Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Jumat, 04 Mei 2012

LANDASAN TEORITIS DAN IDEOLOGIS KESETARAAN GENDER


LANDASAN TEORITIS DAN IDEOLOGIS KESETARAAN GENDER
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Teori-teori dan ideologis kesetaraan gender semua bermuara pada teori sosial besar yaitu:
A.    Teori Struktural-Fungsional.
Pendekatan teori ini adalah pendekatan teori sosiologi yang diterapkan dalam institusi keluarga. Keluarga sebagai sebuah institusi dalam masyarakat mempunyai prinsip-prinsip yang serupa dengan prinsip-prinsip yang ada dalam masyarakat. William F. Ogburn dan Talcott Parsons adalah para sosiolog ternama yang mengembangkan pendekatan struktural-fungsional dalam kehidupan keluarga pada abad ke-20. Pendekatan ini mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Pengakuan keragaman ini merupakan sumber utama adanya struktur masyarakat dan pengakuan akan adanya perbedaan fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem.[1]
B.     Teori Konflik
Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori Konflik menfokuskan pada perubahan sosial dan situasi konflik. Hal ini disebabkan terbatasnya sumber daya sedang setiap individu atau kelompok membutuhkannya.[2]
Secara teoritis, teori ini merupakan pengembangan dari paham materialisme yang memiliki pengaruh kuat pada abad ke-17. Thomas Hobbes (1588-1679) adalah orang yang paling berpengaruh dalam mengembangkan paham materialisme. Menurut Hobbes, manusia memiliki sifat dasar, yaitu sifat rakus yang tidak pernah terpuaskan, penipu, dan tidak ada rasa belas kasih. Sifat-sifat ini yang akan membuat kondisi masyarakat penuh dengan konflik.[3]
Pendapat Karl Marx yang kemudian dilengkapi oleh Friedrich Engels mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga.[4] 


C.    Teori Psikoanalisa/Identitas
Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh seksualitas. Freud menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego.
Pertama id, id merupakan pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung selalu agresif. Ia mendorong seseorang untuk mencari kesenangan dan kepuasan. Yang kedua ego, ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Yang ketiga superego, superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan.[5]
Perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh lima tahapan psikoseksual. Freud menghubungkan kepuasaan insting seksual dengan anggota badan tertentu. 5 tahap itu
1)      Oral stage, masa ini terjadi pada bayi yang mengisap susu dari mulut (pada tahun pertama)
2)      Anal stage, masa ini terjadi pada tahun kedua, ketika seorang bayi mengeluarkan kotoran dari dubur.
3)      Phallic stage, masa phallic terjadi ketika anak mulai mengidentifikasi kemaluannya, seorang anak laki-laki mendapatkan kesenangan erotis dari penis sedang perempuan dari clitoris.
4)      Talency stage, Talency stage merupakan kelanjutan tingkat sebelumnya, pada masa ini, kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa pubertas.
5)      Genital stage, saat kematangan seksualitas seseorang.[6]
Teori ini menyatakan bahwa pada masa Phallic yaitu sekitar umur 3-6 tahun, seorang anak bisa mendapatkan kesenangan ketika memainkan alat kelaminnya. Ketika masa ini mereka bisa mengidentifasi diri mereka. Anak laki-laki merasa mirip ayah dan anak perempuan mirip ibu. Anak laki-laki merasa superior karena memiliki penis sedang perempuan merasa inferior karena tidak memiliki penis. Sejak saat itu terjadi sifat cemburu perempuan kepada laki-laki.[7]
D.    Teori  Feminism
1)      Feminism Liberal
Tokoh aliran ini antara lain Margaret Fuller (1810-1850), Harriet Martineu (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan Susan Anthony (1820-1906). Dasar pemikiran kelompok ini adalah semua manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan seimbang dan serasi. Oleh karena itu, tidak terjadi penindasan antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Meskipun dikatakan sebagai feminis liberal, kelompok ini tetap menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa hal, terutama fungsi reproduksi, aliran ini tetap memandang perlu perbedaan. Bagaimanapun juga perbedaan organ membawa kosekuensi logis di dalam kehidupan masyarakat. Kelompok ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Sehingga tidak suatu kelompok yang lebih dominan.[8]
Untuk merealisasikan tujuan mereka, aktivis feminis liberal melakukan dua hal penting. Pertama adalah dengan melakukan pendekatan psikologis. Mereka mengadakan diskusi-diskusi, tanya jawab dan sharing seputar buruknya kondisi perempuan di masyarakat yang dikuasai laki-laki. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran individu untuk melawan dominasi laki-laki. Kedua adalah dengan menuntut pembaharuan hukum yang dianggap tidak menguntungkan perempuan. Pembaharuan itu mencakup penghapusan hukum yang lama dan membuat hukum baru yang memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki.[9]
2)      Feminism Marxis-Sosialis
Tokoh aliran ini adalah Clara Zetlin (1857-1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919). Aliran ini berupaya menghilangkan stuktur kelas dalam masyarakat yang berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara dua jenis kelamin lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Kelompok ini berpendapat bahwa ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan di dalam lingkungan rumah tangga.[10]
Menurut feminisme Marxis, sebelum kapilatisme berkembang, kebutuhan keluarga untuk bertahan ditanggung seluruh anggota keluarga termasuk perempuan. Mereka merupakan kesatuan produksi. Tetapi setelah kapitalisme berkembang, institusi keluarga bukan lagi sebuah kesatuan produksi. Semua kebutuhan manusia berpindah dari rumah ke pabrik. Saat itu terjadi pembagian kerja berdasarkan seksual. Para suami bekerja di sektor publik dan mendapatkan upah sedang perempuan bekerja mengurus rumah tanpa mendapat upah. Karena nilai eksistensi manusia dinilai dari kepemilikan materi maka perempuan dinilai lebih rendah dari laki-laki. Untuk mengangkat derajat perempuan sejajar dengan laki-laki maka mereka harus ikut dalam kegiatan produksi dan kegiatan di sektor publik dan meninggalkan sektor domestik.[11]  
3)      Femenisme Radikal
Kelompok ini muncul pada permulaan awal abad ke-19. Feminisme Radikal menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Selain iu, kelompok ini menuntut persamaan seks. Menurut mereka, kepuasan seksual juga bisa diperoleh dari sesama perempuan sehingga mereka mentolerir lesbian.[12]
Menurut penulis, inti perjuangan semua aliran femisme ialah mereka berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan persamaan status serta peran sosial antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak ada lagi terjadi ketimpangan gender di dalam masyarakat.
E.     Teori Sosio-Biologis.
Teori ini dikembangkan oleh Pierre van den Berghe, Lionel Tiger dan Robin Fox. Teori ini melibatkan faktor biologis dan sosial dalam menjelaskan relasi gender. Laki-laki dominan secara politis dalam semua masyarakat karena predisposisi biologis bawaan mereka. Dalam dunia hewan pun, jenis jantan memperlihatkan perilaku lebih kasar, mengancam, dan unggul dari pada betina. Kenyataan lain bahwa laki-laki umumnya lebih besar dan kuat fisiknya secara konstan dibanding perempuan yang sewaktu-waktu mengandung dan menjalani menstruasi. Kenyataan ini memainkan peran penting dalam aspek pembagian kerja menurut jenis kelamin. Masyarakat akan lebih diuntungkan kalau laki-laki yang bertugas sebagai pemburu dari pada perempuan, sedang mengandung, melahirkan dan menyusui adalah tugas perempuan yang tidak mungkin diganti oleh laki-laki. [13]
1)      Konsep Gender: Nature vs Nurture
Teori Nature atau Biological Essensialism adalah sebuah teori umum yang beranggapan perbedaan fungsi serta peran antara laki-laki dan perempuan disebabkan karena adanya perbedaan alamiah sebagaimana tercemin di dalam perbedaan anatomi biologis kedua makhluk tersebut. Teori ini meyakini ada hubungan yang kuat antara biologis (sex) dengan sifat atau karakter lekaki dan perempuan.[14]
Teori Nurture adalah sebuah teori yang berpendapat bahwa perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki serta perempuan disebabkan oleh faktor budaya dalam suatu masyarakat. Teori Nuture menolak teori Biological Essensialism, mereka meyakini bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminim bukan pengaruh biologi melainkan kulturisasi.[15]


[1] Ratna Megawangi,  Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan,  1999, Cet pertama, hal. 56.
[2] Bernard Raho, http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik#cite_note-0
[3] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 76-77.
[4] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Qur’an, Jakarta: Paramadina, hal. 61.
[5] Nasarrudin, Argumen Kesetaraan…., hal. 46.
[6] Nasarrudin, Argumen Kesetaraan….,  hal. 47.
[7] Sigmund freud dalam Nasarrudin, Argumen Kesetaraan., hal. l 49.
[8] Nasarrudin, Argumen Kesetaraan., hal. 65.
[9] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1997, hal. 47.
[10] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 66.
[11] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian…, hal. 49.
[12]  Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 67.
[13] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 68.
[14] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 94.
[15] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 94.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS