Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Senin, 21 Mei 2012

HUKUM ABORSI DALAM UU BARAT MODERN


HUKUM ABORSI DALAM UU BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Sebagian negara bagian Amerika seperti Colorado, California, Oregon, Mississippi dan negara-negara bagian lainnya telah membolehkan atau melegalkan aborsi sejak tahun 1970an. Negara-negara bagian itu menetapkan beberapa syarat izin aborsi antara lain, faktor kesehatan janin, kesehatan ibu, pemerkosaan, perzinaan dan lainnya. Jumlah aborsi antara tahun 2000-2005 menurut data Centers for Disease Control (CDC) mencapai angka 850.000 setiap tahunnya. Data ini merupakan aborsi yang dilakukan secara legal padahal aborsi yang dilakukan secara illegal juga berjumlah besar.[1] 
Berdasarkan data yang diambil antara 1987-1988, diketahui alasan-alasan perempuan melakukan aborsi. Alasan-alasan itu adalah:
a.       25.5% perempuan melakukan aborsi karena ingin menunda untuk memiliki anak
b.      21.3% perempuan melakukan aborsi merasa tidak bisa memiliki anak atau tidak bisa menjadi ibu
c.       14.1% perempuan melakukan aborsi karena pasangan tidak setuju memiliki anak
d.      12.2% perempuan melakukan aborsi karena merasa terlalu muda untuk memiliki anak
e.       10.8% perempuan melakukan aborsi karena takut pendidikan atau pekerjaannya terganggu
f.       7.9% perempuan melakukan aborsi karena tidak mau memiliki anak lagi
g.      3.3% perempuan melakukan aborsi karena faktor kesehatan janin
h.      2.8% perempuan melakukan aborsi karena faktor kesehatan ibu
i.        2.1% karena alasan yang lain[2]
Alasan-alasan perempuan di Barat melakukan aborsi lebih tepat dikategorikan sebagai pembunuhan. Dari sekian banyak perempuan yang melakukan aborsi, hanya sekitar 6% yang melakukannya karena faktor keselamatan janin maupun ibu, sedang selainnya adalah pembunuhan janin. Selain itu, legal abortion yang di prakasai para aktifis perempuan ini (feminis)[3] jelas merugikan kaum perempuan, karena mereka yang merasakan sakit sedangkan laki-laki tidak, bahkan laki-laki akan senang karena beban hidupnya hilang.
Pada pembahasan ini dapat diambil kesimpulan bahwa feminism dan Barat dengan segala ajarannya telah melanggar hak asasi manusia untuk hidup. Mereka memberi kebebasan pada perempuan untuk membunuh janinnya sedangkan Islam sangat menjaga kehidupan manusia baik ketika masih janin maupun sudah lahir.


[2] Ibid, lihat juga Ima Susilowati dalam Sosialisasi Gender Menjinakkan Takdir, di tempat dia praktek konseling, setiap bulan ada 25-30 remaja yang konsultasi antara meneruskan kehamilan atau menggugurkannya. Menurut Ima, sebagian besar memilih untuk menggugurkan kandungan dengan alas an ingin meneruskan pendidikan, ingin kerja, atau belum siap secara ekonomi dan mental. Hal. 187-189.
[3] Julia T. Wood, Gendered Lives (Communication, Gender, and Culture), United State of America: Wadsworth, 2009, hal. 71. Tokoh kelompok ini Sanger mendeklarasikan: A woman’s body belongs to herself alone. It is her body. It does not belong to the Church. It does not belong to the United States of America …. Enforced motherhood is the most complete denial of woman’s right to life and liberty. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS