Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Senin, 30 April 2012

Perempuan dalam ajaran Yahudi


Perempuan dalam ajaran Yahudi
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.

Perempuan dalam pandangan Yahudi sedikit memiliki kesamaan dengan perempuan dalam Kristen. Karena kedua agama ini memiliki kesamaan kitab suci, hanya saja Yahudi tidak mengakui keberadaan perjanjian baru sebagai bagian kitab suci mereka. Berikut beberapa hal berkaitan pandangan Yahudi terhadap perempuan.
1.         Kedudukan perempuan dalam pandangan Yahudi
Yahudi sebagaimana Kristen memandang bahwa perempuan adalah sumber dosa. Dia yang menyebabkan Adam dihukum dan diusir dari surga. Hal ini sebagaimana ajaran mereka dalam Genesis 3 :1-16.[1] Yahudi tidak hanya menganggap perempuan sebagai sumber dosa,[2] tetapi mereka juga menganggap bahwa gejala-gejala kewanitaan yang dialami setiap perempuan yang normal sebagai sebuah kutukan. Para pendeta Yahudi menulis 9 kutukan kepada perempuan
“kepada perempuan, tuhan memberi 9 kutukan kepada perempuan, darah mastrubasi dan darah keperawanan , beban kehamilan, beban melahirkan anak,  kepalanya ditutup seperti orang yang berkabung, dia melubangi kuping seperti budak permanen gadis budak yang melayani tuannya, dia tidak dipercaya sebagai saksi, dan terakhir kematian.[3]
Kedudukan perempuan yang rendah ini juga bisa dilihat pada do’a orang Yahudi laki-laki. Mereka mengucapkan do’a “terpujilah Tuhan yang tidak menciptakanku sebagai seorang perempuan.” Pandangan ini telah berkembang hampir di semua lapisan masyarakat Yahudi. St. Agustinus berpendapt bahwa peran wanita hanya melahirkan. Pembagian kerja yang menghinakan jika perempuan yang begitu berjasa hanya ditempatkan pada posisi itu. Pendapat lebih merendahkan disampaikan oleh St. Tomas Aquinas. Mereka memandang perempuan sebagai orang yang tidak sempurna.[4]
2.         Perempuan dan Perzinaan
Salah satu bentuk kezaliman Yahudi kepada perempuan adalah masalah perzinaan. Dalam perjanjian lama dijelaskan tentang definisi zina yang kemudian memunculkan beragam hukum di kalangan masyarakat Yahudi. Zina adalah hubungan badan layaknya suami istri yang dilakukan laki-laki dengan wanita yang sudah menikah. Wanita yang sudah menikah menjadi kata kunci dalam masalah perzinaan. Karena hubungan badan yang dilakukan dengan wanita yang belum menikah tidak di kategorikan perzinaan meskipun pihak lelaki sudah menikah. Kenapa terjadi standar ganda? Dalam pandangan Yahudi, istri dianggap milik suami sedang perzinaan dianggap melanggar hak eksklusif suami. Jadi, perbedaan hokum terjadi karena adanya pandangan bahwa istri milik suami maka dia tidak memiliki hak seperti suami. Di Israel, laki-laki yang berhubungan dengan wanita single tidak apa-apa. Dan anaknya dianggap sah, sedang wanita yang sudah menikah dan berselingkuh maka anaknya tidak dianggap sah, bahkan mereka juga dipandang haram jadah.[5]
Setelah pembahasan tentang pengertian yang janggal tentang zina dan penyebab standar ganda dalam pengertian zina itu maka pembahasan terakhir tentang zina adalah hukuman bagi para pelaku zina. Dalam ajaran Bible diterangkan bahwa hukuman para pelaku zina adalah mati Leviticus 20: 10-12
“10 Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu. 11 Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang isteri ayahnya, jadi ia melanggar hak ayahnya, pastilah keduanya dihukum mati, dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. 12 Bila seorang laki-laki tidur dengan menantunya perempuan, pastilah keduanya dihukum mati; mereka telah melakukan suatu perbuatan keji, maka darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.”
3.      Nazar 
Nazar adalah janji seseorang pada dirinya untuk melakukan ibadah kepada Tuhan (Allah) yang hakikatnya tidak wajib ketika tidak bernazar[6]. Dalam ajaran Yahudi, seorang ayah memiliki hak mutlak di dalam masalah nazar anak perempuannya dan seorang suami memiliki hak yang sama seperti ayah di mana mereka boleh membatalkan nazar yang dilakukan anak atau istri mereka.[7] Hal ini berdasarkan Bible Bilangan pasal 30: ayat 3-5[8] dan Bible Bilangan pasal 30 ayat 6-8[9]
4.         Hak milik istri
Dalam ajaran Yahudi, konsep tentang suami memiliki istri seperti konsep suami memiliki budak. Hal ini berimplikasi pada hak kepemilikan seorang perempuan. Setelah pernikahan, seluruh harta yang dimiliki istri berubah menjadi milik suami. Seorang istri yang bekerja maka penghasilannya untuk suami sebagai balasan atas pemeliharaan dirinya yang menjadi kewajiban suami. Tidak hanya kepemilikan yang hilang setelah pernikahan, mahar dalam ajaran Yahudi menjadi beban seorang wanita. Sehingga seorang perempuan merupakan beban keluarga. Hak milik istri menjadi miliknya ketika cerai atau suami meninggal.[10] 
5.         Poligami
Poligami secara hukum agama Yahudi dibolehkan. Sebagaimana praktek poligami juga dilakukan pendahulu mereka. Hal ini bisa dilihat praktek poligami yang dilakukan oleh pembesar Yahudi antara lain king Salomon memiliki 700 istri dan 300 wanita simpanan.[11] Kisah Sulaiman yang memiliki istri yang banyak juga dibenar Nabi SAW.
عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( قال سليمان بن داود عليهما السلام لأطوفن الليلة على مائة امرأة أو تسع وتسعين كلهن يأتي بفارس يجاهد في سبيل الله فقال له صاحبه قل إن شاء الله فلم يقل إن شاء الله فلم يحمل منهن إلا امرأة واحدة جاءت بشق رجل والذي نفس محمد بيده لو قال إن شاء الله لجاهدوا في سبيل الله فرسانا أجمعون )[12]
Artinya:
“Dari Rasulullah SAW, ia bersabda: Sulaiman bin Dawud ‘alaihima salam’ berkata, ‘Sungguh aku akan berkeliling kepada seratus atau sembilan puluh sembilan istriku dalam satu malam, semuanya akan melahirkan seorang prajurit pasukan kuda yang akan berjihad di jalan Allah. ‘seorang sahabatnya menyahutinya, ‘insyaAllah.’ Tapi Sulaiman tidak mengucapkan insyaAllah. Maka tak seorang pun di antara mereka yang hamil kecuali seorang saja yang melahirkan setengah laki-laki. Demi Dzat yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, seandainya dia mengatakan InsyaAllah, niscaya semuanya (akan melahirkan) para penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.”   
Cerita tentang poligami yang dilakukan pendahulu bani Israel menunjukkan bahwa poligami telah ada dalam syari’at terdahulu. Dan tatkala Allah mengutus Nabi Musa ‘alaihi salam maka dia menyetujui tanpa membatasi jumlah perempuan yang ingin dinikahi oleh seorang laki-laki, sampai kemudian Bani Talmud mengeluarkan ketetapan pembatasan poligami. Sebagian ulama Bani Israil ada yang melarang poligami tetapi sebagian yang lain membolehkan dengan alasan: apabila istri sakit, mandul atau demi menghindari penghianatan dan sebagainya. Dalam kitab Talmud yang ada di tangan kaum Yahudi membolehkan poligami, akan tetapi Talmud membatasi dengan jumlah dan batasan tertentu.[13]
Larangan poligami dalam ajaran Yahudi adalah mengambil saudara kandung istri. Hal ini sebagaimana tertera dalam Taurat. “Janganlah kau ambil seorang perempuam sebagai madu kakanya untuk menyingkap auratnya di samping kakaknya selama kakaknya masih hidup.”[14]
Pada abad-abad pertengahan, Tahudi masih melakukan poligami dengan banyak istri sampai kemudian para rahib mereka melarang poligami. Hal ini karena kondisi ekonomi yang berat dihadapi oleh kaum Yahudi pada masa-masa tersebut. Larangan poligami tersebut dikeluarkan pada abad XI dan kemudian disahkan perhimpunan gereja di kota Warms di Jerman. Larangan ini pada mulanya hanya bagi kaum Yahudi di Jerman dan Yahudi Perancis Utara, tapi kemudian mencakup semua kaum Yahudi di dataran Eropa. Setelah itu mulailah undang-undang perdata kaum Yahudi melarang poligami, bahkan seorang suami diharuskan untuk bersumpah ketika melaksanakan akad nikah, bahwa jika seorang suami hendak mengawini orang lain, maka dia terlebih dahulu harus menceraikan istrinya yang pertama dan ia wajib membayar semua hak-hak istri, kecuali istri pertamanya mengizinkannya untuk kawin lagi, itu pun dengan syarat dia harus mampu memberi nafkah kedua istri dan mampu berbuat adil di antara keduanya, dan poligami ini harus memiliki legalitas hukum yang sah, seperti mandulnya istri pertama.[15]
6.         Perceraian
Perceraian merupakan permasalahan yang terus berulang dan berulang. Yahudi membolehkan perceraian dengan alasan apapun (deut 24 : 14).[16] Para sarjana Yahudi berbeda pendapat tentang alasan bolehnya suami menceraikan istri. Madzab Syammai berpendapat bahwa seorang laki-laki seharusnya tidak menceraikan istrinya jika dia tidak mendapatkan istrinya melakukan kejahatan seksual. Sementara Hillel mengatakan bahwa seorang laki-laki boleh menceraikan istrinya meskipun Cuma karena istrinya tidak bisa menyajikan makan. Rabi Akiba mengatakan bahwa laki-laki boleh menceraikan istrinya meskipun cuma karena dia menemukan perempuan yang lebih cantik dari padanya.[17]
Istri tidak bisa berinisiatif untuk bercerai berdasarkan hukum Yahudi, tetapi istri dapat mengklaim hak untuk bercerai dipengadilan yahudi jika ada alasan yang kuat. Tetapi kendali cerai tetap ditangan suami. Mereka bisa meninggalkan istri dan hidup dengan wanita lain dan memiliki anak. Sedang perempuan tidak bisa. Posisi mereka disebut Agunah.[18] Di Amerika ada 1000-1500 wanita yahudi yang berstatus Agunat jama’ agunah. Para suami mengamcam istri mereka untuk membayar ribuan dollar sebagai ganti perceraian.[19]
7.         Hak waris perempuan
Tradisi yang terus menerus dan tidak terputus-putus sejak masa Bible adalah tidak memberikan hak pewarisan atas kekayaan keluarga kepada anggota keluarga yang perempuan, istri dan anak-anak mereka yang perempuan. Dalam skema pewarisan yang lebih primitive, anggota-anggota keluarga yang perempuan dianggap sebagai bagian kekayaan dan seperti layaknya budak dia secara hukum tidak memiliki hak waris sementara dalam ketentuan pelaksanaan Musa, anak perempuan diakui hak warisnya pada saat tidak ada anak laki-laki dalam keadaan seperti itu, seorang istri tetap tidak diakui sebagai pewaris.[20]


[1] Lihat pembahasan tentang kedudukan perempuan dalam ajaran Kristen
[2] Islam tidak mengenal dosa warisan sebagaimana pandangan Yahudi dan Kristen yang mengatakan bahwa perempuan mewarisi dosa Hawa. Pandangan Islam tentang perempuan ini berimplikasi pada penetapan hak dan kewajiban. Ia memuliakan perempuan dengan memberikan hak-hak asasi mereka. Hak-hak itu antara lain,
hak waris
“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan” An-Nisa’ ayat 7
hak hidup
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. Al-Isra’: 31
dan hak kepemilikan
“dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahu segala sesuatu.” An-nisa’: 32

[3] Swildier dalam Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit…., hal. 10. Dalam Islam, keadaan haid bukan merupakan suatu hukuman melainkan sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepada anak keturunan Adam yang perempuan. hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Nabi SAW berkata kepada Aisyah “Sesungguhnya masalah ini adalah ketetapan Allah kepada anak perempuan keturunan Adam”. Ibnu Abbas mengatakan: haid pada seorang perempuan dimulai pada diri Hawa ketika turun ke bumi.” Lihat Abu Malik Kamal, Shohih Fiqih Sunah” Maktabah Taufiqiyah, tt, juz pertama, hal. 206.
[4] Bunyi pandangan St. Thomas Aquinas yang dikutip Sherif sebagai berikut “mengenai sifat alami individu, perempuan itu kurang sempurna dan tidak murni, karena daya hidup dan benih laki-laki cenderung untuk menghasilkan keturunan laki-laki yang sempurna. Sedangkan keturunan perempuan berasal dari suatu kekurangan dalam daya hidup atau dari beberapa bahan yang kurang sehat atau bahkan dari beberapa pengaruh luar.” Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit…., hal.  10-12
[5] Sherif Abdel Azeem, 2001, SabdaLangit,  Yogyakarta: Gama Media, Cet 1. hal. 28.
[6] Abu Bakar Jabir Al-Jaa’iri, Minhajul Muslim Pedoman Hidup Ideal Seorang Muslim, Surakarta: Insan Kamil, 2009, Cet Pertama, hal. 837.
[7] Tafsiran Alkitab Wyliffe, Malang: Gandum Mas, 2007, Vol I, Cet ke-2, hal. 412.
[8] (3) Tetapi apabila seorang perempuan bernazar kepada TUHAN dan mengikat dirinya kepada suatu janji di rumah ayahnya, yakni pada waktu ia masih gadis, (4) dan ayahnya mendengar nazar dan janji yang mengikat diri anaknya itu, tetapi ayahnya tidak berkata apa-apa kepadanya, maka segala nazarnya itu akan tetap berlaku dan setiap janji mengikat dirinya akan tetap berlaku juga. (5) Tetapi jika ayahnya melarang dia pada waktu mendengar itu, maka segala nazar dan janji yang mengikat diri anaknya itu tidak akan berlaku; dan TUHAN akan mengampuni perempuan itu, sebab ayahnya telah melarang dia.
[9] Bunyi Bible Bilangan 30: 3-5 adalah “apabila seorang gadis yang tinggal di rumah ayahnya berkaul kepada Tuhan,  dan mengikat dirinya pada suatu janji, dan ayahnya tidak berkeberatan pada waktu mendengar hal itu, maka gadis itu harus menepati seluruh kaul dan janjinya itu. Tetapi kalau pada waktu mendengar hal itu ayahnya keberatan, maka gadis itu tidak terikat pada kaul dan janjinya. Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga Biblika Indonesia,  Alkitab, tt, hal. 231.
Bilangan 30: 6-8 “Apabila ada seorang wanita yang belum menikah berkaul atau mengikat dirinya kepada suatu janji, entah dipertimbangkan lebih dahulu atau dengan begitu saja maka ia terikat pada kaul atau janjinya. Kalau di kemudian hari ia kawin, ia tetap terikat pada kaul atau janjinya itu, asal suaminya tidak berkeberatan pada waktu mendengar hal itu. Tetapi kalau suaminya pada waktu mendengarnya melarang dia, maka ia tidak terikat pada kaulnya dan janjinya itu. Ibid hal. 232.    
[10] Sherif Abdel Azeem, op. cit., hal. 33.
[11] Taurat (perjanjian lama): raja-raja 1 (11:3)
[12] Hadist riwayat Imam Bukhari. Bab Talabul Walad lil Jihad. Hadist nomor 2664
[13] Karam Hilmi Farhat, , Poligami Dalam Pandangan Islam, Nasrani & Yahudi, Jakarta: Darul Haq, 2007, Cet pertama, hal. 9.
[14] Taurat (perjanjian lama): imamat (18:18)
[15] Karam Hilmi Farhat, Poligami Dalam Pandangan…, hal. 11.
[16] Deut. 24:1-4 “jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan yang tidak membahagiakannya karena dia merasa ada sesuatu yang tidak cocok padanya, dan sang suami menulis surat cerai, dan memberikan padanya dan mengeluarkannya dari rumahnya, dan kelak setelah dia meninggalkan rumahnya dia menjadi istri-istri lain, dan suaminya yang kedua membencinya dan menulis surat perceraian, dan memberikannya kepadanya dan mengeluarkannya dari rumahnya, atau jika dia (suami) mati, maka suaminya yang pertama, yang menceraikannya, tidak diijinkan untuk menikahinya lagi setelah dia menjadi kotor.”
[17] Sherif Abdel Azeem, op. cit., hal. 40.
[18] Ibid hal. 41.
[19] the Toronto star, April 8 1995, di kutib oleh Sherif Abdel Azeem,  ibid hal. 42.
[20] Epstein dalam Sherif Abdel Azeem, ibid hal. 55. 

Minggu, 29 April 2012

Perempuan dalam Peradaban India


Perempuan dalam Peradaban India
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.
India merupakan negara yang besar dengan peradaban yang bersejarah baik sebelum Islam datang apalagi setelah Islam datang. Tradisi keilmuan India berkembang sangat maju pada zamannya. Seorang ilmuan muslim yang bernama Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M) dalam bukunya al-Jabar Wa al-Muqabilah mengenalkan angka nol (0) diambil dari India dalam ilmu al-Jabar dan sekarang berkembang menjadi ilmu Matematika.[1]
Peradaban India sebelum Islam datang lebih banyak di pengaruhi oleh ajaran hindu. Menurut Ajaran Hindu, supaya masyarakat menjadi baik mereka membagi komunitas menjadi 4 golongan, yaitu Brahma, ksatria, Waisya, dan Sudra. Setiap golongan memiliki fungsi yang berbeda antara satu dengan yang lain, hal ini sebagaimana dalam tubuh terdapat fungsi mulut, tangan, dada dan kaki. Keyakinan ini berkembang berdasarkan ajaran mereka dalam Weda.
“Sesungguhnya untuk tujuan kesejahteraan loka (masyarakat), ia tetapkan fungsi Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Serupa fungsi mulut, dada, dan kakinya”.[2]
Analogi yang dipakai ini sebenarnya tidak bisa dibenarkan karena kemulian dan kedudukan di masyarakat itu sesuatu yang bisa capai oleh siapa saja dan bukan sesuatu yang sudah di booking oleh suatu golongan. Tetapi dalam ajaran Hindu yang berkembang di India, kemulian itu milik kaum brahma dan akan diwariskan kepada anaknya. Untuk itu, kaum brahma yang menikah dan memiliki anak secara otomatis anak itu juga brahma. Begitu sebaliknya, anak sudra yang menjadi kasta terendah akan melahirkan anak yang berkasta sudra juga.  
Berikut aspek-aspek kehidupan perempuan yang penuh kesengsaraan dan kepedihan dalam sejarah India bahkan dalam peradaban Modern masih berjalan.
1.    Kedudukan Perempuan di India
Dalam peradaban India, perempuan juga menjadi makhluk yang kedua di bawah laki-laki. Hidup mereka menderita apalagi mereka yang berkasta sudra. Kehidupan mereka tidak lebih baik dari pada perempuan dalam peradaban yang lain atau bahkan lebih menderita. Kehidupan perempuan India ini yang di bahas oleh Babita and Sanjay Tewari dalam  buku mereka The History of Indian Woman: Hinduism at Crossroad with Gendr[3].
Kondisi perempuan yang dianggap sebagai makhluk kedua juga terjadi pada abad modern ini. Para ibu lebih menyukai memiliki anak laki-laki dari pada anak perempuan. Mereka menyusui anak-anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan, anak laki-laki lebih sering dirawat oleh dokter daripada saudaranya perempuan, selain itu anak laki-laki dididik lebih serius. Pandangan seperti ini bisa dilihat pada pertumbuhan klinik yang menawarkan amniocentesis untuk tes jenis kelamin. Pada awal 1980an penggunaan aamniocentesis untuk menentukan jenis kelamin janin begitu populer di pusat-pusat urban India. Dengan diiklankan sebagai sebagai “pelayanan kemanusiaan bagi perempuan yang tidak menginginkan anak perempuan lagi”. Diperkirakan 78.000 janin perempuan digugurkan antara tahun 1978 dan 1982.[4]  

2.    Perempuan dan Pernikahan
Perempuan dalam sejarah peradaban India menikah pada umur 8-10 tahun. Mereka (kaum laki-laki) membandingkan perempuan dengan hewan dan berada pada kasta yang rendah. Karena pernikahan dini ini, angka kelahiran meningkat begitu juga angka kematian ibu dan bayi.[5] Selain pernikahan dini, masalah maskawin menjadi permasalahan keluarga hindu India. Berdasarkan tradisi mereka, memiliki anak perempuan membutuhkan modal yang besar, karena mereka harus menyiapkan maskawin ketika anak perempuan menikah. Kondisi ini yang memunculkan pepatah di India “Membesarkan seorang anak perempuan sama saja seperti mengairi pohon rindang di halaman rumah orang lain”[6]
Masalah yang lebih mengerikan tentang mahar yang harus ditanggung pihak keluarga perempuan adalah “kematian mahar”. Pelecehan maskawin yang berakhir dengan pembunuhan atau usaha bunuh diri. Pembunuhan dilakukan suami dengan cara membakar istri. Maskawin dipandang oleh para calon suami sebagai cara untuk “menjadi cepat kaya”, sementara itu pengantin wanita semakin menderita jika permintaan uang serta barang tidak terpenuhi.[7]
Kematian wanita akibat kebakaran meningkat sajak tahun 1979, seiring dengan dimulainya komersialisasi maskawin. Kematian mahar biasanya tak terhitung. Hal itu dikarenakan suami dan keluarganya seringkali berusaha menutupi pembunuhan tersebut dengan menyebutnya sebagai usaha bunuh diri atau kecelakaan. Pembunuhan yang sering terjadi adalah membakar wanita dengan kerosin dan kemudian menyatakan bahwa ia meninggal karena kecelakaan di dapur. Maka dari itu, kematian seperti ini sering disebut sebagai “pemakaran istri”. Pada tahun 1990, polisi mencatat 4835 kasus kematian mahar di India, tetapi Ahmedabad Women’s Action Groub memperkirakan bahwa di Gujarat saja 1000 wanita dibakar hidup-hidup setiap tahunnya. Jelasnya, pembunuhan dan usaha bunuh diri dicatat sebagai “kecelakaan” meskipun ada yang disengaja.[8] 
3.    Janda dalam tradisi Hindu di India 
Kondisi janda pada peradaban India begitu memilukan, hak-hak mereka dibatasi, rambut mereka digundul bahkan mereka tidak diperkenankan menghadiri sebuah perayaan. Hak asasi yang menjadi kebutuhan biologis sebagai manusia juga dirampas. Sebagai janda, mereka tidak diperkenankan menikah lagi. Kekajaman ini yang menjadi pemicu para janda melakukan bunuh diri dengan mengikuti tradisi SATI.[9]
4.    Sati
Tradisi pembakaran seorang janda hidup-hidup dengan jasad suami mereka dikenal dengan tradisi Sati atau Sahagaman. Berdasarkan ajaran Hindu, seorang janda yang dibakar dengan  jasad suaminya akan masuk surga bersama. Sati diyakini lebih baik dari hidup dalam keadaan janda. Beberapa ajaran hindu seperti Medhatiti memiliki pandangan yang lain, mereka berpendapat bahwa Sati adalah sarana bunuh diri.[10] Hal ini sebagaimana dijelaskan pada pembahasan Janda dalam tradisi Hindu di India.
5.    Jauhar
Tradisi Jauhar memiliki kesamaan dengan Sati tetapi tradisi ini merupakan bunuh diri para istri secara masal ketika suami mereka masih hidup. Jauhar adalah tradisi masyarakat Rajput. Para istri mengorbankan diri mereka dengan cara membakar diri ketika para suami akan berperang. Hal ini diyakini menjadi pelindung kesucian perempuan dan seluruh kaum.[11]
6.    Pendidikan
Dalam peradaban India terutama India Utara, perempuan tidak mendapatkan akses pendidikan formal. Perempuan hanya mendapatkan pengajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga.[12]
7.    Kepemilikan
Sebagaimana perempuan pada peradaban yang lain, perempuan di India tidak memiliki hak kepemilikan benda. Bahkan hal ini berlalu sangat lama. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh pensiunan hakim kepala kantor pengadilan Delhi, Rajindar Sachar:
“Dari sudut sejarah, Islam sangat liberal dan progresif di dalam memberikan hak kepemilikan harta kepada perempuan. Adalah fakta bahwa tidak ada hak kepemilikan harta yang diberikan kepada perempuan Hindu sampai tahun 1956, yaitu ketika rancangan Undang-Undang Hindu disahkan, padahal Islam telah menganugerahkan hak ini kepada perempuan muslim lebih dari 1400 tahun yang lalu”.[13]
Gambaran-gambaran di atas merupakan realitas penderitaan perempuan di berbagai belahan dunia di mana kehidupan mereka yang sebenarnya mungkin lebih menderita. Hal-hal di atas tentu tidak bisa dibandingkan dengan perempuan dalam peradaban Islam.


[1] M. Abdul Karim. 2009. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Pustaka Book Publisher. Yogyakarta. Cet ke-2.
[2] Weda SMRTI Compendium Hukum Hindu, Direktoral Jenderal Bimas Hindu & Budha, Jakarta, Nitra Kencana Buana, 2003, Hal. 36.
[3] Babita and Sanjay Tewari, The History of Indian Women: Hinduism ar Crosroads With Gender, 2009
[4] Ibid hal. 68.
[5] Ibid hal. 37.
[6] Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, cet pertama, hal. 67.
[7] Marge Koblinsky, op. cit., hal. 266.
[8] Ibid
[9] Babita and Sanjay Tewari,  THE HISTORY OF INDIAN WOMEN, 2009, hal. 38.
[10] Ibid hal. 37.
[11] Ibid
[12] Ibid hal. 38.
[13] Wahiduddin khan, Antara Islam dan Barat perempuan di tengah Pergumulan, Jakarta: Serambi, 2001, cet pertama, hal. 53. 

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS