Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Rabu, 22 Agustus 2012

TUHAN TELAH MATI


TUHAN TELAH MATI
Studi Kritik Paham Humanisme

Warsito, S.Pd, M.P.I
Alumnus Progam Pasca Sarjana Pemikiran Islam UMS
Ketua Program SMP Muhammadiyah 8 Bina Unggul Putri

Pada hari kamis 2 Juli 2012, Solopos menerbitkan tulisan Muhammad Ali yang bertema agama. Sebuah tulisan yang menyerukan supaya agama dibingkai dengan humanisme. Penulis mengajak umat beragama untuk mendalami bahkan mempraktekan ide para pengkritik agama seperti Nietzsche dalam menjalankan kehidupan sosial. Ali berargumen bahwa agama sudah kehilangan fungsi untuk meluruskan ahklak manusia. Hal ini terbukti dengan meluasnya praktek korupsi, perzinaan, perkelahian dan peperangan antar etnis di tengah meningkatnya praktek keagamaan di Indonesia. Pembangunan tempat ibadah menjamur dimana-mana, kegiatan agama meningkat apalagi di bulan suci Romadhan, umat Islam berduyun-duyun mendatangi masjid. Tidak hanya umat Islam, kegiatan keagamaan umat kristen juga tidak kalah semarak. Kegiatan rohani setiap hari minggu berjalan ramai dan bahkan index jumlah pertambahan pemeluknya cenderung naik.
Logika humanisme yang tidak asing bagi mereka yang mempelajari peradaban Barat. Mereka menilai sebuah agama dengan tingkah laku pemeluknya tanpa memahami dimensi yang lainnya. Sebagian penganut humanisme mengatakan “lebih baik manusiawi tidak beragama daripada beragama tetapi tidak manusiawi”. Sebuah logika untuk menjatuhkan nilai agama. Mungkin tanpa disadari oleh Ali bahwa perjalanan sejarah Humanisme telah menyeret Barat dari Teosentris (Tuhan menjadi pusat) menjadi antroposentris (manusia sebagai pusat). Sebuah pemikiran yang mengarahkan orang pada sikap anti Tuhan atau ateis. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Nietzsche bahwa Tuhan telah mati. (Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, hal, 86).
Dalam sejarah peradaban keagamaan Barat, orang menyebut masa kejayaan gereja sebagai The Darkness Age (masa kegelapan Barat). Kebijakkan gereja dalam mengeluarkan surat ampunan, intervensi gereja dalam ilmu pengetahuan yangmembuat galileo dan galilea dihukum, progam Inkuisisi yang menelan ribuan pemeluk Protestan maupun Katolik dan masalah yang lain telah menimbulkan protes terhadap agama. Hal ini yang memicu supaya agama tidak masuk wilayah publik dan negara, agama hanya dibatasi di dalam gereja. (sekuler) (Dr. Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat). Hal ini tentu berbeda dengan Islam, di masa kejayaannya, agama menjadi undang-undang positif negara dan tidak ada yang protes terhadap kebijakkan-kebijakkanya. Bahkan ketika kekhilafan runtuh pada 1924 M, sekelompok umat Islam berusaha menegakkan Negara berdasarkan syari’at Islam. Lihat jama’ah Ikwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al-Bana di Mesir, Hizbut Tahrir, Al-Qaidah, atau di Indonesi ada Majelis Mujahidin Indonesia yang berjuang tegaknya negara Islam dengan Syari’at Islam sebagai landasannya.  
Selain pendekatan historis yang menolak konsep membingkai agama dalam humanisme, secara normatif, Humanisme telah gagal membentuk masyarakat di Barat. Ajakan humanisme yang mengarah pada penolakan agama dan pensucian Tuhan telah menjauhkan masyarakat Barat dari moral itu sendiri. Konsep Humanisme telah melahirkan hak-hak manusia yang merusak manusia, pembolehan aborsi, lesbian, seks bebas, nikah lintas agama, dan hak-hak yang lain. Hal ini terjadi karena konsep ini tidak memiliki pijakkan untuk menetapkan batasan kebaikan dan keburukan. Humanisme yang telah mengorak-arik tatatan moral tanah kelahirannya kini dibawa ketimur untuk diajarkan. Prof Naquib Al-Atas ketika memberi komentar tentang ajaran Barat yang berlandaskan pikiran manusia serta sekuler ini mengatakan bahwa mungkin tidak ada tantangan yang lebih serius dan merusak dari pada ajaran Barat hari ini. (lihat Adian)
Dalam Islam, batasan kebaikan dan keburukan sudah sangat jelas. Islam telah melarang hal-hal yang membahayakan seorang muslim sebagai individu ataupun makhluk sosial. Islam telah mengharam free sex sebagai bagian mensucikan diri dan menjaga nasab serta keharmonisan sosial. Meskipun sudah menjadi gaya hidup di Barat, pola free sex telah mengancam kehidupan keluarga. Hal ini bisa dilihat pada kasus perceraian dimana lima puluh persen pernikahan berakhir karena perselingkuhan. (Shahid Athar, Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslim, Jakarta: Pustaka Zahra, 2004, cet ke-dua, hal. 14) Tidak kalah heboh dari free sex adalah aborsi. Jumlah aborsi menurut data Centers for Disease Control (CDC) antara tahun 2000-2005 sekitar 850.000 setiap tahun. Data ini merupakan aborsi yang dilakukan secara legal padahal aborsi yang dilakukan secara illegal diperkirakan berjumlah lebih banyak. Jumlah aborsi yang terus meningkat menyebabkan Barat mengalami penurunan jumlah penduduk atau mereka mengatakan Aging Europe. Hal ini tentu berbeda dengan Islam yang mengharamkan aborsi, masa regenerasi penduduk dalam masyarakat Islam berjalan lancar. Kekwatiran peningkatan jumlah penduduk tidak sebanding dengan jumlah produksi makanan tidak terbukti. Bahkan menurut FAO (Food & Agricultural Organisation) yang menyatakan bahwa dunia mengalami surplus makanan pada tahun 1990.
Pada tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa membingkai agama dalam humanisme adalah konsep yang ga jelas karena menggabungkan dua kutub yang berbeda. Humanisme lebih dekat pada ateis sedangkan agama lebih dekat pada ketuhanan. Humanisme dengan segala propagandanya tidak mampu mewujudkan masyarakat ideal tetapi justru malah merusak masyarakat sedang Islam dengan segala aturannya telah mampu menekan angka kejahatan dan menjadikan masyarakat lebih harmonis. Konsep humanisme yang terstruktur dari pemikiran Barat kadang berbenturan dengan kultur di Timur. Sejarah keagamaan Barat yang menjadikan masyarakat trauma dan anti aturan-aturannya tidak bisa dijadikan dasar mengubah pondasi agama Islam yang memiliki masa lalu yang baik.
Inilah hal-hal yang menjadi dasar penolakkan penulis pada konsep membingkai agama dengan humanisme ala Muhammad Ali.

Selasa, 31 Juli 2012

INJIL MERAJAM PEZINA

INJIL MERAJAM PEZINA
Warsito, S.Pd, M.P.I

Dr. Hamid dalam bukunya Misykat mengangkat perkataan seorang artis Barat yang mengatakan bahwa agamanya adalah song, sex, sand and campaign. Sebuah pandangan yang menggambarkan kehidupan sex bebas di Barat. Gambaran lain kehidupan sex bebas di Barat bisa dilihat dalam sebuah survey 13.000 mahasiswi di Universitas Stanford menyatakan bahwa 80% mahasiswi telah kehilangan keperawanan atau pernah melakukan hubungan sexsual diluar nikah. Sex bebas atau pola hidup ganti pasangan yang tak teratasi di Barat berdampak negative pada kehidupan rumah tangga. Meskipun sudah menjadi budaya, lima puluh persen pasangan suami istri di Barat bercerai karena pasangan mereka berselingkuh. Sikap penentangan terhadap penghianatan cinta dirasakan oleh mayoritas meskipun Barat sendiri. Sekarang lihat permusuhan Barat terhadap penghianatan pada kasus perzinaan yang menggunjang presiden Bill Clinton, atau rumah tangga bek sayap Chelsea Ashley Cole.
Sejak awal, sebagai benteng moral, agama telah bermusuhan dengan perzinaan. Agama menganggap bahwa perzinaan merupakan tindakan tidak bermoral yang diancam dengan hukuman yang sangat keras. Dalam tatanan hukum Islam, para pelaku zinah yang telah menikah harus dirajam sampai mati sebagai hukuman atas perbuatannya dan jilid seratus kali serta pengasingan selama setahun bagi orang yang belum menikah. Tidak hanya Islam, Kristen juga menghukum para pelaku zinah dengan dilempari batu sampai mati. Hukuman keras yang tak dimunculkan dalam pidato-pidato para pendeta ini bisa dilihat pada injil Yohanes 8;3.
“para ahli kitab Taurot dan orang-orang Farisi membawa kepadanya (Yesus) seorang perempuan yang kedapatan berbuat Zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus : “rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sudah berbuat zinah. Musa dalam taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan yang demikian, apakah pendapatmu tentang hal itu?” mereka mengatakan hal itu untuk mencoba dia. ___ ia pun bangkit dan berkata : “barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Dari pembicaraan antara Isa as dan para pengikutnya ini, dapat disimpulkan bahwa hukum bagi perempuan pelaku perbuatan zinah adalah dilempari batu. Hal ini sebagaimana hukum nabi Musa yang disampaikan oleh orang yang paham Taurat.
Bible Imamat 20: 10 juga menjelaskan hukuman mati bagi pezina (laki-laki) dan pezinah (perempuan).
"Jika seseorang berbuat zinah dengan istri orang lain baik pezina dan pezinah harus dihukum mati.”   
   

Senin, 09 Juli 2012

KETUHAN ANTARA DOQMA DAN REALITA SEJARAH


KETUHAN
ANTARA DOQMA DAN REALITA SEJARAH
Hugh Goddard, seorang pakar Barat menjelaskan dalam bukunya tentang kronologi penetapan Yesus sebagai Tuhan. Pada abad ke-empat Masehi, dewan gereja dunia membuat keputusan besar dengan menetapkan Yesus sebagai Tuhan. Penetapan Yesus sebagai Tuhan ini ternyata menjadi polemik dan perpecahan dalam tubuh agama Kristen. Sekte Arius dengan jelas menolak pandangan itu, mereka berpendapat bahwa Kristus adalah makhluk dan lebih rendah dari Tuhan. (Hugh Goddard, Menepis standar ganda, 72) Perbedaan pendapat tentang ketuhanan Yesus tidak berhenti dengan keputusan konsili pertama itu, bahkan keputusan ini mendatangkan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang dalam masalah teologi Kristen. Hal ini bisa dilihat pada konsili kedua yang menjawab pandangan Apollinarius dari Laodikea bahwa Yesus bukan manusia secara penuh. Dalam konsili itu menetapkan bahwa Yesus manusia yang sempurna seperti manusia yang lain.
Keraguan orang Kristen akan ketuhanan Yesus terus berlanjut dari zaman ke zaman. Sekarang perhatikan pendapat seorang pakar teologi Barat modern Clayton Sullivan dalam bukunya Selamatkan Yesus dari Orang Kristen yang menolak ketuhan Yesus. Ia mengatakan bahwa dengan rentangan khayalan yang bagaimanapun, Yesus sama sekali tidak mengangkat dirinya ke status Tuhan. Ia mengangkat beberapa ayat dalam Injil yang menegaskan bahwa Yesus telah menegaskan bahwa dirinya bukan Tuhan.
Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Markus 10: 17-18
 Jawaban Yesus yang menisbatkan yang baik hanya milik Allah dan menolak penisbatan kata itu pada dirinya menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan sebagaimana anggapan umat Kristen. Selain ayat di atas, salah satu ayat yang menegaskan bahwa Yesus seorang manusia dan tidak mencapai derajat Tuhan adalah kisah penyalipan dimana ia mengeluh kepada Tuhannya.
“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Matius 27:46.
Ayat yang senada dengan hal ini adalah Markus 15:34.
“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Pendapat Arius maupun tokoh Kristen lainnya yang menolak ketuhan Yesus ini sebenarnya sesuai dengan pengakuan Isa A.S bin Maryam a.s dalam Al-Qur’an.
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Al-Maidah 116-118

     

Minggu, 03 Juni 2012

Yesus Al-Masih V.S Muhammad S.A.W.


Yesus Al-Masih V.S Muhammad S.A.W.
Warsito, S.Pd., M.P.I.
Warna kegamaan di dunia saat ini didominasi dua nama besar yaitu Kristen dan Islam. Kelahiran agama Islam di alam ini dibidani oleh manusia terbaik sepanjang masa ‘Muhammad SAW’. “….. Ahli filsafat, ahli pidato, rasul, pemimpin Negara, pejuang, pencetus ide-ide, penemu keyakinan yang rasional, penemu 20 kekaisaran di bumi dan menjadikannya menjadi satu kekaisaran spiritual, dia adalah Muhammad. Berdasarkan semua standar kebesaran dan kejayaan yang bisa diukur, kita bisa bertanya, apakah ada orang lain yang lebih besar dari beliau?” itulah pendapat penulis sejarah Perancis Lamartine tentang Nabi Muhammad S.A.W. (Lamartine dalam Aahmad Deedat, The Choice, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2000, cet ke-4, hal 156.) Sedang kelahiran Kristen tidak bisa dipisahkan dari keahlian tokoh Yahudi Paulus. Kenapa bukan Yesus? Keberadaan agama Kristen muncul berkat kegigihan Paulus yang menyebarkan ajaran Yesus setelah kematiannya di tiang salip, sedangkan Yesus sendiri semasa hidupnya tidak pernah beranggapan bahwa ia untuk semua manusia di luar Yahudi. Inilah perkataan Abba Eban dalam bukunya Sejarah Singkat Umat Yahudi. Meskipun kelahiran Kristen berkat usaha Paulus, tetapi dalam tulisan ini, penulis lebih mengangkat tokoh utama dalam kedua ajaran ini yaitu Yesus Al-Masih versi Muhammad S.A.W.
Siapa Penyelamat Semesta Alam?
Konsep penyelamat semesta alam tentunya berhubungan konsep ajaran yang lurus dan menyeluruh untuk semesta Alam. Yesus sebagaimana dikatakan Abba Eban tidak pernah beranggapan bahwa keberadaan dirinya untuk menyelamatkan manusia semua, tetapi ia hanya pelengkap nabi-nabi keturunan Yahudi sebelumnya dan bertugas mengajari umat Yahudi dan bukan selainnya. Pendapat Abba ini sesuai dengan Injil Matius (7:6) “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Dalam kisah seorang perempuan yang memohon bimbingan Yesus, Yesus menegaskan bahwa ia hanya untuk Bangsa Yahudi. Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Injil Matius (15:24).
Konsep penyelamat seluruh manusia nampak lengkap tertuju pada nabi Muhammad S.A.W. Dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad S.A.W. diutus tidak hanya sebatas kaum Arab melainkan ke seluruh alam. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Dalam kehidupan Nabi sendiri, beberapa sahabat beliau berasal dari bangsa yang lain. Bilal dari Abbasia, Salman dari Iran, dan Abdullah bin Salaam berasal dari kaum Yahudi. Tujuan pengutusan Nabi untuk semesta alam juga nampak pada usaha beliau yang mengirim surat ke lima Negara tetangga supaya menerima Islam.
1.      Kaisar Iran
2.      Raja Mesir
3.      Negus Abbasia
4.      Kaisar Heraclius
5.      Raja Yaman
Pemaaf
Seperti sudah menjadi jargon Kristen bahwa bahwa Yesus pembawa kedamaian dan maha pemaaaf. Perhatikan Injil Lukas 23:34 yang mengangkat kisah penyalipan Yesus. Betapa ia maha pemaaf yang masih memaafkan orang-orang yang menyalipnya. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Inilah dalil umat Kristen untuk menyatakan bahwa Kristen agama pemaaf. Berbalik dengan umat Kristen, Syaikh Ahmad Deedat melihat ada keganjilan dalam jargon ini. Ia mengatakan bahwa dari empat penulis resmi Al-kitab hanya Lukas (Matius, Markus, dan Yohanes) yang menulis kisah ini padahal ia bukanlah salah satu dari dua belas murid terpilih Yesus. Tidak hanya itu, ia menambahkan bukti keganjilan itu dengan mengatakan bahwa Injil revisi dari Revised Standard Version dan Injil versi King James (yang diterbitkan oleh Thomas Nelson Publisher tahun 1984), dikatakan bahwa kata-kata dalam Lukas tersebut bukanlah original teks dari catatan Lukas.
Kalau injil Lukas 23:34 itu shohih, maka pemaaf karena ia tidak bisa melakukan perlawanan ketika berada di tangan musuh tidak memiliki nilai maaf yang tinggi. Sekarang perhatikan kisah fatkhu Makkah dimana pasukan Islam dengan senjata lengkap masuk dari dua arah. Khalid bin Walid masuk dari sayap kanan melewati dataran rendah sedang Zubair bin Awwam masuk melalui sayap kiri melewati dataran tinggi. Setelah memasuki kota Mekah dan memasuki Ka’bah kemudian beliau mengatakan perkataan yang menunjukkan kwalitas diri “Kukatakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusus kepada saudara-saudaranya, ‘pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian’. Pergilah, karena kalian orang-orang yang bebas.” Demikian perkataan rosul dihadapan orang-orang yang dulu menyakiti, menghina, menfitnah, menghalangi dakwah Islam sementara kesempatan membalas dendam terbuka lebar. (Shofiyur Rohman Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, Jakarta Timur: Pustaka Al-kautsar, 1999, cet ke-7, hal. 532)
Sebagai penutup tulisan singkat ini, perlu saya angkat pendapat Lules Masserman tentang Nabi Muhammad alihi salam dengan pemimpin dunia lainnya. “Pemimpin harus memenuhi tiga fungsi: 1. Menyediakan kesejahteraan bagi pengikutnya, menyediakan organisasi social di mana rakyatnya merasa aman, dan menyediakan mereka suatu bentuk kepercayaan. Orang-orang seperti Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam fungsi yang pertama, orang-orang seperti Ghandi dan Confucius, di satu pihak, dan Alexander, Caesar, dan Hitler di pihak lain, adalah pemimpin yang memenuhi fungsi yang kedua atau mungkin yang ketiga. Yesus dan Budha memenuhi fungsi ketiga. Mungkin pemimpin yang terbesar sepanjang waktu adalah Muhammad yang mengkombinasikan ketiga fungsi. Untuk Kriteria yang sama, Musa menduduki tempat kedua.” Ahmad Deedat ….. hal. 168        
    

Senin, 21 Mei 2012

HUKUM ABORSI DALAM UU BARAT MODERN


HUKUM ABORSI DALAM UU BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Sebagian negara bagian Amerika seperti Colorado, California, Oregon, Mississippi dan negara-negara bagian lainnya telah membolehkan atau melegalkan aborsi sejak tahun 1970an. Negara-negara bagian itu menetapkan beberapa syarat izin aborsi antara lain, faktor kesehatan janin, kesehatan ibu, pemerkosaan, perzinaan dan lainnya. Jumlah aborsi antara tahun 2000-2005 menurut data Centers for Disease Control (CDC) mencapai angka 850.000 setiap tahunnya. Data ini merupakan aborsi yang dilakukan secara legal padahal aborsi yang dilakukan secara illegal juga berjumlah besar.[1] 
Berdasarkan data yang diambil antara 1987-1988, diketahui alasan-alasan perempuan melakukan aborsi. Alasan-alasan itu adalah:
a.       25.5% perempuan melakukan aborsi karena ingin menunda untuk memiliki anak
b.      21.3% perempuan melakukan aborsi merasa tidak bisa memiliki anak atau tidak bisa menjadi ibu
c.       14.1% perempuan melakukan aborsi karena pasangan tidak setuju memiliki anak
d.      12.2% perempuan melakukan aborsi karena merasa terlalu muda untuk memiliki anak
e.       10.8% perempuan melakukan aborsi karena takut pendidikan atau pekerjaannya terganggu
f.       7.9% perempuan melakukan aborsi karena tidak mau memiliki anak lagi
g.      3.3% perempuan melakukan aborsi karena faktor kesehatan janin
h.      2.8% perempuan melakukan aborsi karena faktor kesehatan ibu
i.        2.1% karena alasan yang lain[2]
Alasan-alasan perempuan di Barat melakukan aborsi lebih tepat dikategorikan sebagai pembunuhan. Dari sekian banyak perempuan yang melakukan aborsi, hanya sekitar 6% yang melakukannya karena faktor keselamatan janin maupun ibu, sedang selainnya adalah pembunuhan janin. Selain itu, legal abortion yang di prakasai para aktifis perempuan ini (feminis)[3] jelas merugikan kaum perempuan, karena mereka yang merasakan sakit sedangkan laki-laki tidak, bahkan laki-laki akan senang karena beban hidupnya hilang.
Pada pembahasan ini dapat diambil kesimpulan bahwa feminism dan Barat dengan segala ajarannya telah melanggar hak asasi manusia untuk hidup. Mereka memberi kebebasan pada perempuan untuk membunuh janinnya sedangkan Islam sangat menjaga kehidupan manusia baik ketika masih janin maupun sudah lahir.


[2] Ibid, lihat juga Ima Susilowati dalam Sosialisasi Gender Menjinakkan Takdir, di tempat dia praktek konseling, setiap bulan ada 25-30 remaja yang konsultasi antara meneruskan kehamilan atau menggugurkannya. Menurut Ima, sebagian besar memilih untuk menggugurkan kandungan dengan alas an ingin meneruskan pendidikan, ingin kerja, atau belum siap secara ekonomi dan mental. Hal. 187-189.
[3] Julia T. Wood, Gendered Lives (Communication, Gender, and Culture), United State of America: Wadsworth, 2009, hal. 71. Tokoh kelompok ini Sanger mendeklarasikan: A woman’s body belongs to herself alone. It is her body. It does not belong to the Church. It does not belong to the United States of America …. Enforced motherhood is the most complete denial of woman’s right to life and liberty. 

Selasa, 15 Mei 2012

REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM ISLAM DAN BARAT MODERN


REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM ISLAM DAN BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Dalam Islam, permasalahan reproduksi adalah permasalahan suami dan istri. Penundaan kehamilan seorang istri bukanlah hak mutlak seorang istri melainkan harus dengan persetujuan suami, sebagaimana seorang suami tidak boleh semena-mena menuntut anak kepada istri. Pada awal Islam, bahkan sampai pada abad ke-20, pencegahan kehamilan yang paling popular adalah dengan mempraktekan hubungan terputus (Azl). Menurut Thariq At-Thawari, faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan Azl dan sejalan dengan Syari’ah adalah; ketidak-inginan hamba sahaya perempuannya melahirkan seorang anak, ketidak-inginan isteri yang disetubui untuk mengandung ketika masih dalam proses menyusui karena dapat membahayakan anak yang sedang disusui, dalam keadaan darurat yang berkaitan dengan kondisi sang isteri, dan kondisi isteri yang menuntut untuk dilakukannya azl.[1]
Sedangkan reproduksi menurut Barat adalah hak mutlak seorang istri tanpa ada campur tangan seorang suami. Seorang istri diberi kebebasan untuk hamil atau tidak sedang suami tidak memiliki hak memerintah atau melarang. [2] Sebagai contoh adalah kisah Anne Taylor Fleming, penulis buku Motherhood Differed (1994). Dia mengatakan bahwa tubuhnya langsung mengerut ketika mendengar bisikan suaminya bahwa dia ingin memiliki anak. Sejak saat itu, Anne secara teratur mmenggunakan KB dengan ambisi ingin melindungi rahimnya dari janin.[3]


[1] Dikutip Mudzakir, Analisis bangunan Wacana lesbianisme Kaum Feminis Radikal, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III,  hal. 59   
[2] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit) Membincangkan Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997,  hal. 7. 
[3] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita. 2002. hal. 200

Senin, 14 Mei 2012

PERNIKAHAN LINTAS AGAMA MENURUT ISLAM


PERNIKAHAN LINTAS AGAMA MENURUT ISLAM
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Pandangan Islam tentang pentingnya agama melahirkan hukum pernikahan antara umat Islam dengan pemeluk agama yang lain.[1]Pernikahan lintas agama yang telah ulama rumuskan hukum dan syaratnya ini telah berjalan dalam peradaban dan undang-undang Islam selama berabad-abad. Pada masa sekarang ini, hukum pernikahan ini kembali marak dibahas dengan munculnya beberapa penulis yang mengaku muslim dan memunculkan sistematika baru untuk menghalalkan pernikahan lintas agama secara mutlak. Salah satu penulis itu adalah Suhadi yang menulis buku berjudul Kawin Lintas Agama Perspektif Kritik Nalar Islam.
Suhadi memakai metode yang sederhana ketika membolehkan pernikahan lintas agama. Pertama, dia meragukan bahwa Al-Qur’an murni wahyu dari Allah. Dia mengatakan bahwa penulisan wahyu banyak dipengaruhi oleh pemahaman dan kepentingan Nabi SAW dan para sahabatnya. Langkah kedua Suhadi adalah menetapkan hukum nikah lintas agama boleh secara mutlah karena Al-Qur’an yang melarang dan diyakini suci oleh umat Islam sebenarnya tidak suci dan sakral. Pendapat Suhadi yang bodoh ini hanya berlandasan pendapat pada Arqun tentang desakralisasi Al-Qur’an.[2]
Pendapat Suhadi yang diada-adakan ini sangat lemah sekali. Sebuah pertanyaan sudah cukup untuk menjatuhkan pendapat ini. Bagaimana seorang Arqun yang kebaikan, moral dan keilmuannya belum ada yang membuktikan kapasitasnya lebih dipercaya daripada orang pertama yang menerima wahyu, dibuktikan secara sejarah, serta terpercaya yaitu Nabi SAW? Jadi Suhadi berpendapat bahwa Nabi SAW berbohong sedang pendapat Arqun benar. Bagaimana firman Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 40-46 yang menceritakan kemurnian Al-Qur’an diragukan oleh teori Arqun. Allah berfirman:
“sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. (40) dan ia bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (41) dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu mengampil pelajaran darinya.(42) ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (43) dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami. (44) pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. (45) kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. (46). 
 Beberapa masalah pernikahan lintas agama yang akan disajikan dalam pembahasan ini, antara lain;
a.       Pernikahan perempuan muslimah dengan laki-laki non muslim.
Pernikahan lintas agama antara muslimah dengan non muslim yang sering terjadi pada akhir-akhir ini hukumnya haram. Ulama telah sepakat menetapkan haramnya pernikahan ini, baik laki-laki itu ahlu kitab maupun penyembah berhala.[3] Pendapat ulama ini berdasarkan surat al-Mumtahanah ayat 10.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan merekaa kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka…”
Pengharaman pernikahan antara muslimah dan laki-laki musryik juga Allah tegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 221.[4] Laki-laki musryik ini mencakup seluruh laki-laki yang tidak beragama Islam, baik mereka Yahudi, Kristen, Majusi, penyembah berhala atau seseorang yang telah murtad.[5]

b.      Laki-laki muslim dengan perempuan musyrik.
Para ulama sepakat mengharamkan laki-laki muslim menikah dengan perempuan penyembah berhala (musyrik) sampai mereka beriman.[6] Pengharaman pernikahan seorang muslim dengan perempuan musyrik Allah tegaskan dalam surat Al-Mumtanah ayat ke-sepuluh. Allah berfirman:
وَلا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِر
Artinya:
“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir…”
Ketika ayat ini turun, Umar langsung menceraikan dua istrinya yang masih kafir. Kemudian salah satu dari mantan istri Umar ini menikah dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang ketika itu ia masih kafir.[7]
Pengharaman pernikahan dengan seorang perempuan musyrik memiliki beberapa hikmah. Salah satu hikmahnya adalah seorang perempuan musyrik dengan segala potensinya akan mempengaruhi cara pandang dan keinginan seorang muslim untuk melakukan kemaksiatan, sedangkan Allah menyeru umat Islam untuk berusaha kearah surga-Nya.[8] 
c.       Laki-laki muslim dengan perempaun Ahlu Kitab
Pada dasarnya laki-laki muslim diperbolehkan menikahi perempuan Ahli Kitab.[9] Pendapat para ulama ini berdasarkan surat Al-Maidah ayat 5. Istilah Ahlu Kitab mencakup dua agama besar yaitu Yahudi dan Nashara.[10] Dalam perkembangan umat Islam di Indonesia, MUI dan Muhammadiyah mengharamkan pernikahan lintas agama. Pada tanggal 1 Juni 1980 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pengharaman kawin lintas agama. Pendapat MUI ini berdasarkan masalih al-mursalah, yakni demi kepentingan masyarakat Islam.[11]
Pendapat sama juga dikeluarkan oleh Muhammadiyah. Pendapat Muhammadiyah ini didasarkan pada kaidah saddu adz-dzara’I muqaddamu ‘ala jalbi al-maslahi (menghindari kerusakan itu harus didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan). Pemakaian kaidah ini berdasarkan realitas di masyarakat dimana agama anak biasanya mengikuti agama ibunya.[12]


[1] Salah satu ayat yang membahas ini adalah Al-Baqarah: 221 “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman.  Sungguh, hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan aya-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.
[2] Suhadi, Kawin linas Agama Perspektif Kritik Nalar Islam, Yogyakarta: LkiS, 2006, cetakan pertama, hal.76. dia berkata tentang penulisan Al-Qur’an: “Muhammad dan para sahabat benar-benar telah berperan di dalam ikut mengkontruksi model pesan wahyu yang akan dimunculkan dalam Al-Qur’an”. Lihat Mana’ Al Qathon, Fi Ulumil Qur’an, Beirut: Resalah Publisher. 1998, hal. 16. Ia mendefinisikan Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW dan menbacanya ibadah. Ulama telah sepakat bahwa Al-Qur’an adalah perkataan yang tidak ada campur tangan orang. Lihat juga tantangan Allah kepada manusia untuk mendatangkan surat saja seperti Al-Qur’an niscaya manusia tidak akan mampu. Lihat surat Al-Baqarah ayat:23
[3] Suhadi, Kawin linas Agama…, hal. 36. Lihat juga Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shohih Fiqhu As-Sunnah, Mesir: Maktabah At-Takwifiyah, tt, Juz Ketiga, hal. 93 
[4] “Dan janganlah kamu nikahkan orang musrik sebelum mereka beriman…” 
[5] Murtad adalah orang yang keluar dari agama Islam. Cakupan kata musrik yang mencakup seluruh orang yang tidak beragama Islam ini sebagaimana yang disampaikan Muhammad ‘Ali As-Shobuni, Tafsir Ayatul Al-Ahkam Min Al-Qur’an, Beirut: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1999, Jilid pertama, hal. 205
[6] Ibnu Rusyd, dalam Suhadi, Kawin linas Agama … hal. 37. Pendapat ulama yang mengharamkan pernikahan dengan orang-orang musryik penyembah berhala berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 221
[7] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shohih Fiqhu As-Sunnah, Mesir: Maktabah At-Takwifiyah, tt, Juz Ketiga, hal. 92
[8] Salah satu alasan pengharaman pernikahan ini Allah tegaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 221 dan diulas ulang oleh Muhammad ‘Ali As-Shabuni dalam kitab beliau, Tafsir Ayatul Al-Ahkam..., hal. 201
[9] Muhammad ‘Ali As-Shabuni, Tafsir Ayatul Al-Ahkam…, hal 203.
[10] Suhadi, Kawin Lintas Agama..., hal. 39.
[11] Suhadi, Kawin Lintas Agama..., hal. 46.
[12] Suhadi, Kawin Lintas Agama..., hal. 48.

Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS