Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Senin, 07 Mei 2012

KONSEP KELUARGA MENURUT BARAT

KONSEP KELUARGA MENURUT BARAT
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Konsep keluarga menurut Barat modern yang didesain oleh feminis bertolak belakang dengan konsep perkawinan tradisional. Perkawinan tradisional adalah cara membentuk keluarga yang pembagian kerjanya berdasarkan gender, yaitu istri mengurus keluarga sedang suami pergi bekerja.[1] Pandangan feminis ini sebagaimana dikutip Danelle, dia mengatakan bahwa para feminis berpendapat bahwa perkawinan tradisional sudah tidak cocok lagi dengan kehidupan wanita modern,[2] untuk itu mereka menawarkan konsep baru untuk membentuk keluarga yaitu perkawinan sederajat. Perkawinan sederajat adalah perkawinan yang menyerupai perkawinan sepasang homoseksual, tanpa suami maupun istri atau tanpa ayah dan ibu. Yang ada adalah kedua “mitra” atau “pasangan hidup” yang harus menjalani peran yang sama di dalam maupun di luar rumah.[3]
Penolakan pembagian kerja yang menetapkan laki-laki bekerja sedang perempuan mengurus keluarga juga disampaikan oleh NOW (National Organization for women) pada tahun 1969. Mereka menegaskan tentang penolakan bahwa laki-laki harus menafkahi dirinya, istrinya, keluarganya, dan bahwa perempuan secara otomatis berhak atas nafkah seumur hidup dari laki-laki yang menafkahinya. Para feminis juga menolak pandangan yang menyatakan bahwa  pernikahan, rumah, serta keluarga adalah dunia dan tanggung jawab utama kaum perempuan, atau dengan kalimat yang lain, laki-laki yang menafkahi sedang perempuan yang merawat.[4] Para feminis berpendapat bahwa kemitraan sejati antar gender menghendaki konsep yang berbeda mengenai perkawinan, yakni berbagi secara adil dalam hal tanggung jawab yang menyangkut rumah, anak-anak dan beban ekonomi.[5]
Konsep keluarga menurut gerakan perempuan di atas begitu kuat mempengaruhi pola pemikiran generasi perempuan bahkan laki-laki di Barat. Hasil sebuah survei yang dilaksanakan oleh lembaga penelitian sosial Universitas Michigan terhadap siswi kelas tiga SMU bisa menjadi bukti. Dalam survei itu, 70% responden mengatakan bahwa mereka tidak setuju dengan pernyataan yang mengatakan bahwa sesuatu bisa lebih baik jika laki-laki yang mencari nafkah sementara perempuan mengurus rumah tangga dan keluarga.[6]
Sebuah gambaran suami idaman versi mahasiswi yang diwawancarai oleh Denelle akan semakin menguatkan pengaruh ajaran feminis terhadap pola pikir perempuan.[7] Suami idaman menurut meraka adalah laki-laki yang memandang para istri sebagai mitra sejati, dan memperlakukan inspirasi perempuan sebagaimana mereka melakukan inspirasi mereka sendiri. Mahasiswi lain mengatakan bahwa suami idaman mereka adalah laki-laki yang mau membagi tugas rumah tangga dan merawat anak. Sebagian mereka bahkan mengatakan bahwa suami idaman adalah laki-laki yang mau tinggal di rumah sedang istri yang mencari nafkah.[8]
Konsep tentang perkawinan sederajat ini yang membuat kebanyakan para suami di Barat sekarang tidak mengharapkan istri mereka akan membersihkan rumah, merawat anak, memasang kancing baju yang lepas atau menyeterika kemeja mereka. Pekerjaan rumah tangga harus dilakukan berdasarkan kesepakatan mereka berdua sebelum menikah. Hal-hal yang biasa dilakukan istri ketika pacaran tidak dilakukan ketika sudah menikah, seperti menyiapkan makan malam. Tidak hanya itu, setiap perintah laki-laki kepada istri dianggap sebagai pelecehan.[9]
Konsep keluarga yang lain adalah pendapat feminis radikal yang disampaikan oleh Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya. Mereka menyatakan bahwa keluarga menurut feminis radikal tidak harus terdiri dari ayah, ibu dan anak, tetapi keluarga bisa terdiri dari ibu dan anak. Kehadiran ayah dalam keluarga tidak menjadi keharusan di dalamnya dan ketika ia ada, kepemimpinan dalam keluarga bukanlah hak miliknya tetapi ia harus bersaing dengan istri. Lebih lanjut, hak reproduksi merupakan hak prerogatif seorang perempuan sedang laki-laki tidak boleh memaksa mereka.[10] Tidak hanya itu, feminis radikal bahkan memandang bahwa seorang perempuan yang hamil adalah orang yang lemah. Karena doktrin seperti ini, ada sebagian perempuan di Amerika yang menutupi kehamilannya ketika keluar rumah karena malu dicap oleh feminis sebagai orang yang tidak bebas.[11] 
Pandangan yang sinis tentang keluarga juga disampaikan oleh Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex. Dia mengatakan bahwa perkawinan dimaksudkan untuk menghalangi wanita mendapatkan kebebasan yang dinikmati pria. Dalam bayangan Simone, tugas perempuan hanya sekedar memuaskan kebutuhan seks suami dan mengurus rumah tangga.[12] Jika perempuan hanya menjadi istri dan ibu yang mengurus keluarga, maka keputusan menikah adalah kekalahan.[13]
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, para tokoh feminis menyebarkan ajaran yang menyerang institusi keluarga dengan melontarkan pernyataan yang cukup bombastis. Hal ini sebagaimana yang ditulis Brigitte Berger dan Peter Berger dalam buku mereka yang berjudul ‘The War over of Family: Capturing the Midle Ground’. Pernyataan para tokoh feminis itu antara lain “ibu rumah tangga adalah perbudakan perempuan” (housewife is women’s slavery), liberalisasi sekarang, generasi mendatang akan hancur” (liberation now, the future generation be damned), “heteroseksual adalah perkosaan” (heterosexual is rape), “pro-choice”, “menentang pernikahan” (against marriage).[14]    
Tidak hanya lewat pernyataan di atas, para tokoh feminis juga melakukan profokasi lewat media. Pada tahun 1973, dua majalah McCall’s dan Mademoiselle menyatakan bahwa kaum laki-laki akan segera dianggap tidak relevan. Bahkan dua majalah itu mengatakan bahwa fungsi reproduksi akan diganti inseminasi buatan.[15] Para suami atau kekasih tidak lagi diperlukan sebagai penopang ekonomi atau sebagai mitra atau bahkan sebagai pemuas nafsu seksual. Majalah Mademoiselle secara frontal menyamakan perkawinan sebagai pelacuran.[16] 
Menurut Socrates, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan bisa dicapai jika perempuan bisa menghilangkan female modesty. Adapun cara untuk menghilangkan female modesty sebagaimana yang diajarkan Socrates adalah, penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, aborsi, dan bahkan pembunuhan anak. Selain itu, perlu ada fasilitas penitipan anak yang disediakan oleh pemerintah, bahkan seorang ibu tidak perlu mengetahui anaknya setelah melahirkannya. Socrates juga mengusulkan supaya jangan ada pernikahan kecuali semalam atau waktu yang singkat saja. Hal ini seperti prinsip kumpul kebo yang tidak ada komitmen antara kedua pasangan.[17]
Para feminis radikal, liberal, dan marxis telah merumuskan sebuah keluarga yang ideal. Sebuah keluarga tanpa kelas dan mengangkat semangat kesetaraan. Mereka juga mengusulkan penghapusan dua sumber penindasan yaitu, peran domestik dan sistem patriaki[18] yang menempatkan laki-laki pada posisi yang menguntungkan.[19] Untuk menguatkan opini mereka, buku pelajaran sekolah menampilkan gambaran perempuan yang menerbangkan pesawat sedang anak laki-laki mengepel lantai. Selain itu, gambaran perempuan yang mandiri dan tidak membutuhkan laki-laki disebarkan lewat rubik koran yang mendukung ibu tunggal.[20]
Pandangan berbeda dengan feminis disampaikan Danelle. Dia mengatakan bahwa sebenarnya setiap perempuan menginginkan anak dan rumah, tetapi gaya hidup yang diajarkan feminis membuat perempuan merasa takut jika berkeluarga akan menghilangkan kebebasan mereka.[21] Pendapat yang bersebrangan dengan feminis juga disampaikan Marabel Morgan yang membentuk gerakan yang bernama the Total Woman dan Helen Andelin yang mendirikan gerakan yang bernama the Facinating Womanhood. Kedua gerakan ini menganjurkan supaya perempuan kembali ke peran, nilai, dan sikap tradisional. Gerakan the Total Woman menurut Morgan lebih menekankan supaya perempuan menyimpan energi mereka untuk menyamai laki-laki. Meskipun pada zamannya, kedua gerakan ini menjadi bahan tertawaan namun keduanya telah berhasil mengadakan kursus atau pelatihan kepada 400.000 perempuan. Para peserta diajari berbagai hal mengenai perempuan supaya mereka menjadi perempuan yang menarik di depan suami.[22]
Penentang pandangan feminis yang lain adalah gerakan yang bernama Stop Era. Gerakan ini muncul sebagai respon diratifikasinya[23] undang-undang persamaan Equal Rights Amandemen (ERA). Kelompok ini memiliki misi untuk mengembalikan fitroh perempuan dan mengakui laki-laki sebagai kepala keluarga. Mereka secara aktif mensosialisasikan misi mereka dengan berkeliling ke Negara-negara bagian dan mempengaruhi perempuan untuk kembali ke peran tradisional mereka. Selain itu, mereka secara gencar menyerang feminisme dan mengatakan bahwa mereka adalah perusak keluarga. Sebagaimana kelompok yang lain, keberadaan gerakan ini mendapat sambutan dari kaum laki-laki maupun perempuan yang masih percaya pada peran tradisional.[24] 
Berkembangnya pemikiran tentang konsep keluarga yang bermacam-macam menimbulkan sistem pernikahan di Barat Modern yang beraneka ragam. Dr. Shahid Athar mengatakan ada empat macam pernikahan yang beredar di Barat Modern. Perkawinan itu adalah:
a)      Monogami serial. Serangkaian perkawinan terjadi satu demi satu yang saat ini populer di Amerika Serikat dan masih berlaku hingga kini, yang mana perceraian terjadi pada 40% perkawinan, dan 75% dari mereka yang bercerai selanjutnya kembali melangsungkan perkawinan.
b)      Perkawinan terbuka. Eksklusivitas suami-istri dieliminasi. Orang-orang yang mendukung jenis perkawinan ini mempraktikan system ‘barter istri’. Mereka mengklaim bahwa pengalaman-pengalaman di luar perkawinan dapat mengurangi kecumburuan, mengurangi ketegangan-ketegangan, dan meredakan tekanan-tekanan konflik pribadi.
c)      Perkawinan kelompok. Sebuah asosiasi pasangan suami istri serta anak-anak yang bercampur baur bersama tanpa batasan apa pun. Mereka mengklaim bahwa keragaman orang tua bagi orang-orang dewasa dan anak-anak dapat memberikan variasi yang lebih luas dalam hal pengalaman-pengalaman interaktif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu.
d)     Homoseksualitas. Wanita dan laki-laki mengawini jenis mereka sendiri.[25]


[1] Pada tahun 1870, rata-rata keluarga memiliki lima atau enam anak. Figur ayah adalah sebagai kepala rumah tangga. Dia sangat disiplin dan dipatuhi oleh semua anggota keluarga. Anak-anak selalu diajarkan untuk menghormati ayah mereka dan selalu berbicara dengan sopan kepadanya. Sang ibu sering menghabiskan waktunya untuk merencanakan sebuah pesta makan malam, mengunjungi penjahitnya atau menelepon teman-temannya. Ben Agger dalam A. Abdullah Khuseini, Kritik Terhadap Keluarga Perspektif Feminisme, PKU – ISID GONTOR Periode III, hal.70.  
[2] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita. 2002, hal. 148.
[3] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?.... hal. 149.
[4] Feminis Marxis memandang institusi keluarga “musuh” pertama yang harus dihilangkan atau diperkecil perannya. Keluarga dianggap sebagai cikal bakal segala ketimpangan sosial yang ada, terutama berawal dari hak dan kewajiban yang timbang antara suami-istri. Ratna Megawangi dalam Abdullah Husaini, Kritik Terhadap Konsep Kelluarga dalam Perspektif Feminisme, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 66
[5] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?.... hal. 135
[6] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?.... hal. 135
 
[7] Ajaran feminis mengatakan bahwa penindasan terjadi karena adanya pembagian kerja berdasarkan seks. Sehingga mereka menuntut pembagian kerja antara suami istri tidak berdasarkan seks dan menuntut posisi yang sama dan setara antara suami dan istri. Abdullah Husaini, Kritik Terhadap..., hal. 69
[8] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?.... hal. 132.
[9] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 123.
[10] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit), Membincangkan Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, hal. 7.
[11] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 178.
[12] System keluarga seperti ini adalah system patriaki dimana laki-laki mendominasi dan menindas kaum perempuan (ini bukan keluarga Islami, Penulis). Kaum perempuan menjadi “korban” abadi dalam sistem kehidupan masyarakat yang mengalami ketimpangan structural. Bani Syarif Maula dalam Abdullah Husaini, Kritik Terhadap…, hal. 66.  
[13] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 117.
[14] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit), Membincangkan …,  hal. 170.
[15] Inséminasi adalah pemasukan sperma ke dalam saluran genitalia betina; Inseminasi buatan adalah penempatan sperma ke dalam uterus atau kan-dung telur yg dilakukan dng bantuan manusia. Dikutip dari kamus besar bahasa Indonesia versi offline. http://pusatbahasa.diknas.go.id
[16]  Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 32.
[17] Ratna Megawangi dalam pengantar Danelle Crittenden, ibid, hal. 22.  
[18] Ruth Blair menggambarkan sistem patriaki sebagai sebuah sistem bersejarah mengenai dominasi kaum laki-laki, sebuah sistem yang berfungsi untuk mempertahankan dan memperkokoh hegemoni laki-laki disegala aspek kehidupan. Secara lebih tegas, Gender Lerner mendefinisikan patriaki dalam keluarga, dan lebih luas adalah dominasi laki-laki atas perempuan ditengah-tengah masyarakat. Dikutip Ismael Adam Fatel dalam , Kritik Terhadap Bangunan Wacana Lesbian Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 34  
[19]  Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit) Membincangkan …,hal. 170.
[20]  Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal 40.
[21] Ibid, hal. 118.
[22] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 90
[23]  Ratifikasi: pengesahan suatu dokumen negara oleh parlemen, khususnya pengesahan undang-undang, perjanjian antarnegara, dan persetujuan hukum internasional. Dikutip dari kamus besar bahasa Indonesia versi offline. http://pusatbahasa.diknas.go.id
[24] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication…, hal. 90.
[25] Shahid Athar, Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslim, Jakarta: Pustaka Zahra, 2004, cet ke-dua, hal. 50.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS