Selamat datang di blog membangun peradaban. silahkan tulis kritik dan saran

Pages

Senin, 21 Mei 2012

HUKUM ABORSI DALAM UU BARAT MODERN


HUKUM ABORSI DALAM UU BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Sebagian negara bagian Amerika seperti Colorado, California, Oregon, Mississippi dan negara-negara bagian lainnya telah membolehkan atau melegalkan aborsi sejak tahun 1970an. Negara-negara bagian itu menetapkan beberapa syarat izin aborsi antara lain, faktor kesehatan janin, kesehatan ibu, pemerkosaan, perzinaan dan lainnya. Jumlah aborsi antara tahun 2000-2005 menurut data Centers for Disease Control (CDC) mencapai angka 850.000 setiap tahunnya. Data ini merupakan aborsi yang dilakukan secara legal padahal aborsi yang dilakukan secara illegal juga berjumlah besar.[1] 
Berdasarkan data yang diambil antara 1987-1988, diketahui alasan-alasan perempuan melakukan aborsi. Alasan-alasan itu adalah:
a.       25.5% perempuan melakukan aborsi karena ingin menunda untuk memiliki anak
b.      21.3% perempuan melakukan aborsi merasa tidak bisa memiliki anak atau tidak bisa menjadi ibu
c.       14.1% perempuan melakukan aborsi karena pasangan tidak setuju memiliki anak
d.      12.2% perempuan melakukan aborsi karena merasa terlalu muda untuk memiliki anak
e.       10.8% perempuan melakukan aborsi karena takut pendidikan atau pekerjaannya terganggu
f.       7.9% perempuan melakukan aborsi karena tidak mau memiliki anak lagi
g.      3.3% perempuan melakukan aborsi karena faktor kesehatan janin
h.      2.8% perempuan melakukan aborsi karena faktor kesehatan ibu
i.        2.1% karena alasan yang lain[2]
Alasan-alasan perempuan di Barat melakukan aborsi lebih tepat dikategorikan sebagai pembunuhan. Dari sekian banyak perempuan yang melakukan aborsi, hanya sekitar 6% yang melakukannya karena faktor keselamatan janin maupun ibu, sedang selainnya adalah pembunuhan janin. Selain itu, legal abortion yang di prakasai para aktifis perempuan ini (feminis)[3] jelas merugikan kaum perempuan, karena mereka yang merasakan sakit sedangkan laki-laki tidak, bahkan laki-laki akan senang karena beban hidupnya hilang.
Pada pembahasan ini dapat diambil kesimpulan bahwa feminism dan Barat dengan segala ajarannya telah melanggar hak asasi manusia untuk hidup. Mereka memberi kebebasan pada perempuan untuk membunuh janinnya sedangkan Islam sangat menjaga kehidupan manusia baik ketika masih janin maupun sudah lahir.


[2] Ibid, lihat juga Ima Susilowati dalam Sosialisasi Gender Menjinakkan Takdir, di tempat dia praktek konseling, setiap bulan ada 25-30 remaja yang konsultasi antara meneruskan kehamilan atau menggugurkannya. Menurut Ima, sebagian besar memilih untuk menggugurkan kandungan dengan alas an ingin meneruskan pendidikan, ingin kerja, atau belum siap secara ekonomi dan mental. Hal. 187-189.
[3] Julia T. Wood, Gendered Lives (Communication, Gender, and Culture), United State of America: Wadsworth, 2009, hal. 71. Tokoh kelompok ini Sanger mendeklarasikan: A woman’s body belongs to herself alone. It is her body. It does not belong to the Church. It does not belong to the United States of America …. Enforced motherhood is the most complete denial of woman’s right to life and liberty. 

Selasa, 15 Mei 2012

REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM ISLAM DAN BARAT MODERN


REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM ISLAM DAN BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Dalam Islam, permasalahan reproduksi adalah permasalahan suami dan istri. Penundaan kehamilan seorang istri bukanlah hak mutlak seorang istri melainkan harus dengan persetujuan suami, sebagaimana seorang suami tidak boleh semena-mena menuntut anak kepada istri. Pada awal Islam, bahkan sampai pada abad ke-20, pencegahan kehamilan yang paling popular adalah dengan mempraktekan hubungan terputus (Azl). Menurut Thariq At-Thawari, faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan Azl dan sejalan dengan Syari’ah adalah; ketidak-inginan hamba sahaya perempuannya melahirkan seorang anak, ketidak-inginan isteri yang disetubui untuk mengandung ketika masih dalam proses menyusui karena dapat membahayakan anak yang sedang disusui, dalam keadaan darurat yang berkaitan dengan kondisi sang isteri, dan kondisi isteri yang menuntut untuk dilakukannya azl.[1]
Sedangkan reproduksi menurut Barat adalah hak mutlak seorang istri tanpa ada campur tangan seorang suami. Seorang istri diberi kebebasan untuk hamil atau tidak sedang suami tidak memiliki hak memerintah atau melarang. [2] Sebagai contoh adalah kisah Anne Taylor Fleming, penulis buku Motherhood Differed (1994). Dia mengatakan bahwa tubuhnya langsung mengerut ketika mendengar bisikan suaminya bahwa dia ingin memiliki anak. Sejak saat itu, Anne secara teratur mmenggunakan KB dengan ambisi ingin melindungi rahimnya dari janin.[3]


[1] Dikutip Mudzakir, Analisis bangunan Wacana lesbianisme Kaum Feminis Radikal, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III,  hal. 59   
[2] Dadang S. Anshori, Engkos Kosasih, dan Farida Sarimaya (edit) Membincangkan Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997,  hal. 7. 
[3] Danelle Crittenden, Wanita Salah Langkah?: Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern, Bandung: Qanita. 2002. hal. 200

Senin, 14 Mei 2012

PERNIKAHAN LINTAS AGAMA MENURUT ISLAM


PERNIKAHAN LINTAS AGAMA MENURUT ISLAM
Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
Pandangan Islam tentang pentingnya agama melahirkan hukum pernikahan antara umat Islam dengan pemeluk agama yang lain.[1]Pernikahan lintas agama yang telah ulama rumuskan hukum dan syaratnya ini telah berjalan dalam peradaban dan undang-undang Islam selama berabad-abad. Pada masa sekarang ini, hukum pernikahan ini kembali marak dibahas dengan munculnya beberapa penulis yang mengaku muslim dan memunculkan sistematika baru untuk menghalalkan pernikahan lintas agama secara mutlak. Salah satu penulis itu adalah Suhadi yang menulis buku berjudul Kawin Lintas Agama Perspektif Kritik Nalar Islam.
Suhadi memakai metode yang sederhana ketika membolehkan pernikahan lintas agama. Pertama, dia meragukan bahwa Al-Qur’an murni wahyu dari Allah. Dia mengatakan bahwa penulisan wahyu banyak dipengaruhi oleh pemahaman dan kepentingan Nabi SAW dan para sahabatnya. Langkah kedua Suhadi adalah menetapkan hukum nikah lintas agama boleh secara mutlah karena Al-Qur’an yang melarang dan diyakini suci oleh umat Islam sebenarnya tidak suci dan sakral. Pendapat Suhadi yang bodoh ini hanya berlandasan pendapat pada Arqun tentang desakralisasi Al-Qur’an.[2]
Pendapat Suhadi yang diada-adakan ini sangat lemah sekali. Sebuah pertanyaan sudah cukup untuk menjatuhkan pendapat ini. Bagaimana seorang Arqun yang kebaikan, moral dan keilmuannya belum ada yang membuktikan kapasitasnya lebih dipercaya daripada orang pertama yang menerima wahyu, dibuktikan secara sejarah, serta terpercaya yaitu Nabi SAW? Jadi Suhadi berpendapat bahwa Nabi SAW berbohong sedang pendapat Arqun benar. Bagaimana firman Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 40-46 yang menceritakan kemurnian Al-Qur’an diragukan oleh teori Arqun. Allah berfirman:
“sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. (40) dan ia bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (41) dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu mengampil pelajaran darinya.(42) ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (43) dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami. (44) pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. (45) kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. (46). 
 Beberapa masalah pernikahan lintas agama yang akan disajikan dalam pembahasan ini, antara lain;
a.       Pernikahan perempuan muslimah dengan laki-laki non muslim.
Pernikahan lintas agama antara muslimah dengan non muslim yang sering terjadi pada akhir-akhir ini hukumnya haram. Ulama telah sepakat menetapkan haramnya pernikahan ini, baik laki-laki itu ahlu kitab maupun penyembah berhala.[3] Pendapat ulama ini berdasarkan surat al-Mumtahanah ayat 10.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan merekaa kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka…”
Pengharaman pernikahan antara muslimah dan laki-laki musryik juga Allah tegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 221.[4] Laki-laki musryik ini mencakup seluruh laki-laki yang tidak beragama Islam, baik mereka Yahudi, Kristen, Majusi, penyembah berhala atau seseorang yang telah murtad.[5]

b.      Laki-laki muslim dengan perempuan musyrik.
Para ulama sepakat mengharamkan laki-laki muslim menikah dengan perempuan penyembah berhala (musyrik) sampai mereka beriman.[6] Pengharaman pernikahan seorang muslim dengan perempuan musyrik Allah tegaskan dalam surat Al-Mumtanah ayat ke-sepuluh. Allah berfirman:
وَلا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِر
Artinya:
“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir…”
Ketika ayat ini turun, Umar langsung menceraikan dua istrinya yang masih kafir. Kemudian salah satu dari mantan istri Umar ini menikah dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang ketika itu ia masih kafir.[7]
Pengharaman pernikahan dengan seorang perempuan musyrik memiliki beberapa hikmah. Salah satu hikmahnya adalah seorang perempuan musyrik dengan segala potensinya akan mempengaruhi cara pandang dan keinginan seorang muslim untuk melakukan kemaksiatan, sedangkan Allah menyeru umat Islam untuk berusaha kearah surga-Nya.[8] 
c.       Laki-laki muslim dengan perempaun Ahlu Kitab
Pada dasarnya laki-laki muslim diperbolehkan menikahi perempuan Ahli Kitab.[9] Pendapat para ulama ini berdasarkan surat Al-Maidah ayat 5. Istilah Ahlu Kitab mencakup dua agama besar yaitu Yahudi dan Nashara.[10] Dalam perkembangan umat Islam di Indonesia, MUI dan Muhammadiyah mengharamkan pernikahan lintas agama. Pada tanggal 1 Juni 1980 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pengharaman kawin lintas agama. Pendapat MUI ini berdasarkan masalih al-mursalah, yakni demi kepentingan masyarakat Islam.[11]
Pendapat sama juga dikeluarkan oleh Muhammadiyah. Pendapat Muhammadiyah ini didasarkan pada kaidah saddu adz-dzara’I muqaddamu ‘ala jalbi al-maslahi (menghindari kerusakan itu harus didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan). Pemakaian kaidah ini berdasarkan realitas di masyarakat dimana agama anak biasanya mengikuti agama ibunya.[12]


[1] Salah satu ayat yang membahas ini adalah Al-Baqarah: 221 “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman.  Sungguh, hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan aya-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.
[2] Suhadi, Kawin linas Agama Perspektif Kritik Nalar Islam, Yogyakarta: LkiS, 2006, cetakan pertama, hal.76. dia berkata tentang penulisan Al-Qur’an: “Muhammad dan para sahabat benar-benar telah berperan di dalam ikut mengkontruksi model pesan wahyu yang akan dimunculkan dalam Al-Qur’an”. Lihat Mana’ Al Qathon, Fi Ulumil Qur’an, Beirut: Resalah Publisher. 1998, hal. 16. Ia mendefinisikan Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW dan menbacanya ibadah. Ulama telah sepakat bahwa Al-Qur’an adalah perkataan yang tidak ada campur tangan orang. Lihat juga tantangan Allah kepada manusia untuk mendatangkan surat saja seperti Al-Qur’an niscaya manusia tidak akan mampu. Lihat surat Al-Baqarah ayat:23
[3] Suhadi, Kawin linas Agama…, hal. 36. Lihat juga Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shohih Fiqhu As-Sunnah, Mesir: Maktabah At-Takwifiyah, tt, Juz Ketiga, hal. 93 
[4] “Dan janganlah kamu nikahkan orang musrik sebelum mereka beriman…” 
[5] Murtad adalah orang yang keluar dari agama Islam. Cakupan kata musrik yang mencakup seluruh orang yang tidak beragama Islam ini sebagaimana yang disampaikan Muhammad ‘Ali As-Shobuni, Tafsir Ayatul Al-Ahkam Min Al-Qur’an, Beirut: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1999, Jilid pertama, hal. 205
[6] Ibnu Rusyd, dalam Suhadi, Kawin linas Agama … hal. 37. Pendapat ulama yang mengharamkan pernikahan dengan orang-orang musryik penyembah berhala berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 221
[7] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shohih Fiqhu As-Sunnah, Mesir: Maktabah At-Takwifiyah, tt, Juz Ketiga, hal. 92
[8] Salah satu alasan pengharaman pernikahan ini Allah tegaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 221 dan diulas ulang oleh Muhammad ‘Ali As-Shabuni dalam kitab beliau, Tafsir Ayatul Al-Ahkam..., hal. 201
[9] Muhammad ‘Ali As-Shabuni, Tafsir Ayatul Al-Ahkam…, hal 203.
[10] Suhadi, Kawin Lintas Agama..., hal. 39.
[11] Suhadi, Kawin Lintas Agama..., hal. 46.
[12] Suhadi, Kawin Lintas Agama..., hal. 48.

ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA DI BARAT MODERN


ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA DI BARAT MODERN
Oleh, Warsito, S.Pd, M.P.I.

1.      Kedudukan Perempuan Sebagai Anak dalam Keluarga
Kedudukan perempuan sebagai anak dalam keluarga menurut feminis sejajar dan setara dengan anak laki-laki.[1] Tuntutan kesetaraan ini dipicu oleh anggapan bahwa perempuan adalah milik laki-laki. Sebelum menikah ia milik walinya dan setelah menikah ia milik suaminya.[2] Perlakuan Barat Klasik yang merendahkan perempuan juga terjadi di Perancis. Pada tahun 586 M, di Negara tersebut diselenggarakan muktamar yang membahas apakah wanita itu manusia atau bukan? Kemudian ditetapkan bahwa perempuan adalah manusia yang diciptakan untuk melayani laki-laki saja.[3]
Semangat Barat yang mengangkat derajat anak perempuan sebenarnya sejalan dengan semangat Islam yang tidak membedakan antara anak laki-laki dengan perempuan.[4] Semangat Barat yang mengangkat anak perempuan, sebagaimana disampaikan John Lock. Ia mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak asasi yaitu hak hidup, hak kebebasan, dan hak kebahagiaan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hal potensi rasionalitas.[5]
Kesetaraan antara anak laki-laki dan perempuan menurut feminis adalah persamaan diseluruh bidang.[6] Para feminis menuntut persamaan kedudukan antara anak perempuan dan laki-laki di mata orang tua dalam bersikap, cara berkomunikasi, mendidik, memberi mainan, dan menata ruangan. Jika orang tua berbicara dengan anaknya laki-laki dengan suara agak keras begitu juga sikap yang harus ditunjukkan kepada anak perempuan. Jika orang tua memberi mainan kepada anak laki-laki berupa pistol-pistolan maka anak perempuan jangan diberi mainan boneka. Para feminis berargumen bahwa perbedaan sikap ini akan mengabadikan perbedaan gender.[7]   
2.      Tugas atau Kewajiban Anak Perempuan dalam Keluarga
Tugas anak perempuan terhadap orang tua menurut ajaran fenimis terlepas seiring dengan diberlakukannya emansipasi anak. Ketika anak menginjak umur dewasa, maka orang tua berlepas tanggung jawab terhadap anak. Mereka (anak-anak dewasa di Barat baik laki-laki maupun perempuan) memiliki tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan pada saat yang sama mereka mendapatkan kebebasan secara menyeluruh. Orang tua tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang anaknya untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu.[8]
Emansipasi telah memutuskan hubungan anak dan orang tua. Keduanya tidak memiliki hubungan yang bersifat saling menjaga atau menanggung beban pihak yang lain. Keadaan seperti yang membuat para orang tua yang sudah memasuki usia senja begitu memperhatinkan khususnya para ibu-ibu yang sudah tua. Mereka ditinggal oleh pasangan mereka yang mencari perempuan yang lebih muda sedang anak mereka sibuk dengan kebutuhan hidup mereka sendiri.  Pada saat seperti ini, kaum wanita tua ini merasa kesepian, keadaan ini diperparah dengan tindakan kekerasan oleh pasangan mereka.[9]   
3.      Hak Anak Perempuan Dalam Keluarga menurut Ajaran Feminis
Seorang anak memiliki hak-hak yang dilegalkan oleh undang-undang. Hak-hak itu adalah:
(a)    Seorang anak berhak mendapatkan pengasuhan dan biaya pendidikan sebelum umur antara 18-21. Tetapi bagi anak yang berumur 16 tahun dan telah bekerja penuh waktu maka ia bisa meminta kebebasan atau lepas kontrol orang tua.[10]
(b)   Hak mendapatkan kebebasan melakukan hubungan seksual di luar nikah ketika menginjak usia dewasa.[11] Sebelum tahun 1885, penetapan pembolehan hubungan seksual adalah ketika seorang gadis menginjak dewasa dan ini ditandai dengan tumbuhnya bulu kemaluan. Pada tahun 1920, pemerintah menetapkan umur bolehnya hubungan seksual adalah 16 tahun. Ada dua pengecualian tentang hukum ini; Pertama, seseorang yang berumur 14-15 tahun boleh melakukan hubungan seks dengan patner yang berumur di bawah 15 tahun. Kedua, seseorang yang berumur 12-13 tahun boleh melakukan seks dengan patner yang berumur kurang dari 12 tahun. Pengecualian hukum ini di Amerika disebut hukum Romeo dan Juliet.[12]  
(c)    Seorang anak berhak menuntut emansipasi[13] ke pengadilan. Sari M. Friedman memberi contoh kasus emansipasi yang terjadi di Barat. Seorang gadis yang meninggalkan rumah orang tua setelah melawan keinginan orang tua dan kemudian tinggal bersama pacarnya.[14]


[1] Lihat Julia Cleves Mosse Gender &...., hal 1. Dia mengkritisi pandangan masyarakat yang lebih menyukai kehadiran bayi laki-laki dari pada bayi perempuan.  
[2] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam wa al-Qowanin al-Alamiyah, Kuawit: Dar al-Wafa’2003, hal 12
[3] Salim Bahnasawi, Al Mar’ah baina al Islam…, hal. 12
[4] Lihat an-Nahl ayat 59-59, ayat ini mengecam sikap masyarakat yang tidak senang dengan kelahiran bayi perempuan“Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. (58) Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan.” Lihat juga Al-Khujurat ayat 13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Islam menjadikan kesamaan laki-laki dan perempuan sebagai cita-cita. Kesetaraan dan kesamaan dalam Islam memiliki makna proposional dimana dalam kesamaan terdapat perbedaan tugas dan kewajiban yang sesuai dengan karakter dua jenis manusia itu sendiri. Lihat Muhammad Haekal Hakim, Konsep Keserasian Gender dalam Al-Qur’an, PKU – ISID GONTOR Periode III, hal. 130 
[5] Munir, Problem Pola Relasi Gender Kaum Feminis, kumpulan Hasil Kajian Program Kaderisasi Ulama. PKU – ISID GONTOR Periode III, hal.. 8
[6] Sikap menomorduakan perempuan sebenarnya masih terjadi di Barat Modern. Sebagai contoh tentang perlakukan yang menomor-duakan perempuan adalah pelayanan kesehatan Amerika yang kurang peduli terhadap kesehatan perempuan. Penyakit Kardiovaskuler adalah penyakit yang membunuh setengah juta wanita di Amerika. Meskipun memakan korban wanita yang banyak, hampir seluruh studi mengenai penyebab dan pengobatan penyakit Kardiovaskuler dilakukan hanya pada pria. Sebagai contoh adalah, studi physician aspirin dosis rendah harian dalam pencegahannya melibatkan 22.071 pria dan tak seorang pun wanita. Marge Koblinsky (edit), Kesehatan Wanita sebuah Perspektif Global, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1997, cet pertama, hal. 252.
[7] Lusi Margiyanti dan Moh Yasir Alimi (edit), Sosialisai Gender Menjinakkan “Takdir”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, hal. Pendahuluan editor
[8] http://www.sarilaw.com/Articles/Child_Support/When_is_My_Child_Emancipated. aspx
[9] Lihat Dr. Said Romadhan, Perempuan antara kezaliman…, hal. 30-33. Dia mengatakan bahwa perempuan akan dicampakkan ketika gairah seksualnya hilang pada saat yang sama anak mereka juga tidak mau merawat. Akhirnya mereka pergi ke panti jompo.
[10] Sari M. Friedman, WHEN IS MY CHILD EMANCIPATED,http://www.sarilaw.com/ Articles/ Child_Support/   When_is_My_Child_Emancipated.aspx
[11] Shahid Athar, Bimbingan Seks bagi …., hal. 7.
[12] http://www.abortionrights.org.uk/index.php?option=com_content&task=view&id= 18&Itemid =44
[13] Emansipasi adalah hak untuk hidup mandiri tanpa campur tangan orang. Di Barat, umur yang lazim anak atau bahkan orangtua untuk berpisah adalah antara 18-21. http://law.jrank.org/pages/9023/Parent-Child-Emancipation.html#ixzz1VjnFZ2uc
[14] http://www.sarilaw.com/Articles/Child_Support/When_is_My_Child_Emancipated.aspx


Pendidikan Tinggi Bahasa Arab

Kegiatan Dakwah Masjid Zakaria

Info UMS