Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Selasa, 31 Juli 2012

INJIL MERAJAM PEZINA

INJIL MERAJAM PEZINA
Warsito, S.Pd, M.P.I

Dr. Hamid dalam bukunya Misykat mengangkat perkataan seorang artis Barat yang mengatakan bahwa agamanya adalah song, sex, sand and campaign. Sebuah pandangan yang menggambarkan kehidupan sex bebas di Barat. Gambaran lain kehidupan sex bebas di Barat bisa dilihat dalam sebuah survey 13.000 mahasiswi di Universitas Stanford menyatakan bahwa 80% mahasiswi telah kehilangan keperawanan atau pernah melakukan hubungan sexsual diluar nikah. Sex bebas atau pola hidup ganti pasangan yang tak teratasi di Barat berdampak negative pada kehidupan rumah tangga. Meskipun sudah menjadi budaya, lima puluh persen pasangan suami istri di Barat bercerai karena pasangan mereka berselingkuh. Sikap penentangan terhadap penghianatan cinta dirasakan oleh mayoritas meskipun Barat sendiri. Sekarang lihat permusuhan Barat terhadap penghianatan pada kasus perzinaan yang menggunjang presiden Bill Clinton, atau rumah tangga bek sayap Chelsea Ashley Cole.
Sejak awal, sebagai benteng moral, agama telah bermusuhan dengan perzinaan. Agama menganggap bahwa perzinaan merupakan tindakan tidak bermoral yang diancam dengan hukuman yang sangat keras. Dalam tatanan hukum Islam, para pelaku zinah yang telah menikah harus dirajam sampai mati sebagai hukuman atas perbuatannya dan jilid seratus kali serta pengasingan selama setahun bagi orang yang belum menikah. Tidak hanya Islam, Kristen juga menghukum para pelaku zinah dengan dilempari batu sampai mati. Hukuman keras yang tak dimunculkan dalam pidato-pidato para pendeta ini bisa dilihat pada injil Yohanes 8;3.
“para ahli kitab Taurot dan orang-orang Farisi membawa kepadanya (Yesus) seorang perempuan yang kedapatan berbuat Zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus : “rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sudah berbuat zinah. Musa dalam taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan yang demikian, apakah pendapatmu tentang hal itu?” mereka mengatakan hal itu untuk mencoba dia. ___ ia pun bangkit dan berkata : “barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Dari pembicaraan antara Isa as dan para pengikutnya ini, dapat disimpulkan bahwa hukum bagi perempuan pelaku perbuatan zinah adalah dilempari batu. Hal ini sebagaimana hukum nabi Musa yang disampaikan oleh orang yang paham Taurat.
Bible Imamat 20: 10 juga menjelaskan hukuman mati bagi pezina (laki-laki) dan pezinah (perempuan).
"Jika seseorang berbuat zinah dengan istri orang lain baik pezina dan pezinah harus dihukum mati.”   
   

Senin, 09 Juli 2012

KETUHAN ANTARA DOQMA DAN REALITA SEJARAH


KETUHAN
ANTARA DOQMA DAN REALITA SEJARAH
Hugh Goddard, seorang pakar Barat menjelaskan dalam bukunya tentang kronologi penetapan Yesus sebagai Tuhan. Pada abad ke-empat Masehi, dewan gereja dunia membuat keputusan besar dengan menetapkan Yesus sebagai Tuhan. Penetapan Yesus sebagai Tuhan ini ternyata menjadi polemik dan perpecahan dalam tubuh agama Kristen. Sekte Arius dengan jelas menolak pandangan itu, mereka berpendapat bahwa Kristus adalah makhluk dan lebih rendah dari Tuhan. (Hugh Goddard, Menepis standar ganda, 72) Perbedaan pendapat tentang ketuhanan Yesus tidak berhenti dengan keputusan konsili pertama itu, bahkan keputusan ini mendatangkan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang dalam masalah teologi Kristen. Hal ini bisa dilihat pada konsili kedua yang menjawab pandangan Apollinarius dari Laodikea bahwa Yesus bukan manusia secara penuh. Dalam konsili itu menetapkan bahwa Yesus manusia yang sempurna seperti manusia yang lain.
Keraguan orang Kristen akan ketuhanan Yesus terus berlanjut dari zaman ke zaman. Sekarang perhatikan pendapat seorang pakar teologi Barat modern Clayton Sullivan dalam bukunya Selamatkan Yesus dari Orang Kristen yang menolak ketuhan Yesus. Ia mengatakan bahwa dengan rentangan khayalan yang bagaimanapun, Yesus sama sekali tidak mengangkat dirinya ke status Tuhan. Ia mengangkat beberapa ayat dalam Injil yang menegaskan bahwa Yesus telah menegaskan bahwa dirinya bukan Tuhan.
Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Markus 10: 17-18
 Jawaban Yesus yang menisbatkan yang baik hanya milik Allah dan menolak penisbatan kata itu pada dirinya menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan sebagaimana anggapan umat Kristen. Selain ayat di atas, salah satu ayat yang menegaskan bahwa Yesus seorang manusia dan tidak mencapai derajat Tuhan adalah kisah penyalipan dimana ia mengeluh kepada Tuhannya.
“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Matius 27:46.
Ayat yang senada dengan hal ini adalah Markus 15:34.
“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Pendapat Arius maupun tokoh Kristen lainnya yang menolak ketuhan Yesus ini sebenarnya sesuai dengan pengakuan Isa A.S bin Maryam a.s dalam Al-Qur’an.
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Al-Maidah 116-118

     

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS