Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Kamis, 03 Mei 2012

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GENDER


SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GENDER
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan gender tidak bisa terlepas dari sejarah pergerakan kaum feminisme di Barat. Maka pada pembahasan ini, penulis akan memulai dari pergerakan feminisme sampai akhirnya muncul istilah gender.
Sejarah Muncul dan Perkembangan Feminisme
Kata feminis pertama kali ditemukan pada awal ke-19 oleh seorang sosialis berkebangsaan Perancis, yaitu Charles Fourier.[1] Terdapat perbedaan pendapat antara ilmuan tentang sejarah munculnya istilah feminisme.
Pendapat pertama menyatakan bahwa Istilah Feminisme berasal dari bahasa Latin Femina (perempuan). Hamid Fahmy Zarkasi mengutip pendapat Ruth Tucker dan Walter l. Liefeld dalam buku mereka yang Daughter of the Church yang menyatakan bahwa kata istilah feminis berasal dari kata fe atau fides dan minus yang artinya kurang iman (less in faith).[2]
Pendapat kedua disampaikan Jane Pilcher dan Imelda Whelehan dalam buku mereka yang berjudul Fifty Key Concepts in Gender Studies. Mereka menyatakan bahwa istilah feminism berasal dari bahasa Perancis yang muncul pada abad ke Sembilan belas. Feminisme merupakan istilah kedokteran yang menggambarkan unsur kewanitaan dalam tubuh laki-laki atau unsur kelaki-lakian dalam tubuh wanita. Setelah istilah ini masuk dalam kebendaharaan bahasa Amerika pada awal abad keduapuluh, istilah ini hanya mengacu pada nama sebuah kolompok pergerakan wanita.[3] 
Pendapat ketiga juga memiliki kesamaan dengan pendapat kedua dalam masalah asal kata. Julia T. Wood seorang professor humanity di Universitas North Carolina mengatakan bahwa kata feminism ditemukan di Perancis pada akhir tahun 1800. Istilah ini merupakan gabungan antara kata femme yang berarti perempuan dan suffix ism yang berarti posisi politik. Untuk itu, makna feminism yang asli adalah sebuah posisi politik tentang perempuan. Dalam perkembangannya, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, yaitu sebuah gerakan yang menuntut persamaan sosial, politik, dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan.[4]  
Istilah feminis sebagai nama suatu pergerakan aktivis perempuan dalam memperjuangkan hak mereka bukanlah yang pertama dalam tatanan bahasa. Sebelum istilah ini muncul, kata-kata seperti womanism, the woman movement, atau woman question telah digunakan terlebih dahulu.[5] Seiring berkembangnya gerakan kelompok feminisme ini, istilah-istilah di atas berubah menjadi feminisme hingga sekarang.
Gerakan feminisme berkembang dengan baik tidak hanya di Barat tetapi juga di Negara-negara timur. Salah satu faktor yang mendorong cepatnya gerakan femenisme adalah gerakan ini menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, melalui progam women studies. Bahkan gerakan ini mampu menyentuh bidang politik dimana gerakan perempuan ini telah mendapat “restu” dari perserikatan Bangsa-bangsa dengan dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Eliminating of All Farms of Discriminating Against Women).[6]
Setelah munculnya rekomendasi dari PBB, gerakan ini berkembang sangat pesat. Perkembangan gerakan ini bisa dilihat dari kebijakkan PBB yang menunjukkan keberhasilan mereka. Sejak 1990, UNDP (United Nations Development Program) melalui laporan berkalanya (Human Development Report) telah menyiapkan indikator untuk mengukur kemajuan suatu negara. Selain pertumbuhan GDP (Growth Domestic Product) mereka menambah (Human Development Index) HDI. HDI digunakan untuk mengukur kemajuan suatu negara dengan melihat usia harapan hidup (life expectancy), angka kematian bayi (infant mortality rate), dan kecukupan pangan (food security). Sehingga inti kemajuan suatu negara adalah meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Setelah lima tahun, UNDP menambah konsep HDI dengan kesetaraan gender (Gender Equality).[7]
Sejak UNDP memasukkan kesetaraan gender dalam HDI, maka faktor kesetaraan gender harus selalu diikutsertakan dalam mengevaluasi keberhasilkan pembangunan nasional. Perhitungan yang dipakai adalah GDI (Gender Development Index) dan GEM (Gender Empowerment Measure). Perhitungan GDI mencakup kesetaraan antara pria dan wanita dalam usia harapan hidup, pendidikan, dan jumlah pendapatan. Sedangkan perhitungan GEM mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik dan dalam beberapa sektor yang lainnya. Ukuran ini bertitik tolak pada konsep kesetaraan sama rata.[8]
Perkembangan gerakan feminisme juga terasa di Indonesia dengan diratifikasinya isi CEDAW sehingga keluarlah UU no. 7 tahun 1984. Setelah itu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan undang-undang perlindungan anak. Selain itu, mereka juga berusaha melakukan legalisasi aborsi melalui amandemen UU kesehatan. Dalam bidang politik, feminis berada di belakang keluarnya UU pemilu tahun 2008 tentang kuota caleg perempuan sebanyak 30 persen.[9] 
Sejarah muncul dan perkembangannya Feminisme secara umum dibagi menjadi 3 gelombang yaitu:
a)      Gelombang pertama
Gerakan feminisme gelombang pertama secara luas diketahui terjadi antara tahun 1880 dan 1920. Gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran Mary Wollstonecraft lewat bukunya yang berjudul ‘Vindication of the Rights of Women’. Buku ini dipublikasikan di Inggris pada tahun 1792.[10] Buku ini memberi pengaruh sangat besar dalam pergerakan feminisme di dunia, bahkan Winifred Holtby menganggap buku ini sebagai “Bible-nya gerakan perempuan di Inggris”.[11] Wollstonecraft seorang pioner feminisme yang berusaha membongkar batasan-batasan pandangan subjektif tentang gender yang melebihkan laki-laki dan merendahkan perempuan. Dia pernah menulis artikel tentang hal itu yang berjudul ‘the Fictionality of Both Femininity and Masculinity.’[12]
Perhatian feminis gelombang pertama adalah memperoleh hak-hak politik dimana mereka menuntut hak suara dalam pemilihan umum. Selain itu, mereka juga menuntut akses pendidikan, kesempatan ekonomi yang setara bagi kaum perempuan, miliki hak pernikahan dan cerai. Feminis berargumentasi bahwa perempuan memiliki kapasitas rasio yang sama dengan laki-laki.[13]
Aksi politik feminisme yang dimotori oleh kaum feminis liberal telah membawa perubahan pada kondisi perempuan saat itu. Mereka berhasil mendapat hak pilihnya dalam pemilu pada tahun 1920, dan mereka juga berhasil memenangkan hak kepemilikan bagi perempuan, kebebasan reproduksi dan akses yang lebih dalam bidang pendidikan dan profesionalan.[14]
b)      Femenisme Gelombang Kedua.
Gerakan feminisme sempat melemah ketika terjadi perang dunia pertama dan kedua. Gerakan ini menguat kembali pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an.[15] Meskipun menguat kembali pada akhir tahun 1960an, gelombang kedua sudah muncul pada tahun 1949, hal ini ditandai dengan munculnya publikasi Simone de Beauvoir yang berjudul ‘Second Sex’. Buku ini dipublikasikan lima tahun setelah wanita Perancis mendapat hak kebebasan mereka yang pertama kalinya. Buku ini merupakan dokumen yang penting bagi feminis modern sebagimana buku Betty Friedan yang berjudul ‘The Feminine Mistique’.[16] Beauvoir berargumen bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan berakar dari faktor biologis, tetapi sengaja diciptakan untuk memperkuat penindasan terhadap kaum perempuan.[17]
Pada gelombang kedua, tuntutan kaum feminis tidak hanya pada bidang politik dan hukum, tetapi mereka menuntut hak mereka yang lebih luas. Pada gelombang kedua, para feminis mengangkat isu liberation atau kebebasan ditengah-tengah tekanan masyarakat patriakhy. Para feminis menilai isu persamaan (equality) tidak dapat dicapai dengan pemberian hak memilih sehingga mereka merasa gelombang kedua sebagai waktu yang tepat untuk muncul di ranah publik.[18] Mereka menuntut persamaan dalam lapangan pekerjaan, baik dalam mendapatkan upah maupun mendapatkan kedudukan dalam tempat kerja, tuntutan dalam pendidikan, dan masalah pekerjaan rumah tangga.[19] 
c)      Feminisme Gelombang Ketiga,
Gerakan feminisme berlanjut sampai muncul gelombang ketiga pada awal tahun 1990an. Pada gelombang ketiga, gerakan ini memfokuskan sesuatu yang tidak terdapat pada tuntutan gelombang kedua. Gerakan ini masih melihat adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam ras, etnik atau bangsa tertentu.[20] Mereka menuntut keseragaman dalam mendapatkan hak antara orang kulit putih dan hitam, karena dalam sejarah, perempuan kulit hitam lebih menderita daripada perempuan kulit putih.[21]
Aktivis feminis pada gelombang ketiga sering mengkritik feminis pada gelombang kedua yang kurang memperhatikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi ras, eknik atau bangsa.[22] Kritik feminis gelombang ketiga kepada feminis gelombang kedua secara jelas disampaikan Lesley Heywood dan Jennifer Drake yang mendeklarasikan diri sebagai ‘post-feminist’ dan menyatakan bahwa mereka bersebrangan dan mengkritik feminis gelombang kedua.[23]



[1] Ratna Megawangi,  Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan,  1999, Cet pertama, hal. 20.
[2] Hamid Fahmy Zarkasyi “Problem Kesetaraan Gender dalam Studi Islam,”  Islamia, Vol III No.5,2010.  Hal 3. Edisi tulisan dalam bahasa Inggris sebagai berikut. “The very  word to describe woman, femina, according to the authors (of Witches hammer) is derived form fe and minus or fides and minus, interpreted as less in faith.”
[3] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, Fifty Key Concepts in Gender Studies, London: Sage Publication, 2004, Hal. 48.
                [4] The word feminism was coined in France in the late 1800s. it combined the French word for “woman” femme, with the suffix ism, meaning “political position.” Thus feminism originally meant “a political position about women”. ---- feminism is defined as “a movement for social, political, and economic equality of women and men.” Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 3.
[5] Sheila dalam Dinar Dewi Kania, “Isu Gender: Sejarah dan Perkembangannya Islamia voll No. 5,2010, Hal. 29.
[6] Sheila dalam Dinar Dewi Kania, “Isu Gender: Sejarah… hal. 26.
[7] Ratna Megawangi, Membiarkan..., Hal. 24.
[8] Ratna Megawangi, Membiarkan..., Hal 24
[9] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...,  hal. 27.
[10] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 52.
[11] Gill Plain and Susan Sellers, A History Of Feminist Literary Criticism, Cambridge University Press, 2007, hal. 9.
[12] Gill Plain and Susan Sellers, A History Of Feminist… hal. 8.
[13] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 53.
[14]Ann Cudd E dan O Robin Andreasen dalam Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 31.
[15] Shilpi Gole, “Feminist Literary Critism”, Language in India. Vol 10, (4 april 2010), hal. 404.
[16] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 145.
[17] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 32.
[18] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 144.
[19] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[20] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[21] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah..., hal. 33.
[22] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[23] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal 170

2 komentar:

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS