Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Kamis, 10 Mei 2012

PEREMPUAN SEBAGAI IBU DALAM KELUARGA DI BARAT MODERN


PEREMPUAN SEBAGAI IBU DALAM KELUARGA DI BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
1.      Kedudukan Ibu dalam Keluarga
Feminis menilai bahwa ibu rumah tangga merupakan penjara bagi seorang perempuan untuk mengembangkan diri. Mereka menggambarkan ibu rumah tangga sebagai perempuan yang tertinggal, menjadi makhluk inferior, dan menderita.[1] Pandangan ini berkembang karena mereka melihat kebahagiaan itu memiliki kekayaan. Pekerjaan mengurusi anak bukanlah pekerjaan yang harus dijalani seorang ibu, pandangan-pandangan ini bisa terlihat bagaimana mereka menyeru perempuan untuk keluar rumah dan mencari orang untuk merawat anak.[2] Hal ini bisa dilihat pada kasus berikut ini.
Satu lembaga pembangunan dari Eropa ingin mendanai proyek pembangunan bagi perempuan di kawasan urban Amerika Latin. Lembaga tersebut mempekerjakan konsultan lokal yang melaporkan bahwa peran utama perempuan adalah sebagai istri dan ibu, serta masalah utamanya adalah tidak memiliki uang. Berdasarkan laporan tersebut, maka lembaga Eropa melalui NGO setempat membuat program yang memberi penghasilan kepada perempuan. Setelah beberapa bulan, NGO mulai membangun pusat (center) dan tempat yang digunakan untuk mensuplai bahan baku pembordiran sarung bantal. Setiap anggota mendapat pinjaman $ 25 tanpa bunga. Mereka membeli bahan baku dari center, kemudian center akan membeli hasil bordiran dari anggota sebesar $ 5 per-sarung bantal dengan modal yang dibutuhkan $ 1.50.[3]
Setelah beberapa waktu, beberapa anggota mengundurkan diri karena mereka sibuk dengan pekerjaan rumah yaitu mendidik anak dan melayani suami. Ketika penjualan center tidak lancar sedangkan persediaan menumpuk, program ini mandek setelah berjalan dua tahun. Selain kurangnya koordinasi, yang menjadi sorotan adalah perempuan dibatasi pekerjaan rumah tangga. Maka solusi yang ditawarkan adalah perempuan harus berani meninggalkan tugas utama mereka mendidik anak dan melayani suami mereka supaya bisa bekerja dan mendapat keuntungan lebih. Mereka juga berpendapat bahwa masalah anak bisa diatasi dengan menitipkan mereka di suatu tempat.[4]
Julia Cleves mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan sesuatu yang alami tetapi lebih dipengaruhi komunitas, gender, kelas dan suku. Ia berargumentasi bahwa orang kaya lebih senang mempekerjakan pembantu untuk merawat anak dari pada melakukan sendiri. Hal ini berbeda dengan orang miskin yang lebih suka merawat anak sendiri untuk mengurangi beban ekonomi. Faktor biologis yang menyebabkan kaum perempuan bisa melahirkan dan menyusui hanya merupakan bahan baku dan tidak menyebabkan mereka secara otomatis menjadi ibu rumah tangga.[5] Untuk itu, ia menegaskan bahwa istilah ibu menjadikan pekerjaan perempuan di luar rumah kurang dihargai.[6]   
2.      Tugas Ibu dalam Keluarga Menurut Barat Modern
Pekerjaan dan tugas ibu dalam rumah tangga harus berdasarkan kesepakatan bersama antara suami dan istri sebelum mereka menikah. Pernikahan sederajat telah menegaskan akan kesamaan kewajiban dan hak yang sama antara bapak (suami) dan ibu (istri).[7] Seorang ibu juga bekerja sebagaimana suami mereka, sehingga tugas menjaga dan merawat rumah, mereka lakukan bersama-sama.[8]
Aida Fitalaya S. Hubies dalam tulisannya yang berjudul “Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan” mengutip pendapat kaum feminis Barat yang menilai bahwa pembagian kerja domestik dan publik hanya untuk menetapkan superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan.[9] Untuk menggambarkan bahwa tugas perempuan (ibu) tidak mengandung dan melahirkan, Naomi Wolf menunjukkan data kekerasaan pada anak di Amerika yang mencapai 49,5 persen dilakukan oleh ibu. Naomi ingin mengaburkan pandangan bahwa perempuan itu lemah lembut dan tidak bisa melakukan kekerasan.[10]
Dalam artikel yang berjudul Husband and Wife - Roles in Marriage As God Intended!, Kenneth Westby mengutip pendapat feminis yang mengatakan bahwa kebahagian para ibu (istri) bisa didapat ketika mereka melepas tanggung jawab untuk mengasuh anak, melahirkan dan melayani suami.[11]
Budaya seorang ibu yang bekerja bukan merupakan dorongan ajaran feminis saja tetapi juga adanya tekanan para suami (bapak) yang menginginkan mereka bekerja. Mereka tidak rela ketika harus bekerja di luar sedangkan istrinya berada di rumah mengurusi kebutuhan rumah tangga. Untuk memberi gambaran yang jelas tentang pandangan para ayah kepada ibu, berikut kisah nyata seorang penulis yang bernama Colette Dowling. Dia seorang janda yang memiliki 2 anak. Dia mengandalkan upah dari tulisan yang diterbitkan di koran atau majalah. Dia selalu dibayang-bayangi perasaan takut akan tuntutan kehidupan di hari esok, takut tidak bisa membayar sewa rumah, takut kalau tidak bisa bertahan hidup. Dilaluinya hari-hari itu dengan perasaan takut dan khawatir, sampai akhirnya dia bertemu seorang pria yang bernama Lowel.[12]
Setelah tinggal bersama Lowel, Colette merasa lebih tenang. Rasa takut yang menghantuinya setiap hari terasa hilang. Kemudian dia mulai merubah gaya hidup yang mandiri menjadi ibu rumah tangga. Setiap hari dia membersihkan rumah, mengepel lantai, memasak, merawat anak dan melayani suami. Semua beban finansial dia serahkan kepada Lowel sedang dia fokus dalam kegiatan rumah tangga. Colette mengakui bahwa dia lebih senang dari pada hidup menyendiri. Tetapi kesenangan itu hanya bertahan selama 6 bulan kemudian hilang ketika Lowel menyatakan bahwa dia merasa dieksploitasi untuk bekerja dan membayar tagihan sedangkan Colette hanya di rumah dan tidak menghasilkan uang. Mulai saat itu dia merasa dihinakan dengan tugas rumah, merasa semua pekerjaan dan usahanya tidak dihargai sehingga terpintas bahwa menjadi ibu rumah tangga berarti menjadi pembantu. Ketika dia mengekpos permasalahan dirinya ke sebuah media, setiap hari dia mendapat surat dari pembaca yang menyarankannya untuk bersabar. Tidak hanya itu, para pembaca mengatakan bahwa hal semacam itu tidak hanya terjadi pada dirinya tetapi juga perempuan yang lain.[13]
Membaca cerita di atas membuat orang memahami bahwa kemandirian dan kesetaraan terbentuk karena faktor pandangan yang salah laki-laki dalam memahami konsep perempuan dan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga dalam pandangan laki-laki di Barat seperti pembantu, hal ini karena para suami tidak menghargai pekerjaan mereka di rumah. Kaum laki-laki merasa bahwa pekerjaan mereka lebih berat sedang pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tanpa beban.[14]
Di tengah masyarakat Barat yang begitu komplek, Danelle mengatakan bahwa masih banyak (52%) perempuan yang ingin tinggal di rumah bersama anak-anak daripada bekerja.[15] Kondisi sosial yang tidak menentu dimana para bapak dan suami tidak mau bertanggung jawab kepada istri dan anak membuat mereka harus tetap bekerja.[16] Para perempuan karir ini takut jika berhenti bekerja kemudian setelah 10-20 tahun mereka bercerai, mereka harus mengulangi dari awal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasangan laki-laki sesalu mencari pasangan yang lebih muda dan menggairahkan. Untuk itu, mereka tetap bekerja tapi lebih ringan daripada ketika belum punya anak. Selain itu, suami mereka juga menuntut kaum istri bekerja. Ini adalah alasan mengapa 80% perempuan karir berpenghasilan kurang dari $26.000 pertahun. Mereka lebih memilih pekerjaan yang lebih teratur dan fleksibel.[17]

3.      Hak-hak Ibu dalam keluarga Barat Modern
Pola kehidupan keluarga masyarakat Barat telah menyebabkan para ibu kehilangan hak mereka untuk disayangi dan dihargai oleh anak-anak mereka ketika usia tua.[18] Hal ini karena kaum perempuan yang mengejar karir telah mengabaikan keinginan anak-anak mereka untuk ditemani  ketika mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Akhirnya, anak-anak itu menjadi acuh tak acuh bahkan bersikap kejam ketika perempuan-perempuan itu menjadi tua.[19]
Tidak hanya faktor kurangnya perhatian yang membuat orang tua di Barat akan merasa kesepian ketika tua (khususnya perempuan), tetapi juga karena adanya undang-undang yang melepaskan ikatan tanggung jawab antara anak dan orang tua. Emansipasi[20] telah merampas ikatan emosional orang tua dan anak. Dengan dalil kemerdekaan, Barat telah menetapkan emansipasi sebagai solusi untuk kemerdekaan dan kebebasan anak dari kontrol orang tua. Secara materi, orang tua juga diuntungkan karena terlepas dari beban menafkahi anak yang telah menginjak umur dewasa.[21] Isabella Snow mengutarakan pendapat yang sama. Seorang anak bisa mengajukan cerai dengan orang tua.  Dalam tulisan yang berjudul “How To Divorce Your Parents” dia mengutarakan cara bercerai dengan orang tua beserta alasan kenapa ingin menceraikan orang tua.[22]
Richard F. Jones seorang dosen di American College Obstetrician and Gynecologist menulis sebuah makalah mengenai fenomena epidemi[23] yang melanda Amerika dan berbagai Negara di Benua Eropa. Makalah ini diterbitkan oleh Majalah Al-‘Idah pada edisi Januari 1993 dengan judul Domestic Violence; Lets Our Voices be Heard. Dalam makalah itu dia menggambarkan kondisi perempuan lansia:
Sekolompok lansia atau orang-orang jompo atau perempuan-perempuan yang diceraikan suami menghabiskan sisa hari-harinya dalam kondisi yang mengenaskan. Mereka terisolir dari kehidupan  sosial secara total dan hidupnya sekadar bisa makan, minum, serta berteduh semata. Hal ini benar-benar memperhatinkan, baik di Eropa maupun di Amerika. Jika kita berkunjung ke sana, akan menyaksikan pemandangan semacam itu. Begitulah kondisi yang dialami kelompok lansia atau orang-orang jompo atau perempuan-perempuan malang yang diceraikan suaminya. Mereka benar-benar perempuan malang. Mereka menghabiskan sisa hidupnya sendirian di gubuk sederhana dan kecil. Tak ada seorang pun yang mempedulikan kehidupan mereka, selain anjing kecil penjaganya. Jika ada bahaya, dia akan menyalak memberi tahu majikannya. Anjing itu senantiasa menemaninya setiap pagi, ketika majikannya pergi menjual buah atau sayuran untuk membeli keperluan hidupnya. Terkadang ia menemani ketika dia sedang berjalan-jalan lalu duduk-duduk santai di sebuah taman atau sengaja bersantai di taman itu. Jika pulang ke gubuknya, dia segera mengunci dengan beberapa kunci agar aman.[24]
Keadaan keluarga yang memprihatinkan inilah yang kurang diketahui oleh perempuan yang tergiur ajaran feminis. Gambaran kebebasan begitu indah sehingga kaum hawa tidak sadar akan dampak dari kebebasan itu sendiri.[25]


[1]  Munir, Problem Pola Relasi Gender Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal.11
[2] Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 53.
[3] Julia Cleves Mosse. 1996. Gender &…. Hal. 53.
[4] Julia Cleves Mosse. 1996. Gender &…. Hal. 55
[5] Hal ini bersebrangan dengan pandangan Smails (seorang pakar berkebangsaan Inggris). Ia menyatakan bahwa peraturan yang menuntut diikut sertakan perempuan dalam lapangan pekerjaan, tatkala hal itu telah menjadi khazanah bagi sebuah Negara, maka pada akhirnya akan menghancurkan bangunan kehidupan rumah tangga, karena peraturan itu merusak tegaknya keluarga, merobohkan tiang-tiang rumah tangga dan memisahkan ikatan-ikatan masyarakat. Yang demikian itu karena peraturan itu sama saja merampas istri dari suaminya dan merampas anak-anak dari kerabatnya. Sehingga berakhirlah semua itu dengan kehancuran akhlak perempuan. Dalam Aly Qadhi, op. cit., hal. 94
[6] Julia Cleves Mosse, Gender &..., hal 38-42.
[7]  Naomi Wolf, Gegar Gender, Yogyakarta: Pustaka Semesta Press, 1997, hal. 321. Dia menyatakan bahwa menjadi ibu dan berkorban diri tidaklah merupakan kesatuan otomatis yang berifat mistis. Kita punya pelajaran penting yang harus dimengerti dari kegagalan-kegagalan penerapan kesatuan ilmiah tadi dalam kenyataan.
[8] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita, 2002, cetakan pertama, hal. 149.
[9] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit), Membincangkan…. Hal. 34.   
[10] Naomi Wolf, Gegar…., hal.320
[11] Kenneth Westby, Husband and Wife - Roles in Marriage As God Intended!, http://www.keithhunt.com/Huswif1.html
[12]  Colette Dowling, Tantangan Wanita Modern, Jakarta: Erlangga., 1992, Cet ke-2, hal 4.
[13] Colette Dowling, Tantangan Wanita…. hal 7
[14] Colette Dowling, Tantangan Wanita…. hal 7
[15] Colette Dowling, Tantangan Wanita…. hal. 140
[16] Di Amerika dengan adanya “No fault divorce”, separuh perkawinan di AS berakhir dengan  perceraian. Di New York angka perceraian sudah mencapai 70%. Iklan-iklan jasa yang ditawarkan oleh kantor-kantor hukum dengan menjanjikan dapat membereskan proses perceraian hanya dengan waktu yang singkat. Ratna Megawangi dalam Munir, Problem Pola Relasi...,., hal. 15
[17] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 141.
[18] System kehidupan di Barat telah memutuskan sistem keluarga besar yang utuh. Hal ini dapat ditelusuri dri adanya gejala-gejala meningkatnya jumlah orang tua bahkan kakek nenek lanjut usia yang dikirim ke panti-panti jompo yang hidup terpisah dari keluarga mereka sendiri. Elizabeth dalam Munir, Problem Pola Relasi..., hal, 15.
[19] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?...., hal. 202
[20] Emansipasi adalah proses pelepasan tanggung jawab orang tua untuk menafkahi dan mengontrol anak begitu anak tidak memiliki beban tanggung jawab mengurus orang tua ketika mereka telah memasuki usia udzur.
[21] Sari M. Friedman, When is my Child Emancipated? http://www.sarilaw.com /Articles/Child_Support /When_is_My_Child_Emancipated.aspx
[22] http://isabellasnow.hubpages.com/hub/How-To-Divorce-Your-Parents
                [23] Epidemi adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yg luas dan menimbulkan banyak korban. Dikutip dari kamus besar bahasa Indonesia versi offline. http://pusatbahasa.diknas.go.id
[24] Sa’id Romadhan Al-Buthi, Perempuan antara kezaliman Sistem Barat dan Keadilan Islam, Solo: Era Intermedia, 2002, cet pertama, hal. 32.
[25] Ibid, hal. 25. Dr. Said Romadhan menyebutkan dampak dari ajaran Barat. 1. Kehancuran institusi keluarga dan seluruh unsurnya. 2. Kehancuran kaum perempuannya.

2 komentar:

  1. Keren pakdhe artikelnya... Tp jangan panjang2 mjdkan pembaca capek.. He,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa di atur din. sekarang baca setengah n dilanjutkan kapan2

      Hapus

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS