Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Senin, 14 Mei 2012

ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA DI BARAT MODERN


ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA DI BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.

1.      Kedudukan Perempuan Sebagai Anak dalam Keluarga
Kedudukan perempuan sebagai anak dalam keluarga menurut feminis sejajar dan setara dengan anak laki-laki.[1] Tuntutan kesetaraan ini dipicu oleh anggapan bahwa perempuan adalah milik laki-laki. Sebelum menikah ia milik walinya dan setelah menikah ia milik suaminya.[2] Perlakuan Barat Klasik yang merendahkan perempuan juga terjadi di Perancis. Pada tahun 586 M, di Negara tersebut diselenggarakan muktamar yang membahas apakah wanita itu manusia atau bukan? Kemudian ditetapkan bahwa perempuan adalah manusia yang diciptakan untuk melayani laki-laki saja.[3]
Semangat Barat yang mengangkat derajat anak perempuan sebenarnya sejalan dengan semangat Islam yang tidak membedakan antara anak laki-laki dengan perempuan.[4] Semangat Barat yang mengangkat anak perempuan, sebagaimana disampaikan John Lock. Ia mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak asasi yaitu hak hidup, hak kebebasan, dan hak kebahagiaan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hal potensi rasionalitas.[5]
Kesetaraan antara anak laki-laki dan perempuan menurut feminis adalah persamaan diseluruh bidang.[6] Para feminis menuntut persamaan kedudukan antara anak perempuan dan laki-laki di mata orang tua dalam bersikap, cara berkomunikasi, mendidik, memberi mainan, dan menata ruangan. Jika orang tua berbicara dengan anaknya laki-laki dengan suara agak keras begitu juga sikap yang harus ditunjukkan kepada anak perempuan. Jika orang tua memberi mainan kepada anak laki-laki berupa pistol-pistolan maka anak perempuan jangan diberi mainan boneka. Para feminis berargumen bahwa perbedaan sikap ini akan mengabadikan perbedaan gender.[7]   
2.      Tugas atau Kewajiban Anak Perempuan dalam Keluarga
Tugas anak perempuan terhadap orang tua menurut ajaran fenimis terlepas seiring dengan diberlakukannya emansipasi anak. Ketika anak menginjak umur dewasa, maka orang tua berlepas tanggung jawab terhadap anak. Mereka (anak-anak dewasa di Barat baik laki-laki maupun perempuan) memiliki tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan pada saat yang sama mereka mendapatkan kebebasan secara menyeluruh. Orang tua tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang anaknya untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu.[8]
Emansipasi telah memutuskan hubungan anak dan orang tua. Keduanya tidak memiliki hubungan yang bersifat saling menjaga atau menanggung beban pihak yang lain. Keadaan seperti yang membuat para orang tua yang sudah memasuki usia senja begitu memperhatinkan khususnya para ibu-ibu yang sudah tua. Mereka ditinggal oleh pasangan mereka yang mencari perempuan yang lebih muda sedang anak mereka sibuk dengan kebutuhan hidup mereka sendiri.  Pada saat seperti ini, kaum wanita tua ini merasa kesepian, keadaan ini diperparah dengan tindakan kekerasan oleh pasangan mereka.[9]   
3.      Hak Anak Perempuan Dalam Keluarga menurut Ajaran Feminis
Seorang anak memiliki hak-hak yang dilegalkan oleh undang-undang. Hak-hak itu adalah:
(a)    Seorang anak berhak mendapatkan pengasuhan dan biaya pendidikan sebelum umur antara 18-21. Tetapi bagi anak yang berumur 16 tahun dan telah bekerja penuh waktu maka ia bisa meminta kebebasan atau lepas kontrol orang tua.[10]
(b)   Hak mendapatkan kebebasan melakukan hubungan seksual di luar nikah ketika menginjak usia dewasa.[11] Sebelum tahun 1885, penetapan pembolehan hubungan seksual adalah ketika seorang gadis menginjak dewasa dan ini ditandai dengan tumbuhnya bulu kemaluan. Pada tahun 1920, pemerintah menetapkan umur bolehnya hubungan seksual adalah 16 tahun. Ada dua pengecualian tentang hukum ini; Pertama, seseorang yang berumur 14-15 tahun boleh melakukan hubungan seks dengan patner yang berumur di bawah 15 tahun. Kedua, seseorang yang berumur 12-13 tahun boleh melakukan seks dengan patner yang berumur kurang dari 12 tahun. Pengecualian hukum ini di Amerika disebut hukum Romeo dan Juliet.[12]  
(c)    Seorang anak berhak menuntut emansipasi[13] ke pengadilan. Sari M. Friedman memberi contoh kasus emansipasi yang terjadi di Barat. Seorang gadis yang meninggalkan rumah orang tua setelah melawan keinginan orang tua dan kemudian tinggal bersama pacarnya.[14]


[1] Lihat Julia Cleves Mosse Gender &...., hal 1. Dia mengkritisi pandangan masyarakat yang lebih menyukai kehadiran bayi laki-laki dari pada bayi perempuan.  
[2] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam wa al-Qowanin al-Alamiyah, Kuawit: Dar al-Wafa’2003, hal 12
[3] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam…, hal. 12
[4] Lihat an-Nahl ayat 59-59, ayat ini mengecam sikap masyarakat yang tidak senang dengan kelahiran bayi perempuan“Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. (58) Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan.” Lihat juga Al-Khujurat ayat 13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Islam menjadikan kesamaan laki-laki dan perempuan sebagai cita-cita. Kesetaraan dan kesamaan dalam Islam memiliki makna proposional dimana dalam kesamaan terdapat perbedaan tugas dan kewajiban yang sesuai dengan karakter dua jenis manusia itu sendiri. Lihat Muhammad Haekal Hakim, Konsep Keserasian Gender dalam Al-Qur’an, PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 130 
[5] Munir, Problem Pola Relasi Gender Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal.. 8
[6] Sikap menomorduakan perempuan sebenarnya masih terjadi di Barat Modern. Sebagai contoh tentang perlakukan yang menomor-duakan perempuan adalah pelayanan kesehatan Amerika yang kurang peduli terhadap kesehatan perempuan. Penyakit Kardiovaskuler adalah penyakit yang membunuh setengah juta wanita di Amerika. Meskipun memakan korban wanita yang banyak, hampir seluruh studi mengenai penyebab dan pengobatan penyakit Kardiovaskuler dilakukan hanya pada pria. Sebagai contoh adalah, studi physician aspirin dosis rendah harian dalam pencegahannya melibatkan 22.071 pria dan tak seorang pun wanita. Marge Koblinsky (edit), Kesehatan Wanita sebuah Perspektif Global, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1997, cet pertama, hal. 252.
[7] Lusi Margiyanti dan Moh Yasir Alimi (edit), Sosialisai Gender Menjinakkan “Takdir”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, hal. Pendahuluan editor
[8] http://www.sarilaw.com/Articles/Child_Support/When_is_My_Child_Emancipated. aspx
[9] Lihat Dr. Said Romadhan, Perempuan antara kezaliman…, hal. 30-33. Dia mengatakan bahwa perempuan akan dicampakkan ketika gairah seksualnya hilang pada saat yang sama anak mereka juga tidak mau merawat. Akhirnya mereka pergi ke panti jompo.
[10] Sari M. Friedman, WHEN IS MY CHILD EMANCIPATED,http://www.sarilaw.com/ Articles/ Child_Support/   When_is_My_Child_Emancipated.aspx
[11] Shahid Athar, Bimbingan Seks bagi …., hal. 7.
[12] http://www.abortionrights.org.uk/index.php?option=com_content&task=view&id= 18&Itemid =44
[13] Emansipasi adalah hak untuk hidup mandiri tanpa campur tangan orang. Di Barat, umur yang lazim anak atau bahkan orangtua untuk berpisah adalah antara 18-21. http://law.jrank.org/pages/9023/Parent-Child-Emancipation.html#ixzz1VjnFZ2uc
[14] http://www.sarilaw.com/Articles/Child_Support/When_is_My_Child_Emancipated.aspx


2 komentar:

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS