Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Selasa, 08 Mei 2012

ISTRI DALAM KELUARGA BARAT MODERN


ISTRI DALAM KELUARGA BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Kedudukan Istri dalam Keluarga Barat modern
Kedudukan istri dalam keluarga sejajar dengan suami, sehingga seorang istri tidak memiliki beban untuk taat kepada suami.[1] Hal ini karena keluarga  dibangun atas prinsip pernikahan sederajat. Dalam model keluarga seperti ini, tidak ada pemimpin maupun bawahan atau anggota, yang ada adalah kemitraan.[2] Pembagian kerja dalam keluarga ditetapkan berdasarkan kesepakatan sebelum nikah.[3]  
Title sebagai istri sebenarnya bukan merupakan idaman mayoritas gadis di Barat. Mereka melihat bahwa menjadi istri berarti akan lebih banyak mengalah dan berkorban. Misalnya adalah menyiapkan makanan, melahirkan anak dan merawatnya serta berpakaian lebih sopan ketika pergi ke acara pesta suaminya. Inilah hal-hal yang membuat mereka merasa berkorban,[4] bahkan para istri merasa sudah tidak lagi menjadi diri sendiri ketika mereka harus menggunakan nama suaminya.[5]
Untuk itu, feminis Liberal memperjuangkan kesetaraan istri dengan suami dengan berusaha mengubah undang-undang perkawinan di AS karena dianggap melestarikan institusi keluarga yang patriaki.[6] Mereka mengusulkan diberlakukannya marriage contract. Marriage contract berisi tuntutan untuk menghilangkan tiga aspek hukum perkawinan Negara yaitu; pertama, pandangan bahwa suami sebagai kepala keluarga; kedua, pandangan bahwa suami bertanggung jawab atas nafkah istri dan anak-anaknya; ketiga, pandangan bahwa istri bertanggungjawab atas pemeliharaan anak dan urusan domestik.[7] 
Tugas dan Kewajiban Istri dalam Keluarga Barat modern
Istri dalam keluarga merupakan mitra dan setara dengan suami. Mereka memiliki hak dan peran yang sama dengan para suami untuk bekerja dan aktif di luar rumah.[8] Untuk itu, para suami tidak memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri mereka sedang para istri juga tidak memiliki kewajiban untuk taat kepada para suami.[9]
Pada masyarakat Barat klasik sebelum feminisme lahir, para istri memiliki kewajiban untuk mentaati dan melayani suami mereka.[10] Tetapi setelah gerakan feminisme muncul, para istri diajari untuk mandiri dan tidak bergantung kepada suami, sehingga mereka melepas peran dan kewajiban untuk taat dan melayani.[11]
Konsep Barat tentang perkawinan sederajat inilah yang membuat kebanyakan para suami di Barat sekarang tidak mengharapkan istri mereka akan membersihkan rumah, merawat anak, memasang kancing baju yang lepas atau menyeterika kemeja mereka. Pekerjaan rumah tangga harus dilakukan berdasarkan kesepakatan mereka berdua sebelum menikah. Tidak hanya itu, setiap perintah laki-laki kepada istri dianggap sebagai pelecehan.[12]
Dari uraian di atas, tugas istri dalam keluarga di Barat adalah; pertama, memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa harus bergantung pada suami;[13] kedua, berkolaborasi dengan suami dalam merawat anak dan mendidik anak;[14] ketiga, mengoptimalkan diri supaya bisa bersaing dengan laki-laki di sektor publik.[15]    
Hak-hak Istri dalam Keluarga Barat Modern
Menurut aktivis feminis, istri dalam keluarga memiliki hak-hak yang tidak dipengaruhi keberadaan suami. Hak-hak itu antara lain.
1.      Istri memiliki hak untuk mengatur reproduksinya dan hak untuk melakukan aborsi yang dijamin oleh pemerintah tanpa harus izin suami. Tuntutan ini sebagaimana yang diperjuangkan kaum Feminis Radikal tahun 1969.[16]
2.      Para istri memiliki hak untuk menerima atau menolak ajakan suami untuk berhubungan seksual.[17] Bahkan para feminis lesbian menyerukan para perempuan untuk berhubungan seksual dan berpasangan dengan perempuan. Mereka berargumen bahwa yang mengerti tentang perempuan hanya perempuan.[18] Triana dalam bukunya Gerakan Feminis Lesbian menyatakan bahwa lesbian sebagai sarana melepas penindasan laki-laki terhadap perempuan.
3.      Istri memiliki kebebasan untuk keluar dari rumah dan bekerja sebagaimana laki-laki. Aktivis feminis menuntut persamaan kesempatan dan hak antara laki-laki dan perempuan di dunia kerja.[19] Tidak hanya itu, feminis liberal juga menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam politik dan pendidikan.[20]
4.      Para istri berhak menolak perintah suami mereka. Dalam ajaran feminis, perintah suami kepada istri untuk melayaninya seperti menyiapkan makan malam, menjahit pakaian yang sobek adalah suatu penghinaan.[21]
5.      Para istri berhak mendapatkan kebebasan seksual. Kebebasan seksual setelah menikah ditunjang dengan penemuan alat kontrasepsi yang murah dan aman. Sehingga seorang perempuan tetap bisa memilih ayah dari anaknya tanpa harus membatasi keinginannya untuk berhubungan dengan orang lain. Hal ini sebagaimana perkataan Russel:
Mungkin akan mudah sekali bagi wanita di masa akan datang, tanpa mengorbankan kebahagiaan secara serius, untuk memilih ayah dari anak-anaknya dengan mempertimbangkan faktor keturunan yang sehat sambil tetap membiarkan perasaan pribadinya bebas merdeka dalam memilih hubungan seksualnya. Bagi pria, akan lebih mudah juga memilih ibu dari anak-anaknya atas pertimbangan apakah wanita yang bersangkutan baik untuk menjadi ibu atau tidak.[22]
Kebebasan melakukan seksual ini sebenarnya berdampak pada hasrat perempuan untuk bisa tampil menawan di depan laki-laki. Tetapi keinginan ini bertentangan dengan realita umur yang semakin bertambah dan fisik mulai berubah. Hal ini membuat para perempuan takut ditinggal pasangannya.[23]
Untuk mengatasi ketakutan ditinggal laki-laki, para perempuan melakukan operasi plastik supaya tetap tampil menarik. Menurut perhimpunan Dokter Bedah Plastik dan Rekonstrusi Amerika, jumlah pasien yang menjalani operasi pengencangan wajah meningkat 50% antara tahun 1992 dan 1997. Laporan yang sama menunjukkan bahwa operasi untuk memontokkan payudara juga meningkat tiga kali lipat. Pengakuan akan kecemasan ini disampaikan oleh Pollitt. Dia mengatakan bahwa dia harus menghabiskan uang yang banyak serta tenaga agar tetap kelihatan memiliki daya seksual dan menarik di mata laki-laki.[24]


[1] Hal ini karena konsep relasi antara suami dan istri dalam rumah tangga menurut analisa gender adalah persamaan hak dan kesempatan. Abdullah Husaini, Kritik Terhadap Konsep Kelluarga dalam Perspektif Feminisme, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal.. 66
[2]Pandangan ini berbeda dengan pandangan feminis muslim seperti Ummu Baroroh atau Asghar Ali Engineer. Jika Barat memperjuangkan persamaan yang tanpa kelas tetapi para feminis muslim mengartikan kesetaraan adalah sama-sama memiliki kesempatan menjadi pemimpin keluarga. Maka menurut feminis muslim, laki-laki sangat mungkin dipimpin oleh istri. Lihat Sri Suhandjati Sukri (edit), Bias Jender d alam Pemahaman Islam, Yogyakarta: Gama Media, tt, jilid pertama,  hal 89. Dan lihat Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1997. hal. 3.
[3]  Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita. 2002. hal. 135
[4] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langka? ..… hal. 125.
[5] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?..... hal. 129.
[6] Semangat ini juga selaras relosusi PBB 3010 tanggal 18 Desember 1972 menetapkan tahun 1975 sebagai tahun perempuan Internasional. Tahun tersebut diperuntukkan bagi peningkatan aksi dengan tujuan; 1) meningkatkan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki, 2) menjamin pengintegrasian total kaum perempuan dalam upaya-upaya pembangunan, 3) meningkatkan sumbangan kaum perempuan pada penguatan perdamaian dunia. Romany Sihite, Perempuan, Kesetaraan, Keadilan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007, hal. 175  
[7] Munir, Problem Pola Relasi Gender Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 9
[8] Pendapat ini sebagaimana pendapat feminis Marxis yang mengatakan bahwa perjuangan kesetaraan gender dapat diwujudkan dengan cara menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor publik. Kadarusman dalam Munir, Problem Pola Relasi… hal. 10 
[9]  Munir, Problem Pola Relasi… hal. 9
[10] Lihat pendapat L. Doyle dalam bukunya yang berjudul The Surrendered Wife: A Practical Guide for Finding Intimacy, Passion, and Peace with Man. Buku ini mengarahkan perempuan supaya membuang keinginan mereka meraih persamaan dengan laki-laki jika ingin kehidupan perkawinan mereka bahagia. Para perempuan dinasehati supaya mereka tetap merelakan kepemimpinan keluarga dipegang suami dan mengakomodasi kebutuhan suaminya. L. Doyle dalam Julia T Wood, Gendered Lives (Communication, Gender, and Culture), United State of America: Wadsworth. 2009, hal. 91
[11] Hal ini sebagaimana pendapat feminis Radikal. Mereka berpandangan bahwa perempuan tidak harus bergantung pada laki-laki, baik dalam masalah materi maupun dalam pemenuhan seksual, karena pemenuhan seksual bisa juga didapatkan dari sesame jenis. Manggie Humm, dalam Munir, Problem Pola Relasi Gender... hal. 11 
[12] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?....,., hal. 123. Keluarnya perempuan untuk bekerja di luar rumah sebenarnya tidak berarti kemerdekaan dari pelecehan. Menurut Julia T. Wood, diskriminasi terhadap perempuan juga terjadi di dunia kerja. Dia berargumen dengan tingginya angka pelecehan seksual baik secara verbal atau tindakan dalam dunia kerja khususnya di dunia militer. Sebagai contoh adalah skandal Thailhook dan Aberdeen dimana anggota militer laki-laki melakukan kekerasan terhadap anggota perempuan. Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication…, hal. 235 .
[13] Munir, Problem Pola Relasi Gender... hal. 11
[14] Hal ini karena konsep relasi antara suami dan istri dalam rumah tangga menurut analisa gender adalah persamaan hak dan kesempatan. Abdullah Husaini, op,cit., hal. 66
[15] Pendapat ini sebagaimana pendapat feminis Marxis yang mengatakan bahwa perjuangan kesetaraan gender dapat diwujudkan dengan cara menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor publik. Kadarusman dalam Munir, ibid, hal. 10. Mengenai hal ini, Abu ‘Ala al-Maududi menyatakan bahwa orang-orang di Barat sungguh memahami makna persamaan tidak hanya kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam masalah hak-hak kemanusiaan dan posisi ke-etika-an semata, tetapi juga sampai kepada bahwa dalam kehidupan ini hendaklah kaum perempuan diperbolehkan untuk mengerjakan berbagai hal yang dikerjakan oleh kaum laki-laki. Dan hendaklah kaum laki-laki melepaskan ikatan etika bagi kaum perempuan. Abu A’la dalam Aly Qodhi, rumah tanggaku karirku, Jakarta Selatan: Mustaqim, 2003, hal 95
[16] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication…, hal. 71. Tokoh kelompok ini Sanger mendeklarasikan: A woman’s body belongs to herself alone. It is her body. It does not belong to the Church. It does not belong to the United States of America …. Enforced motherhood is the most complete denial of woman’s right to life and liberty.
[17] Bagi feminis, alat kelamin laki-laki yang tegak berdiri yang dimasukkan ke dalam lubang vagina wanita adalah bentuk betapa mereka tidak bisa keluar dari sindrom inferioritas terhadap laki-laki. Bahkan, posisi perempuan di bawah laki-laki di ranjang adalah artikulasi dari sifat inferioritas tersebut. Asmaeny dalam Mudzakkir, op. cit., hal. 34
[18] Julia T. Wood , Gendered Lives Commonication..., hal. 74.
[19] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 65. Syaikh Ali al-Qadhi mengutip tulisan seorang penulis Eropa yang tidak disebutkan namanya. Penulis itu menyatakan: Sesungguhnya wanita Eropa dengan mode pakaian yang lamanya adalah menunjukkan sosok yang paling baik dalam hal kelemah-lembutan dan etika dalam bermasyarakat. Dan dengan pakaian seperti itu seorang perempuan menjadi istri yang baik. Namun dengan baju yang baru yang membuka aurat perempuan, sungguh hal itu lebih menguatkan arti fisik yang dipegang erat oleh masyarakat yang mementingkan cinta yang mengebu-gebu dengan kelezatan sesaat.
Keluarnya perempuan Eropa dari lingkungan rumah tangga telah menciptakan kemerdekaan negatif yang tidak bermanfaat untuk perempuan itu sendiri, terlebih masyarakat. Dengan demikian, maka hilanglah perasaan-perasaan kasih sayang kepada keluarga, dan jadilah perempuan menyerupai laki-laki. Dengan demikian, hubungan yang sejajar antara laki-laki dan perempuan dalam peradaban Barat sekarang ini hanya menegakkan sisi gender semata. Aly Qodhi, rumah tanggaku.., hal. 94.
[20] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication..., hal. 78.
[21] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 132.
[22] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal.  37.
[23] Masalah perempuan simpanan dan istri di Barat adalah dicampakkan oleh suami atau kekasih mereka. Padahal generasi tua sebelum mereka masih merasakan kehanghatan bersama suami dan keluarga karena para perempuan pada saat itu menghabiskan masa muda bersama suami dan keluarga. Mereka mendapat kesetiaan suami dan penghargaan di usia senja. Selain itu, mereka merasa aman karena masyarakat mengecam laki-laki yang mencampakkan istrinya setelah ia tidak bisa lagi mengimbanginya di tempat tidur. Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal.  202. 
[24] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 203.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS