anak perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan anak laki-laki. Islam tidak pernah mempermasalahkan kehadiran mereka dalam keluarga muslim. Bahkan Islam mengecam tradisi Arab jahiliyah[97] yang membenci kelahiran anak perempuan[98] atau sikap berlebihan mereka yang mengubur anak perempuan hidup-hidup.[99] Meskipun mendudukan anak perempuan pada posisi yang sama dengan anak laki-laki, Islam tetap mengakui adanya perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki. 
Tugas atau Kewajiban Anak Perempuan dalam Keluarga di Barat dan Islam
Tugas anak perempuan terhadap orang tua menurut ajaran fenimis terlepas seiring dengan diberlakukannya emansipasi anak. Ketika anak menginjak umur dewasa, maka orang tua berlepas tanggung jawab terhadap anak. Mereka (anak-anak dewasa di Barat baik laki-laki maupun perempuan) memiliki tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan pada saat yang sama mereka mendapatkan kebebasan secara menyeluruh. Orang tua tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang anaknya untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu.[100]
 Dalam ajaran Islam, anak perempuan memiliki kewajiban-kewajiban terhadap orang tua mereka. Tugas-tugas mereka memiliki hubungan dengan hak ibu. Tugas-tugas anak antara lain; pertama, Mereka harus mentaati kedua orang tua selama tidak memerintahkan kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah..[101]  Mereka harus mendahulukan permintaan ibu daripada ayah. [102] Mereka harus mendo’akan kedua orang tua baik ketika mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia.[103] Memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang. Kewajiban ini dilakukan seorang anak dengan bersikap tawadhu’ (rendah hati)[104] ataupun tidak berkata kasar atau membentak.[105]
Hak Anak Perempuan Dalam Keluarga menurut Ajaran Feminis
Seorang anak dalam masyarakat Barat Modern memiliki hak-hak yang dilegalkan oleh undang-undang. Hak-hak itu adalah: pertama, hak mendapatkan pengasuhan dan biaya pendidikan sebelum umur antara 18-21. Tetapi bagi anak yang berumur 16 tahun dan telah bekerja penuh waktu maka ia bisa meminta kebebasan atau lepas kontrol orang tua.[106] Kedua, Hak mendapatkan kebebasan melakukan hubungan seksual di luar nikah ketika menginjak usia dewasa.[107]  Ketiga, Seorang anak berhak menuntut emansipasi[108] ke pengadilan. Sari M. Friedman memberi contoh kasus emansipasi yang terjadi di Barat. Seorang gadis yang meninggalkan rumah orang tua setelah melawan keinginan orang tua dan kemudian tinggal bersama pacarnya.[109]
Sedangkan hak-hak anak dalam agama Islam antara lain, perempuan memiliki hak penuh untuk mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang sempurna sebagaimana saudaranya laki-laki.[110] Hak pendidikan anak dibebankan kepada ayah dan ibu. Hak anak yang berikutnya adalah mendapat nafkah dan hak waris.[111] Hak perempuan sebagai anak yang lain adalah masalah pernikahan.[112]






                              


DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemah per-kata, 2007, Bandung: Syaamil Al-Qur’an.
Sa’id Romadhon Al Buthi, 2002, Al-Mar’ah baina Thughyani An-Nizham Al-Gharbi wa Lithaifi At-Tasri’ Ar-Rabbani. Diterjemahkan. Perempuan antara kezaliman system barat dan kesdilan Islam, Solo: Intermedia,.
Qodhi, Aly, 2003, wadhifatul mar’ah fil mujtama’ Insani “rumah tanggaku karirku, Jak-Sel: Mustaqim.
Jabir, Abu Bakar Al-Jazair, 2000, Minhajul Muslim, diterjemahkan Ensiklopedi Muslim, Jakarta Timur:  Darul Falah.
Umar, Nasaruddin, 2001, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Qur’an, Jakarta: Paramadina,.
Pilcher, Jane dan Imelda Whelehan, 2004, 50 Key Concepts in Gender Studies, India: SAGE Publications India Pvt Ltd.
Mosse, Julia Cleves, 1996, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ibnu Katsir, 2003, Tafsir Al Qur’an Al A’dhim, Kairo: Daru Al Hadist.
Muhammad ibn Jarir At Thobari, 1999, Tafsir At Thobari, Beirut: Daru Al Kutub Al Ilmiah.
Megawangi, Ratna, 1999, Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan.
Bahnasawi, Salim, 2003, Al Mar’ah baina al Islam wa al-Qowanin al-Alamiyah, Kuawit: Dar al-Wafa’.
Husaini, Adian, 2005, Wajah Peradaban Barat dari Hegomoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, Jakarta: Gema Insani.
Wood, Julia T. 2009, Gendered Lives (Communication, Gender, and Culture), United State of America: Wadsworth.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali, 1980, Rawai’ul al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam, Beirut: Maktabah al-Ghazali, cetakan ketiga,
Divisi Keputrian Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah, 2005, Panduan Wanita Shalihah, Jakarta: Eska Media.
Muhammad, Yusuf Ahmad al-Badawi, 2000, Maqasid al-Syari’ah ‘inda Ibnu Taimiyah, Daru an-Nafais.
Fa’iz, Ahmad, 2001, Cita Keluarga Islam, Jakarta: Serambi, cetakan pertama.
Ilyas, Yunahar, 1997, Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
Hamid, M. Abdul Halim, 2000, Bagaimana Membahagiakan Suami, Solo: Intermedia.
Fathi, Adil Abdullah, 2001, Menjadi Ibu Ideal, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet pertama.
Crittenden, Danelle, 2002, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita.
Anshori, S. Dadang, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit), 1997, Membincangkan Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah.
Athar, Shahid, 2004, Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslim, Jakarta: Pustaka Zahra, cet ke-dua.
Wolf, Naomi, 1997, Gegar Gender, Yogyakarta: Pustaka Semesta Press.
Dowling, Colette, 1992, Tantangan Wanita Modern, Jakarta: Erlangga.



[1] Cyril E. Black, Jonathan E. Helmreich, Paul C. Helmreich, Charles P. Issawi, and A. James McAdams, Rebith, United States of America: Westview Press, 1992, hal. 5.
[2] Salim A. Fillah, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Yogyakarta: Pro-U, 2007, hal: 17
[3] Sri Suhandjati Sukri (edit), Bias Jender d alam Pemahaman Islam, Yogyakarta: Gama Media, tt, jilid pertama,  hal 89
[4] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1997, cet pertama, hal 3
[5] Suhadi, Kawin Lintas Agama Perspektif Kritik Nalar Islam, Yogyakarta: LKiS, 2006, cetakan pertama, hal. 76.
[6] Sri Suhandjati Sukri (edit), Pemahaman Islam dan Tantangan … hal. 90
[7] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Qur’an, Jakarta: Paramadina, hal. 33-34
[8] ibid
[9] Lihat surat Al-Luqman ayat 13
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah. Sedang keinginan untuk melakukan sesuatu yang bersebrangan dengan ajaran Allah disebut syirik ketaatan. Dr. Sholih Fauzan, At-Tauhid, untuk kelas tiga Aliyah, 1993, jilid 3, hal, 11. Pengingkaran ibadah kepada Allah atau menyekutukan-Nya adalah sejelek-jelek perbuatan. Ali As-Shabuni, Tafsir ayatul Ahkam min Al-Qur’anm Beirut: Daru Al-kutub Al-Ilmiyah, 1999, jilid ke-dua, hal. 173  
[10] Lihat surat An-Nisa’ ayai 1.
[11] Lihat surat An-Nisa’ ayat 124
[12] “Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: mencari ilmu wajib bagi setiap muslim” Sunan Ibnu Majah, Bab Fadlhu Ulama wa Khastu ‘ala  tholabi al-ilmi, hadist nomor 24
[13] Lihat An-Nisa’ ayat 7
[14] Lihat surat An-Nisa’ ayat 32
[15] Lihat surat Al-Baqarah ayat 229. Lihat Lamya’ Al-Faruqi, ‘Ailah, Masa Depan Kaum Wanita, Surabaya: Alfikri, 1997, hal: 93
[16] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hegomoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, Jakarta: Gema Insani, 2005, cet pertama, hal 17
[17] H. Haikal, Renaissance dan Reformasi, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989, hal. 10
[18] Adian Husaini, Wajah Peradaban … hal. 14
[19] M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, Perempuan antara kezaliman Sistem Barat dan Keadilan Islam, Solo: Era Intermedia, 2002, cet pertama, hal. 23
[20] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian… hal 43
[21] Lamya’ Al-Faruqi, ‘Ailah, Masa Depan Kaum … hal, 98-99
[22] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit), Membincangkan Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, hal. 170.
[23] Ruth Blair menggambarkan sistem patriaki sebagai sebuah sistem bersejarah mengenai dominasi kaum laki-laki, sebuah sistem yang berfungsi untuk mempertahankan dan memperkokoh hegemoni laki-laki disegala aspek kehidupan. Secara lebih tegas, Gender Lerner mendefinisikan patriaki dalam keluarga, dan lebih luas adalah dominasi laki-laki atas perempuan ditengah-tengah masyarakat. Dikutip Ismael Adam Fatel dalam , Kritik Terhadap Bangunan Wacana Lesbian Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 34   
[24]  Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit) Membincangkan …,hal. 170.
[25]  Danelle Crittenden, Crittenden, Danelle, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita, 2002, hal 40.
[26] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 90
[27]  Ratifikasi: pengesahan suatu dokumen negara oleh parlemen, khususnya pengesahan undang-undang, perjanjian antarnegara, dan persetujuan hukum internasional. Dikutip dari kamus besar bahasa Indonesia versi offline. http://pusatbahasa.diknas.go.id
[28] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication…, hal. 90.
[29] Shahih Bukhari, bab Targhib fil Nikah, hadist nomor 1401. Hadist ini sebagai jawaban kepada sahabat yang ingin berbuat baik tetapi dengan mengharamkan untuk dirinya, makan di siang hari, tidur di malam hari, dan tidak mau menikah.
[30] Hadist riwayat imam Muslim yang dalam kitab Arbain Nawawi. Hadist ini menceritakan tentang jima’ termasuk bagian ibadah yang mendapat pahala.
[31] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 37.
[32] Sri Suhandjati Sukri (edit), Bias Jender d alam Pemahaman Islam, Yogyakarta: Gama Media, tt, jilid pertama,  hal 89. Dan lihat Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian…, hal. 3.
[33] Munir, Problem Pola Relasi Gender Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 10
[34] Lihat surat An-Nisa’ ayat 34.
[35] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian … hal 76
[36] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian … hal 77
[37] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian…  hal 78
[38] Muhammad Ali ash-Shabuni, Rawai’ul al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam, Beirut: Maktabah al-Ghazali, 1980, cetakan ketiga, hal 465
[39] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian …, hal 123
[40] Syamsyuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008, cet pertama, hal. 104.
[41] Syamsyuddin Arif, Orientalis & Diabolisme… hal,  21
[42] Shahih Muslim, bab wujub tha’ah al-umara’ fi ghori maksiat, hadist nomor 4871
[43] Muhammad bin Jarir At-Thobari, Tafsir At-Thobari, ditahqiq oleh Abdullah bin Abdul Muhsin At-turki, Kairo:  Dar Hijr, 2001, juz dua puluh tiga, Cet pertama, Hal. 115.
[44] Hal ini karena konsep relasi antara suami dan istri dalam rumah tangga menurut analisa gender adalah persamaan hak dan kesempatan. Abdullah Husaini, Kritik Terhadap..., hal. 66
[45]Pandangan ini berbeda dengan pandangan feminis muslim seperti Ummu Baroroh atau Asghar Ali Engineer. Jika Barat memperjuangkan persamaan yang tanpa kelas tetapi para feminis muslim mengartikan kesetaraan adalah sama-sama memiliki kesempatan menjadi pemimpin keluarga. Maka menurut feminis muslim, laki-laki sangat mungkin dipimpin oleh istri. Lihat Sri Suhandjati Sukri (edit), Bias Jender d alam Pemahaman Islam, Yogyakarta: Gama Media, tt, jilid pertama,  hal 89. Dan lihat Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian…, hal. 3.
[46]  Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 135
[47] Semangat ini juga selaras relosusi PBB 3010 tanggal 18 Desember 1972 menetapkan tahun 1975 sebagai tahun perempuan Internasional. Tahun tersebut diperuntukkan bagi peningkatan aksi dengan tujuan; 1) meningkatkan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki, 2) menjamin pengintegrasian total kaum perempuan dalam upaya-upaya pembangunan, 3) meningkatkan sumbangan kaum perempuan pada penguatan perdamaian dunia. Romany Sihite, Perempuan, Kesetaraan, Keadilan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007, hal. 175  
[48] Munir, Problem Pola Relasi Gender Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 9
[49] Divisi Keputrian Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah, Panduan Wanita Shalihah, Jakarta: Eska Media, 2005, cet pertama, hal. 18.
[50] Lihat Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 21. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”  
[51] Rasulullah saw bersabda: …….sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah; setiap takbir adalah sedekah; setiap tahlil adalah sedekah; memerintahkan yang ma’ruf adalah sedekah; mencegah kemungkaran adalah sedekah; dan pada persetubuhan yang dilakukan oleh salah seorang di antara kalian juga ada nilai sedekahnya.” Para sahabat bertanya: “ya Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya lantas memperoleh pahala dirinya?” beliau menjawab: ”bagaimana pendapatmu jika ia menempatkan pada sesuatu yang haram? Bukankah ia berdosa?! Demikian juga jika ia meletakkannya pada sesuatu yang halal, maka ia akan memperoleh pahala.” HR. Muslim dalam kitab Ar’Bain hadist kedua lima. 
[52] Lihat pendapat L. Doyle dalam bukunya yang berjudul The Surrendered Wife: A Practical Guide for Finding Intimacy, Passion, and Peace with Man. Buku ini mengarahkan perempuan supaya membuang keinginan mereka meraih persamaan dengan laki-laki jika ingin kehidupan perkawinan mereka bahagia. Para perempuan dinasehati supaya mereka tetap merelakan kepemimpinan keluarga dipegang suami dan mengakomodasi kebutuhan suaminya. L. Doyle dalam Gendered Lives Commonication..., hal. 91
[53] Hal ini sebagaimana pendapat feminis Radikal. Mereka berpandangan bahwa perempuan tidak harus bergantung pada laki-laki, baik dalam masalah materi maupun dalam pemenuhan seksual, karena pemenuhan seksual bisa juga didapatkan dari sesame jenis. Manggie Humm, dalam Munir, Problem Pola Relasi Gender... hal. 11 
[54] Pendapat ini sebagaimana pendapat feminis Marxis yang mengatakan bahwa perjuangan kesetaraan gender dapat diwujudkan dengan cara menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor publik. Kadarusman dalam Munir, Problem Pola…, hal. 10 
[55]  Munir, Problem Pola…, hal. 9
[56] Munir, Problem Pola Relasi Gender... hal. 11
[57] Hal ini karena konsep relasi antara suami dan istri dalam rumah tangga menurut analisa gender adalah persamaan hak dan kesempatan. Abdullah Husaini, Kritik Terhadap…, hal. 66
[58] Pendapat ini sebagaimana pendapat feminis Marxis yang mengatakan bahwa perjuangan kesetaraan gender dapat diwujudkan dengan cara menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor publik. Kadarusman dalam Munir, ibid, hal. 10. Mengenai hal ini, Abu ‘Ala al-Maududi menyatakan bahwa orang-orang di Barat sungguh memahami makna persamaan tidak hanya kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam masalah hak-hak kemanusiaan dan posisi ke-etika-an semata, tetapi juga sampai kepada bahwa dalam kehidupan ini hendaklah kaum perempuan diperbolehkan untuk mengerjakan berbagai hal yang dikerjakan oleh kaum laki-laki. Dan hendaklah kaum laki-laki melepaskan ikatan etika bagi kaum perempuan. Abu A’la dalam Aly Qodhi, rumah tanggaku karirku, Jakarta Selatan: Mustaqim, 2003, hal 95
[59] Dalil lain yang menyebutkan tugas istri untuk taat kepada suami adalah sabda Rasul
Artinya: Dari Abdurrahman bin Auf dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: apabila seorang perempuan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, patuh pada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “silahkan kamu masuk surga dari pintu mana saja kamu mau”[59] Musnad Ahmad, Hadist nomor 1661
[60] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian …, hal 78
[61]  Divisi Keputrian Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah, Panduan Wanita…, hal. 281.
[62] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication…, hal. 71. Tokoh kelompok ini Sanger mendeklarasikan: A woman’s body belongs to herself alone. It is her body. It does not belong to the Church. It does not belong to the United States of America …. Enforced motherhood is the most complete denial of woman’s right to life and liberty.
[63] Bagi feminis, alat kelamin laki-laki yang tegak berdiri yang dimasukkan ke dalam lubang vagina wanita adalah bentuk betapa mereka tidak bisa keluar dari sindrom inferioritas terhadap laki-laki. Bahkan, posisi perempuan di bawah laki-laki di ranjang adalah artikulasi dari sifat inferioritas tersebut. Asmaeny dalam Mudzakkir, op. cit., hal. 34
[64] Julia T. Wood , Gendered Lives Commonication..., hal. 74. Triana dalam Mudakkir, Kritik Terhadap Bangunan Wacana Lesbian Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 30. Mengatakan bahwa lesbian sebagai sarana melepas penindasan laki-laki terhadap perempuan.
[65] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 65. Syaikh Ali al-Qadhi mengutip tulisan seorang penulis Eropa yang tidak disebutkan namanya. Penulis itu menyatakan: Sesungguhnya wanita Eropa dengan mode pakaian yang lamanya adalah menunjukkan sosok yang paling baik dalam hal kelemah-lembutan dan etika dalam bermasyarakat. Dan dengan pakaian seperti itu seorang perempuan menjadi istri yang baik. Namun dengan baju yang baru yang membuka aurat perempuan, sungguh hal itu lebih menguatkan arti fisik yang dipegang erat oleh masyarakat yang mementingkan cinta yang mengebu-gebu dengan kelezatan sesaat.
Keluarnya perempuan Eropa dari lingkungan rumah tangga telah menciptakan kemerdekaan negatif yang tidak bermanfaat untuk perempuan itu sendiri, terlebih masyarakat. Dengan demikian, maka hilanglah perasaan-perasaan kasih sayang kepada keluarga, dan jadilah perempuan menyerupai laki-laki. Dengan demikian, hubungan yang sejajar antara laki-laki dan perempuan dalam peradaban Barat sekarang ini hanya menegakkan sisi gender semata. Aly Qodhi, rumah tanggaku.., hal. 94.
[66] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication..., hal. 78.
[67] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?....,, hal. 37.
[68] Abu Bakar Jabir Jazair, Minhajul Muslim, Kartasura Surakarta: Insan Kamil, 2009, cet pertama, hal. 734.
[69] Musnad Ahmad, Hadist Nomor 20013
“Kamu memberinya makan apabila kamu makan, kamu memberinya pakaian apabila kamu memakai pakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkan perbuatannya, dan tidak mengucilkannya di dalam rumah.”
[70] Abu Bakar Jabir Jazair, Minhajul..., hal. 734
[71] Abu Bakar Jabir Jazair, Minhajul..., hal. 734
[72] Lihat suarat An-Nisa’ ayat 4
Menurut Dr. Romadhon Al-Buthi, mahar memiliki beberapa fungsi, yaitu:
(1)     Sebagai pemberian kepada kaum perempuan.
(2)     Realisasi dari fitrah kemanusian – khususnya perempuan- untuk memiliki sesuatu.
(3)     Sebagai kompensasi kesempatan bekerja yang menyempit dari pada laki-laki (khususnya suami) yang harus mencari nafkah. Padahal bekerja merupakan merupakan sumber kepemilikan. M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, Perempuan antara kezaliman…,hal 52
[73] Abu Bakar Jabir Al Jazairi. Mendefinisikan khulu’ adalah pembayaran tebusan seorang istri kepada suaminya yang dibencinya dengan sejumlah harta yang diberikan kepadanya agar dia melepasnya (menceraikanya). Minhajul..., hal 759.
[74]  Munir, Problem Pola Relasi...,hal. 11
[76] Daniel Bates, Escape from your husband and duck your duties as a mother: Feminists face furious backlash over flippant comments, Last updated at 5:28 PM on 23rd February 2011 http://www.dailymail.co.uk/news/article-1359899/Escape-husband-duck-duties-mother-Feminists-face-furious-backlash-flippant-comments.html#ixzz1Qq35qfs8
[77] Lihat surat Al-Luqman: 14
[78] “Dari Abu Hurairah ra dia berkata: seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: wahai Rasulullah, siapa orang paling berhak saya perlakukan dengan baik? Nabi menjawab “ibumu”. Dia bertanya lagi: kemudian siapa? Nabi menjawab: “ibumu”. Orang itu bertanya lagi: kemudian siapa? Nabi menjawab: “ibumu”. Dia bertanya lagi: kemudian siapa? Nabi menjawab: kemudian bapakmu.” Musnad Ahmad, Juz 15, hadist nomor 9081
[79] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit), Membincangkan…. Hal. 34.   
[80] Naomi Wolf, Gegar…., hal.320
[81]  Naomi Wolf, Gegar Gender, Yogyakarta: Pustaka Semesta Press, 1997, hal. 321.
[82] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 149.
[83] Adil Fathi Abdullah, Menjadi Ibu Ideal, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001, cet pertama, hal 25.  
[84] Lamya’ Al-Faruqi, ‘Ailah masa depan …. Hal 131
[85] System kehidupan di Barat telah memutuskan sistem keluarga besar yang utuh. Hal ini dapat ditelusuri dri adanya gejala-gejala meningkatnya jumlah orang tua bahkan kakek nenek lanjut usia yang dikirim ke panti-panti jompo yang hidup terpisah dari keluarga mereka sendiri. Elizabeth dalam Munir, Problem Pola Relasi..., hal, 15.
[86] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 202
[87] M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, Perempuan antara kezaliman..., hal. 32.
[88] Lihat surat Luqman ayat 15. Pada ayat ini Allah menegaskan wajib taat kepada orang tua kecuali orang tua menyuruh maksiat kepada Allah. Ketika orang tua menyuruh maksiat maka tidak ada ketaatan. Hal ini sebagaimana hadist nabi SAW Shahih Muslim, bab wujub tha’ah al-umara’ fi ghori maksiat, hadist nomor 4871
[89] hadist  riwayat Bukhari . Imam Ad-Dhahabi menggolongkan durhaka sebagai dosa besar dan meletakkannya pada urutan nomor delapan. Muhammad Syamsudin Ad-Dhahabi, Al-Kabair, Kairo: Daru Al-Aqidah, 2001, hal. 42.
[90] Musnad Ahmad, Juz 15, hadist nomor 9081
[91] Abu Hadian Shafiyarrahman, Hak-hak Anak dalam Syari’at Islam, Yogyakarta: Al-Manar, hal. 48.
[92] Hadist riwayat Muslim dalam Athiyah Ashaqr, Berbakti & Durhaka Kepada Orang tua, Jak-Sel: Pustaka Azam, 2002, hal. 78
[93] Lihat an-Nahl ayat 59-59, ayat ini mengecam sikap masyarakat yang tidak senang dengan kelahiran bayi perempuan.
[94] Munir, Problem Pola Relasi..., hal. 8
[95] Sikap menomorduakan perempuan sebenarnya masih terjadi di Barat Modern. Sebagai contoh tentang perlakukan yang menomor-duakan perempuan adalah pelayanan kesehatan Amerika yang kurang peduli terhadap kesehatan perempuan. Penyakit Kardiovaskuler adalah penyakit yang membunuh setengah juta wanita di Amerika. Meskipun memakan korban wanita yang banyak, hampir seluruh studi mengenai penyebab dan pengobatan penyakit Kardiovaskuler dilakukan hanya pada pria. Sebagai contoh adalah, studi physician aspirin dosis rendah harian dalam pencegahannya melibatkan 22.071 pria dan tak seorang pun wanita. Marge Koblinsky (edit), Kesehatan Wanita sebuah Perspektif Global, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1997, cet pertama, hal. 252.
[96] Lusi Margiyanti dan Moh Yasir Alimi (edit), Sosialisai Gender Menjinakkan “Takdir”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, hal. Pendahuluan editor
[97] Istilah Arab jahiliyah untuk menunjukkan keadaan Arab sebelum Islam datang. 
[98] Lihat Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 58-59.
[99] Lihat surat At-Takwir ayat 8-9
Dr. M. Abdul Karim mneyebutkan dua alasan kenapa orang Arab melakukan itu. Pertama adalah faktor ekonomi. Sejak bendungan Ma’arib yang berada di Yaman hancur, penduduk di sekitar bendungan pindah ke tempat yang aman dan salah satu tempat yang dituju adalah Mekah. Urbanisasi besar-besaran ini mempengaruhi ekonomi dengan serius, sehingga muncul gagasan untuk membunuh anak supaya beban mereka ringan. Alasan Kedua, masyarakat Arab jahiliyah membunuh anak perempuan karena faktor gengsi dan malu. Dalam tradisi Arab, istri dan anak perempuan dari suku yang kalah perang diperkosa oleh suku yang menang. Bahkan pemerkosaan dilakukan di hadapan anggota keluarga yang menjadi tahanan. M. Abdul Karim. 2009. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Pustaka Book Publisher. Yogyakarta. Cet ke-2. Hal 51
[100] http://www.sarilaw.com/Articles/Child_Support/When_is_My_Child_Emancipated. aspx
[101] Q.S: Al-Luqman ayat 15. Lihat Ali As-Shabuni, Tafsir ayatul Ahkam min Al-Qur’anm Beirut: Daru Al-kutub Al-Ilmiyah, 1999, jilid ke-dua, hal. 180
[102] Musnad Ahmad hadist nomor 9218. Ali Shabuni dalam menafsirkan surat Al-Luqman ayat 15 juga berpendapat bahwa permntaan ibu harus didahulukan daripada permintaan ayah. Ali As-Shabuni, Tafsir ayatul … hal, 180
[103] Lihat Q.S Al-Isra’ ayat 24,
Ibnu Katsir mengatakan bahwa do’a itu dikatakan seorang anak,  baik ketika mereka sudah tua atau ketika keduanya telah meninggal dunia. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, Beirut: Daru Al-Fikr, 1997, juz ke-tiga, hal, 39
[104] Lihat surat Al-Isra’ ayat 24
[105] Lihat surat Al-Isra’ ayat 23
[106] Sari M. Friedman, WHEN IS MY CHILD EMANCIPATED,http://www.sarilaw.com/ Articles/ Child_Support/   When_is_My_Child_Emancipated.aspx
[107] Shahid Athar, Bimbingan Seks bagi …., hal. 7.
[108] Emansipasi adalah hak untuk hidup mandiri tanpa campur tangan orang. Di Barat, umur yang lazim anak atau bahkan orangtua untuk berpisah adalah antara 18-21. http://law.jrank.org/pages/9023/Parent-Child-Emancipation.html#ixzz1VjnFZ2uc
[109] http://www.sarilaw.com/Articles/Child_Support/When_is_My_Child_Emancipated.aspx
[110] Dikeluarkan oleh imam Hakim dan dinukil oleh Abu Hadian Shafiyarrahman, Hak-hak…. hal 101.
[111] Lihat surat An-Nisa’ ayat 11
[112] Hadist riwayat  imam Ahmad. Hadist no 2469

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS